Crazy Baby

Crazy Baby
Masakan


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...______________________...


...M a s a k a n...


..._______________________...


...____________...


..._____...


..._...


"Bagaimana cara mu masuk?!"


Wanita itu terkekeh sambil menunjuk.


"Lewat pintu."


Davian menepuk jidat, seingat lelaki itu dia sudah mengunci pintu depan; sangat mustahil seseorang dapat masuk kecuali dia membobol pintunya.


"Aku akan benar-benar menelepon polisi nona," ucap Davian dengan nada intimidasi. Lelaki itu menatap tajam wajah wanita didepannya tapi respon yang di dapat Davian diluar harapan. Wanita itu mengangkat bahu acuh sambil berdiri, dia tersenyum kearah Davian.


"Cepatlah bersiap tuan, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita... hehe..." ucapnya santai yang berhasil membuat mata Davian melotot. Wanita itu berbalik lalu melangkah menjauh—meninggalkan Davian seorang diri didalam kamar.


Tangan Davian mengepal, dia mencoba sabar dengan raut muka jengkel bukan main. Selain membobol masuk apartemen seseorang wanita asing itu ternyata menggunakan dapur Davian tanpa izin, luar biasa; ini masuk dalam tindakan kriminal tidak?


"Hah~" Davian menghela napas lelah. Ini masih pagi tapi kepalanya sudah berdenyut sakit, mari abaikan dulu masalah ini—lebih baik bersiap agar tidak terlambat ke kantor. Davian lalu beranjak dari tempat tidurnya masuk menuju kamar mandi, ayo guyur kepala ini dengan air dingin agar bisa berpikir jernih.


...***...

__ADS_1


"Tada~" Davian menampilkan wajah datar dengan tangan yang masih memegang cup gelas berisi coklat panas.


Wanita tanpa nama didepannya ini terlihat lihai mengobrak-abrok dapurnya; menyajikan terus menu sarapan pagi ke-meja makan Davian. Saat selesai mengisi seluruh sudut meja wanita itu lalu duduk di seberang Davian, tersenyum dengan mata berbinar seolah puas pada maha karya miliknya.


"Selamat makan!" seru dia tanpa peduli pandangan aneh Davian. Seperti tak pernah makan saja wanita itu benar-benar lahap, melihat itu membuat Davian menghela napas pasrah. Lelaki dengan kecamatan ini akhirnya menyerah dan ikut makan dengan wanita itu.


Rasa masakan yang sangat familiar, Davian tertahan disuapan pertama. Jantungnya berdebar, gejolak rindu yang dia tahan selama ini tampil begitu saja. Davian mendongak, wajah asing didepan sana tidak ada mirip-miripnya dengan Reva bahkan kepribadian mereka bertolak belakang satu sama lain tapi kenapa rasa masakan yang dibuat olehnya sama persis seperti olahan tangan milik Reva? Apa Davian sudah terlalu lama sendiri makanya dia merasa kesepian, jadi hadirnya sosok lain membuat Davian nyaman.


Apa-apaan pikiran konyol tersebut. Davian terkekeh hambar seraya melanjutkan kegiatan makan paginya.


"Omong-omong sebenarnya siapa kau?" tanya Davian disela kegiatan sarapannya. Wanita tanpa nama itu mendongak, dia sudah selesai melahap habis makanan miliknya. Sambil menyapu sudut bibir dari sisa sarapan wanita itu menjawab—


"Entahlah..." jawabnya bernada serius. Hal itu membuat Davian bingung, apa wanita ini mengalami amnesia atau sejenisnya karena benturan keras malam tadi?


"Aku tidak ingat siapa aku, dimana aku berasal, dan bagaiman aku bisa berakhir seperti ini..." sambungnya menjawabi Davian. Mau tak mau Davian mengangguki paham, kita buat sederhana saja kalau wanita itu benar-benar mengalami lupa ingatan.


"Termasuk nama mu?" tanya Davian setelahnya. Wanita itu terdiam sejenak, otaknya seperti berpikir sesuatu sebelum memberi jawaban untuk Davian.


"Ive? Ev? Ev...a? EVA?! Nama ku Eva!"


Lengking wanita itu girang saat berhasil mengingat siapa namanya sambil menggebrak meja. Davian terkejut, dia menatap jenuh reaksi berlebihan yang selalu wanita itu tampilkan. Tapi syukurlah kalau dia berhasil mengingat siapa namanya, itu akan memudahkan Davian mencari identitas wanita itu.


"Baiklah Eva, akan ku bantu kau mencari keluarga mu nanti... tapi sebelum itu kau harus coba datangi lantai atas, mungkin saja itu tempat tinggal mu—mengingat kau jatuh dari atas..." ucap Davian sambil menyudahi kegiatan sarapannya. Lelaki itu berdiri, dia harus pergi ke kantor sekarang ini. Sembari melangkah Davian berbicara kearah Eva yang masih menatap dari arah meja makan.


"Jika kau tidak menemukan atau mengingat apapun ketika sudah mendatangi lantai atas, kembali ke apartemen ku... sorenya ketika aku pulang dari perusahaan kita akan mendatangi kantor polisi terdekat untuk melaporkan kasus mu..." Davian mengambil tas kantornya diatas meja ruang tamu, lelaki itu berbalik kearah Eva sebelum mendatangi pintu keluar apartemen.


"Jangan lupa bereskan meja makan dan kunci pintunya jika kau ingin keluar!" tegas Davian tanpa menunggu jawaban dari Eva, lelaki itu beranjak pergi—meninggalkan Eva seorang diri. Wanita yang melihat punggung Davian menghilang saat pintu utama didepan sana tertutup; terkekeh lucu, dia menopang dagu sambil tersenyum.


"Manisnya suami ku~" gumamnya kesenangan.


Hehe~


...***...


Davian memijit keningnya keras, kepala lelaki itu sakit luar biasa. Dengan perasaan dongkol dia tetap melanjutkan merevisi berkas didalam layar komputer miliknya. Atasan bajingan, Davian benar-benar merutuki sosok itu karena selalu melimpahkan pekerjaan kepadanya. Sesekali Davian menoleh kearah jam dinding, jam pulang kantor sudah lewat tapi Davian masih terjebak ditumpukan berkas ini. Argh! Sangat menyebalkan.


Hidup layaknya manusia lebih melelahkan dari pada berburu aura negatif. Dan Davian nyaris muak melakukan ini tapi jika dia tidak bekerja makan apa dia nanti?! Semua aset kekayaan Davian disita, tak ada sepeser pun uang ketika dia ditendang keluar dari kediaman utama dan itu membuat Davian harus memulai hidupnya dari nol. Berhenti kuliah, melakukan pekerjaan apa saja hingga akhirnya bisa diterima di sebuah perusahaan sebagai karyawan kontrak.

__ADS_1


Hah~ hidup memang melelahkan.


Setidaknya Davian berhasil membeli apartemen sederhana sebagai tempatnya berlindung.


Usai menyudahi 1 berkas yang tersisa akhirnya Davian bisa merasa bebas. Lelaki itu melenguh keras sambil melakukan peregangan otot, waktunya pulang. Tanpa menunggu apa-apa lagi Davian membereskan meja kerjanya lalu beranjak dari sana.


Davian pikir dia bisa pulang tanpa hambatan tapi sosok Layla menghalangi langkahnya lagi seperti beberapa waktu terakhir. Apa peringatan Davian kemarin tidak memberi efek pada wanita itu? Ini benar-benar semakin menyebalkan.


Sambil mencoba menghindari kontak mata Davian berjalan cepat, mengabaikan sosok Layla yang terus memanggil serta tatapan aneh dari petugas penjaga. Abaikan-abaikan Davian lelah tapi Layla malah merangkul pergelangan tangan miliknya kepada Davian. Hal itu membuat Davian menghentikan langkah, lelaki berkacamata ini mencoba sabar.


"Apa mau mu lagi Layla?" tanya Davian jenuh. Dia merasa kalau wanita ini menggesekkan belahan dada miliknya ke-lengan Davian, oh menggelikan.


Tapi belum wanita itu mengutarakan niatnya sosok lain tiba-tiba muncul. Eva menatap bengis lalu mendorong Layla menjauh dari Davian.


"Apa-apaan si jala*ng ini?" ucapnya dingin mengejutkan Davian.


Tunggu!


Kenapa ada Eva disini?


Aneh, seharusnya wanita itu berada di apartemen bagaimana bisa dia berada disini?!


Sedikit mencurigakan untuk ukuran 'kebetulan'.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2