
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...P e s a n...
...___________________...
...__________...
..._____...
..._...
"Lagi?" beo Davian tak habis pikir, dia menatap dalam selembar surat yang berada tepat ditangan Eva. Wanita itu mengangguk mantap membuat Davian menghela napas panjang, lelaki itu membenarkan posisi ujung dasinya.
"Memang ini zaman apa? Kenapa kakek terus-terusan mengirimi surat?" keluh Davian, dia mencoba mengabaikan semampu dia tapi semenjak lelaki tua itu mengetahui alamat tempat Davian dan Eva tinggal—pria tua ini malah gencar mengirim pesan lewat surat. Apa dia tidak kasian dengan tukang pos yang harus bolak-balik mengantarkan selembar surat setiap paginya? Sepertinya tidak.
Sudah lebih dari 2 pekan rasanya Davian seperti diteror oleh tumpukan kertas itu. Bahkan ketika awal-awal Davian membaca isi surat yang diberikan sang kakek padanya; membuat lelaki berkacamata itu melotot tak percaya karena sang kakek hanya menanyakan bagaimana kabar mereka! Intinya adalah satu lembar surat berisi pesan singkat itu seharusnya bisa dilakukan lewat handphone! Arghhh! Menyebalkan.
"Boleh ku balas Davian?"
Ini lagi anak. Ada apa dengan dia? Davian menggeleng tak percaya, asal kalian tahu Eva—dia selalu meminta izin pada Davian untuk membalas isi surat dari kakeknya, tak heran kalau pria paruh baya itu semakin giat menyuruh tukang pos mengantarkan surat ke alamat mereka.
"Lakukan sesuka mu saja Eva..." ucap Davian, lebih baik dia berangkat ke kantor dari pada terlambat. Lelaki itu menggapai tas kerja yang bertengger manis diatas nakas ruang tamu lalu berjalan cepat menuju pintu utama apartemen.
"Aku berangkat dulu Eva!" serunya lantang sebelum benar-benar beranjak. Eva menilik, bibirnya tersenyum lebar—sambil melambai wanita itu berkata,
"Hati-hati!" sahut Eva manis.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Apa dia sudah pergi?" tanya sang kakek yang tiba-tiba muncul dengan menggunakan kekuatan teleportasi miliknya.
"Sudah kek!" sahut Eva bersemangat, wanita itu melangkah menuju kursi—mempersilakan lelaki tua itu untuk duduk.
"Kondisi kakek terlihat lebih baik dari pada sebelumnya..." ucap Eva basa basi, dia kemudian berlenggang menuju dapur untuk membuatkan minuman herbal. Lelaki yang bernotabe kakek dari Davian itu tersenyum simpul, senang melihat menantunya bergerak lincah membuatkan sesuatu untuk dirinya yang renta ini.
"Apa kau yakin tidak mau memberitahu Davian siapa diri mu yang sebenarnya?"
Tiba-tiba pertanyaan itu membuat Eva terdiam, dia menatap dalam bayangan wajahnya diatas air yang ia seduh. Wanita itu lalu tersenyum, dia mengangkat cup gelas berisi minuman herbal yang dia buat lalu menyerahkannya pada sang kakek.
"Saya memang dia kakek tapi kami berdua itu berbeda secara nyata... " Eva diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Sang kakek yang merupakan figur pendengar menyeruput sedikit minuman herbal beraroma bunga didepannya.
"Tapi Eva, biar bagaimana pun—kau tetaplah Reva... entah itu reinkarnasi atau apa, Davian mungkin akan senang saat tahu kau tidak benar-benar menghilang dari kehidupnya... dia mencintai mu..."
"Terima kasih kakek—" ucap Eva gantung sambil menundukkan kepala. Dia menatap ujung kaki yang menapaki ubin lantai, terdengar wanita itu menghela napas gusar.
Kakek Davian membisu, dia tidak ingin mengerti tapi dia perlu mengerti; aneh. Kali ini bergantian, lelaki tua yang duduk berhadapan dengan Eva itu menghela napas panjang.
"Lalu apa yang bisa ku bantu untuk mu Eva?" Sambil tersenyum pahit Eva mendongak, dia membalas tatapan yang diberikan oleh kepala keluarga utama hazel padanya. Terlihat bibir pucat milik wanita itu terbuka, terdengar untaian kata dari wanita itu—
"Bisa tolong lepaskan simbol ini pada saya kakek?" ucapnya seraya menunjukan tato pada bagian perutnya. Sang kakek melotot tak percaya, Eva melanjutkan kalimatnya.
"Dan pastikan tidak ada rasa sakit yah kakek..." cicit Eva agak trauma, mengingat lagi momen ketika Davian memasang simbol pengekang itu.
Arghh~ menyeramkan.
...***...
Davian melakukan peregangan otot, lelaki itu cukup lelah karena harus duduk seharian penuh dikantor bahkan dia sampai lupa untuk makan siang. Seharusnya Davian minta dibuatkan bekal oleh Eva saja, melihat jam tangan yang berada dipergelangan; sudah cukup larut, batin lelaki itu. Dia berdiri dari kursi lalu membereskan meja—saatnya pulang tapi tiba-tiba pergerakan Davian tertahan karena sebuah pesan masuk dilayar handphonenya. Lelaki itu kembali duduk, dia cukup jarang menggunakan benda itu; paling Eva yang sering menggunakannya untuk bermain game. Davian lihat isi pesan tanpa nama pengirim, sebelah alis lelaki itu terangkat—seperti pesan anonim.
Tanpa ragu lelaki dengan wajah berbingkai kacamata ini membuka isi pesan itu tapi alangkah terkejutnya dia saat membacanya.
^^^Davi?^^^
__ADS_1
Dia bergegas beranjak dari sana sambil membawa tas kantornya, pesan singkat itu. Davian cukup tahu siapa yang mengirimnya—satu-satunya orang yang dengan berani memanggil Davian seperti itu pasti tidak lain dan tidak bukan adalah Gedion. Kakaknya.
Saat berada dilantai dasar dari kejauhan Davian melihat siluet pria yang menungguinya tepat dipinggir jalan dengan tampang acak-acakan. Ada apa dengan Gedion? batin Davian penasaran pada lelaki yang dikabarkan menghilang beberapa waktu lalu.
Tanpa basa basi Davian langsung menghampirinya sambil berucap, "ada perlu apa kau tiba-tiba muncul Gedion?"
Lelaki dengan usia terpaut jauh dari Davian itu menoleh, lirikan mata hazelnya tajam. Ada janggut tipis tumbuh di dagu lelaki itu, tatapannya kosong. Persis seperti seseorang yang tengah mengalami depresi berat, lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul dalam benak Davian.
Ada apa dengan Gedion? Kenapa dia terlihat putus asa?
"Kau perlu sesuatu?" tanya Davian canggung, Gedion diam tanpa bicara lelaki itu hanya menatap dalam manik hitam dari adiknya lalu tiba-tiba lelaki yang selalu Davian kenal dengan sifat jahilnya menitikkan air mata.
Davian menganga gak percaya, beberapa pasang mata mulai memperhatikan Davian dan Gedion.
"Apa dia menganiaya tunawisma itu?"
Hah?
Telinga Davian tergelitik, dia menatap horor karena beberapa orang mulai berbisik yang tidak-tidak ditambah sosok kakaknya ini malah semakin gencar menangis tersedu-sedu. Tak ingin dituduh macam-macam Davian mencekram kuat bahu Gedion, sudut bibirnya berkedut jengkel sambil berusaha mempertahankan senyum.
"Kita cari tampat yang tenang lalu bicara kakak..." geram Davian, memanggil dengan bahasa sopan yang jarang sekali dia gunakan. Gedion yang mendengar bereaksi, lelaki dengan tampang memperihatinkan itu membuka mulutnya.
"Istri ku kabur."
LALU APA URUSANNYA DENGAN KU!
ARGH!
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1
...:3...