
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...L a r i...
...____________________...
...__________...
..._____...
..._...
"HOSH! HOSH! HOSH!"
Eva maupun Zim berlari sekuat tenaga, mereka pikir musuh sebenarnya yang mereka hadapi adalah para bandit tapi nyatanya tidak. Kelabang landak, Eva tak tahu harus mendeskripsikan makhluk itu seperti apa yang pasti dia mengerikan.
"Lain kali jangan coba-coba menbuat aku jantungan Ève?!" Tegur Zim kesal, Eva yang berlari tepat dibelakang macan kumbang itu meringis.
"Bukannya kau yang menyuruh ku untuk memprovokasi?! Siapa kira itu monster tingkat tinggi?!" Sahut Eva tidak terima disalahkan.
"Tapi tidak dengan pura-pura mati?! Gunakan cara lain!"
Jika kalian ingin tahu kenapa situasi mereka bisa berakhir seperti ini? Ringkasnya begini—usai Eva berakting terkena anak panah lalu pura-pura mati; hal itu membuat Zim panik. Pergerakan acak dari anak panah tidak lagi bermunculan, Eva pikir dia berhasil memancing para bandit itu keluar dari persembunyian mereka dengan dalih untuk memeriksa para korban yang sudah terpojok. Sambil berpura-pura diatas pangkuan macan kumbang yang panik Eva malah menyaksikan sesuatu yang amat luar biasa.
Rasanya wanita itu ingin menangis saat melihat makhluk seperti kelabang namun punggungnya diisi oleh duri berbentuk anak panah dengan ukuran tak wajar. Alih-alih meneruskan akting Eva lebih memilih untuk kabur, tanpa memberi aba-aba wanita itu langsung bangkit lalu berlari kencang sambil membawa ransel punggung miliknya meninggalkan Zim. Bahkan macan kumbang itu hanya mampu melongo tak percaya melihat punggung Eva yang menjauh sampai dia menyadari situasi apa yang menimpa mereka; Zim tersenyum hambar.
Jahat sekali kau Ève?! KAU MENINGGALKAN AKU! Hiks.
__ADS_1
Otaknya merutuki tindakan sepihak Eva yang meninggalkannya; memilih mengambil langkah seribu sambil membawa tas petualang miliknya—Zim mencoba menyusuli Eva. Dan begitulah yang terjadi, mereka berakhir saling kejar dengan kelabang besar dibelakang meraka. Selain itu kedua orang ini harus tetap menghindar dari panah random yang sesekali makhluk itu keluarkan. Haha, lengkap sudah.
"Apa kau tidak ada ide Zim?! Untuk mengalahkan makhluk itu?!" Teriak Eva kencang, ya ampun dada wanita ini mulai sesak gara-gara terlalu lama berlari. Sudah berapa jam mereka dalam situasi begini? Zim melirik sebentar, macan kumbang itu lalu berkata pada Eva.
"Sulit untuk menghadapi makhluk tingkat tinggi jika hanya kita berdua yang melawannya, yang ada kita akan mati?!"
Kenyataan yang menyakitkan.
Benar-benar tidak ada harapan. Eva ingin muntah, wanita itu tidak sanggup lagi. Melihat wajah pucat milik Eva Zim melambatkan langkah kakinya lalu menunduk; layaknya hewan yang berjalan menggunakan 4 kaki mereka didunia manusia, Zim terlihat menggemaskan dimata Eva.
"Naik ke punggung ku Ève!" Pinta Zim. Tak ada niatan untuk menolak, Eva langsung menunggangi punggung macan kumbang itu seenak jidatnya. Zim mempercepat langkah kaki miliknya, memperlebar jarak dari makhluk besar yang masih berusaha keras untuk mengejar mereka.
Beberapa kali melewati pepohonan besar, agaknya mereka sudah memasuki kawasan bagian selatan. Luar biasa.
"Zim coba lihat?" Tiba-tiba Eva berbisik di dekat telinga macan kumbang tersebut. Sambil mengalihkan pandangan Zim melihat objek yang sedang ditunjuk oleh wanita diatas punggungnya. Sebuah celah batu mirip tebing dengan ukuran sempit. Mungkin Eva belum menjelaskan maksud kenapa dia menunjuk benda itu tapi agaknya Zim bisa memahaminya tanpa harus dijelaskan. Macan kumbang itu memutar haluan menuju arah batu tersebut, Eva yang dirasa sudah cukup beristirahat melopat dari punggung Zim lalu berlari disamping kucing besar tersebut.
"Kita serang dua arah, kau urus bagian depan Zim aku bagian belakang. Pastikan dia terperangkap dicelah batu itu!"
Zim mengangguk, makhluk itu memperlambat langkah agar bisa memancing si kelabang masuk kedalam perangkap dadakan milik mereka. Berbeda dengan Eva, wanita itu berjalan ketebing—diatas batu dengan gerakan cepat. Dia lalu bersembunyi menunggu Zim menyelesaikan tugasnya untuk membuat makhluk besar berkaki banyak itu terperangkap. Karena fokus kelabang sudah teralihkan betul oleh Zim, lelaki ini berlari di cela sempit antara 2 baru besar sambil berharap kalau rencana mereka akan sukses.
SLASP!!
Tiba-tiba sebuah batu besar seukuran celah tersebut muncul. Zim melotot tak percaya ketika melihat Eva melempar benda itu susah payah, terdengar pekikan aneh dari arah kelabang.
BUGH!
"ERGHHH!" Zim memanjat keatas celah. Punggung berduri milik kelabang itu melepaskan ribuan anak panah karena respon alami mereka. Sambil menangkis serangan dengan pedang, Zim bergerak menuju Eva lalu melindungi wanita itu yang terlihat kelelahan.
"Di luar rencana..." kekeh Eva hambar. Meski berbeda dengan rencana awal, setidaknya makhluk itu sudah terperangkap.
"Bisa kau urus dia sendirian Zim? Aku kehabisan tenaga..." pinta Eva. Mau tak mau macan kumbang itu mengangguk, Eva tersenyum kecil sebelum kehilangan kesadarannya. Wanita ini sempat ingin menggunakan kekuatan mahkota bunga tapi tak bisa, dia tak ingin Zim menaruh curiga padanya alhasil wanita itu hanya menggunakan kekuatan murni yang dia miliki untuk mengangkat batu besar tadi—ditambah dia cukup panik sebelumnya, jadi tanpa sadar dia berhasil mengangkat benda itu dengan tangan kosong meski setelahnya pingsan.
Bugh!
Wanita itu terjatuh tak jauh diantara kaki Zim. Macan kumbang yang ditinggal sendiri harus memutar otak untuk membunuh makhluk tingkat tinggi didepannya ini.
__ADS_1
Hiks... hiks...
Semangat Zim jangan sampai mati.
Mudah untuk bicara. |
...***...
Brugh!
Zim terjatuh tepat disamping Eva yang masih tak sadarkan diri. Akhirnya selesai, tubuh eksotis makhluk itu dipenuhi oleh darah kelabang. Perlu 5 jam untuk kucing ini agar bisa membunuh monster tingkat tinggi seorang diri, sungguh pencapaian yang luar biasa. Selama dia jadi petualang tak pernah sekali pun dia dan kelompok petualang lain melakukan tindakan sembrono seperti ini, pantaskah disebut sebagai upaya bertahan hidup atau hanya sekedar nekat? Zim tak tahu, yang pasti dia sudah cukup mencincang habis tubuh kelabang itu hingga hancur dan memastikan kalau dia tak akan bisa hidup lagi.
TAK AKAN PERNAH!
"Kau membuat ku berkerja keras Ève.." keluh Zim. Sedikit tidak terima karena diberi tugas seorang diri membunuh kelabang itu tapi tak apa karena situasi sudah terkendali. Macan kumbang itu menoleh, wajahnya cukup dekat dengan topeng milik Eva.
Sekilas Zim berpendapat kalau wajah Eva itu cantik, untuk ukuran bangsa Sribër yang tertutup dan tinggal di pelosok bagian barat. Tanpa sadar tangan dari kucing hitam itu terangkat; bergerak menuju topeng serigala yang dikenakan Eva. Mungkin terlihat lancang tapi Zim hanya ingin merasakan bulu halus milik Eva yang selalu dia panggil dengan sebutan Ève.
Ya meski kucing besar itu akhirnya terkejut bukan main karena menyaksikan sesuatu.
DEG!
"Manusia?" Desisnya tak percaya, melihat wajah asli Eva yang sebenarnya.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...