
...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa vote, like & comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...___________________________________...
...L e l a k i—M e n y e b a l k a n...
...___________________________________...
..._______________________...
...______________...
..._______...
...___...
..._...
"Fush~" Reva membuang napas lelah. Setelah kepergian Davian, gadis itu melirik tubuh Josan yang terkulai tak sadarkan diri dilantai rumahnya.
Harus dia apakan lelaki biadab ini? Batin gadis itu seraya memijat keningnya—pening. Reva berjalan mendekat, dengan tubuh kecil dan kekuatan seadanya Reva mencoba menyeret tubuh Josan menuju sofa.
"Bugh!" Dibaringkan kasar Josan tepat diatas sofa, persetan soal kemungkinan lelaki akan terluka. Lagi Reva mengembuskan napas lelah, gadis itu melangkah ke dapur.
Dia perlu minum sesuatu; rasanya tubuh Reva mengalami kelelahan ekstrem karena perisitiwa aneh yang terjadi beberapa menit lalu. Gadis itu mengambil air putih dikulkas, tak perlu cangkir; dia langsung meminumnya dari botol penyimpanan.
__ADS_1
"Hah~" hela napas lega terdengar setelah meminum air bebarapa teguk. Usai minum dia tiba-tiba termenung, banyak hal terpikirkan oleh otaknya.
Soal dia yang bisa-bisanya termakan oleh aura negatif dan menimbulkan fenomena astral.
Sosok aneh pembawa lentera.
Kemarahan Davian; serta kengerian yang mampu dilakukan lelaki pemilik hazel itu.
Reva menutup daun kulkas. Dia berbalik. Matanya tertuju pada pintu masuk menuju ruang tamu—tempat Josan berada.
Sekarang dia harus apa terhadap lelaki bajingan yang berstatus tunangan secara nyata dengannya ini?
Seburuk-buruknya Davian, Josan adalah yang terburuk diantara semua sifat gila Davian. Reva mulai bergerak, melenggangkan kaki menuju tempat Josan berada. Terlihat dimata Reva, sosok menggeliat Josan.
Rupanya lelaki itu sudah sadar.
Setengah hati, Reva duduk diseberang tempat Josan. Memperhatikan Josan yang mencoba memulihkan kesadarannya secara optimal. Kali ini Reva bisa mengontrol perasaan bencinya.
"Argh..." Erang Josan. Tangannya terangkat memijat kening. Apa ini? Kenapa rasanya kepala dia sakit sekali? Seperti ada yang memukul tepat dibagian situ.
"Jika kau sadar sepenuhnya, bisa tolong pergi dari rumah ku... karena aku sudah terlalu muak menghadapi mu Josan..." Ucap Reva datar. Josan yang mendapat teguran, mencari sosok Reva begitu kesadarannya benar-benar pulih. Wajah dingin khas milik Reva terlihat.
Tanpa ingin berbasa-basi, Josan berdiri sempoyongan.
Kepalanya masih sakit dan dia tidak ingin berdebat dengan Reva untuk saat ini. Mau tak mau Josan menurut. Sebelum benar-benar beranjak, lelaki itu buka suara.
"Aku akan datang lagi..." ucapnya lalu melangkah pergi. Reva hanya diam, tidak tertarik mengantarkan Josan meski sampai diteras rumah. Batin Reva malah merong-rong menjawab ucapan Josan.
Awas saja kau kembali! Sialan?!
Reva tidak penerima tamu, apa lagi itu kau! JOSAN!
__ADS_1
Dirasa keberadaan Josan sudah lenyap. Reva menghela napas lega. Setengah tubuhnya disandarkan pada sofa. Reva mulai terpejam.
Tubuhnya lelah.
Batin pun begitu.
Keduanya sama lelahnya.
Hari-hari yang dilalui Reva berubah total. Banyak kejadian aneh, unik hingga menyeramkan menimpa gadis itu. Jika orang lain mendengar ini, mereka seratus persen tidak akan percaya dengan cerita Reva.
Ini semua seperti kebohongan.
Yang sialnya menjadi kenyataan dikehidupan Reva.
"Fush~"
Napas teratur mulai terdengar disela mulut Reva. Kepalanya tertunduk dengan mata terpejam. Gadis itu terlelap. Perlahan masuk alam mimpi—yang terlihat indah.
Tidak peduli terhadap kejadian apa lagi yang akan menimpanya dikemudian hari.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa lika, vote & comments......
...Terima kasih,...
...Bye...
...:3...
__ADS_1