
...Cerita bersifat fiksi/karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...______________________________...
...P e n g a k u a n...
...______________________________...
...__________________...
..._________...
...___...
..._...
Plak!
Davian menampar keras pipinya sendiri, pikiran tak senonoh apa yang sedang dia pikirkan. Sungguh tidak beradab; mencuri sebuah kecupan kecil dari gadis yang bahkan sedang tak sadarkan diri? Hah! Benar-benar seperti bajingan.
Davian menyimpan kembali tangannya seraya menghela napas kasar, pikiran lelaki itu jadi sedikit kalut—panas dingin rasanya. Lelaki ini bukan berumur labil, dia mengerti apa itu urusan berahi manusia dewasa. Hallo? Kalian menganggap Davian apa?
__ADS_1
Argh! Sebal.
Kasar, Davian menyapu wajahnya dengan telapak tangan; coba meredam sensasi aneh yang bisa membuat lelaki itu kehilangan akal sehat lalu merubahnya jadi serigala yang haus akan darah—siap menerkam siapa saja. Dalam konteks lain, tentunya. Ha-ha |
"Tch!" decihan ringan terdengar dari bibir lelaki bermanik hazel di samping Reva. Lelaki itu menyandar di kepala ranjang, matanya terpejam. Samar-samar ingatan tentang kejadian yang sudah berlalu muncul diotak Davian—sungguh hari yang panjang dan siapa kira akan berakhir tenang seperti ini. Setengah berbaring diatas ranjang bersama Reva yang terlelap; enggan membuka mata. Damai dengan bunga-bunga mimpi yang entah apa itu.
Kelopak mata Davian terbuka pelan, lelaki itu melirik. Wujud Reva terlihat sangat indah dipandangan hazel. Debar jantung tak karuan terdengar lagi; betapa gelisahnya benda itu.
Sejenak Davian termenung, bayangan Reva memantul di nyalanya manik hezel. Bibir yang sedari tadi terkunci rapat mulai membelah, ucapan samar terdengar.
"Aku menyukai mu,"
Pelan, sarat akan makna—di tujukannya pada gadis bermanik kelam.
Davian merasa malu, wajahnya panas. Rona merah muncul dimana-mana hingga kebagian tengkuk belakang lelaki itu. Pengakuan memalukan apa ini?
"Konyol!" desisnya sendiri, menutup semua wajah dengan telapak tangan. Seharusnya Davian lebih berusaha menyangkal perasaan ini sehingga tidak berkembang menjadi sebesar taman penuh hamparan bunga yang indah.
Tapi meski begitu— |
Rona merah berangsur hilang, selain mengingat rasa sukanya pada sang istri. Lelaki itu tak menyangkal perlakuan buruknya dulu pada Reva, Davian tidak menyesal melakukan itu. Semua hal jahat yang dilakukannya adalah untuk mendorong Reva menjauh pada dunia mengerikkan milik Davian.
Memang seperti negeri dongeng, keajaiban dan fantasi dimana-mana tapi itu hanya kulit luarnya saja. Masih banyak kisah gelap lainnya yang belum terungkap, Reva manusia biasa. Hanya sedikit keistimewaan yang dimilikinya sehingga mampu bersanding pada bencana seperti Davian.
Ini saja sudah seperti keajaiban.
Davian ingin Reva pergi sebelum lelaki hazel itu menghancurkannya tapi yang kalah dalam pertarungan adalah Davian. Lelaki ini menyerah, dia pasrah, dia serakah. Tak ingin menyangkal apapun lagi. Dia ingin Reva—Reva berada pada genggam tangannya.
__ADS_1
Sekilas manik emas muncul disela waktu.
"Maaf, semua perilaku kasar ku..." bisik Davian pada Reva yang tak sadarkan diri.
"Aku sudah menyerah," ucapnya menggantung. Tangan itu mulai bergerak nakal, dia kembali mengelus lembut pipi Reva. Meresapi permukaan halus dengan telapak tangan kasarnya.
"Aku ingin memilik mu—" sebuah kejujuran terungkap dari bibir itu.
Seutuhnya |
Tapi—
"Sudi 'kah kau? Reva." tanya Davian pelan, bersama heningnya keadaan.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments-nya......
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1