
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote juga comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._____________________________...
...M i m p i–B u r u k...
..._____________________________...
...__________________...
..._________...
...___...
..._...
"APA YANG KAU LAKUKAN JOSAN!" teriak Reva lantang. Di tatapnya bengis sosok pemilik nama tersebut dengan napas terengah. Wajah Reva pucat pasi, tubuhnya gemetar tapi mencoba tegar.
Lelaki bernama Josan itu terkekeh, maniknya menatap dari ujung kepala hingga kaki lalu berhenti pada tangan yang mencoba menutupi buah dada dengan cabikan kecil seragam sekolah mereka.
Seharusnya pengaruh obat yang di berikan Josan masih berefek, hebat juga gadis ini mampu melawan pengaruh obat itu.
"Owh ayolah sayang ku~" ucap bibir laknat Josan. Reva mendesis tak senang, menjaga jarak sejauh mungkin dari Josan.
Seharusnya Reva tidak mempercayai bulat sifat kekasihnya ini dan mau-mau saja jadi gadis penurut; membiarkan Josan membawa Reva ke gudang sekolah dan mencekcoki dirinya dengan sesuatu aneh seperti obat perangsang.
Perlu waktu Reva melepaskan diri dari pengaruh itu. Kejadian kecil terlintas di dalam kepala seperti kaset rusak, Josan sempat menjamah tubuh bagian atasnya. Reva mengeluarkan aura kebencian yang luar biasa.
Lagi-lagi Josan hanya terkekeh senang, perutnya seperti digelitiki—benar-benar lucu melihat wajah penuh amarah dari Reva.
"Bukan 'kah kau tahu aku mencintai mu sayang? Hm? Manis ku, makanya aku ingin memiliki—"
"Aku tak tahu kalau kau itu bajingan mesum!" potong Reva sarkas. Jika ada sesuatu seperti balok kayu mungkin Reva akan melemparnya kearah kepala Josan hingga tulang tengkorak lelaki itu retak. Sialan! Kenapa dia dulu sempat jatuh cinta pada lelaki biadab ini.
"Jahatnya~" komentar Josan bernada jenaka. Tapi semakin kesini semakin menarik, layak untuk di perjuangkan? |
Seringai jahat muncul, Reva tersentak ngeri begitu melihat Josan tiba-tiba berubah. Lelaki ini memiliki kepribadian ganda 'kah? Ditatapnya dingin manik Reva. Josan melangkahkan kaki mendekat. Reva mencoba menghindar sampai punggungnya membentur dinding gudang.
Seperti ada tulisan 'tidak ada jalan keluar untuk mu'—Reva ketakutan. Digigitnya kuat bibir bagian bawah, rasa stress juga tekanan dari rasa takut membuat Reva mati rasa. Tetesan segar dari bibir yang robek mengalir jatuh kelantai.
"Ber... henti!" pintanya dengan mulut bergetar. Josan mengungkung tubuh Reva diantara kedua tangan, senyum konyol terpatri manis di wajahnya. Ekspresi yang bagus, nilai Josan; melihat Reva jijik berdekatan.
__ADS_1
Hari ini Reva sudah memuaskan Josan dengan berbagai mimik wajah yang tak pernah dilihatnya. Josan senang, gadis datar ini penuh aura kehidupan? Jadi semakin bersemangat untuk menggoda Reva. Omong-omong prihal lain, sesuatu tegang dibawah sana. Seolah mendesak Josan untuk mengurusnya.
"Erh!" Erang jijik Reva; ketika lelaki itu perlahan mendekati wajahnya, Josan seperti ingin mengecap bibir pucat Reva tapi tertahan saat Reva dengan beringasnya menghantamkan kening kekepala Josan.
BUGH!
Josan mundur beberapa langkah, kepalanya pening. Sial, makinya dalam hati. Ditatapnya dingin Reva yang ikut merasakan sakit atas tindakan bodoh gadis itu.
"Kau akan membayar ini Reva." bisik Josan; berhasil mengundang wajah horor milik Reva.
.
.
.
.
.
"Argh..."
"Hent...i—Kan!
"Tidak!"
.
.
.
.
.
Jika ditanya, hal apa yang paling kalian sesali di dunia ini?
Maka Reva akan dengan lantang menyerukan bahwa dirinya menyesal pernah mengenal Josan, perut gadis itu masih terasa nyeri akibat bogem mentah yang dilayangkan Josan. Sudut bibirnya robek dengan lebam di pipi. Selain mendapat perlakuan tak senonoh Reva juga merasakan kekerasan fisik. Bahkan lelaki biadab diatasnya ini masih tak bosan untuk menyentuh setiap jengkal tubuh Reva. Gadis itu pasrah. Dia putus asa.
Dunianya seperti perlahan menjadi gelap.
Reva benci ini.
Dia benci Josan.
Dia harap—
__ADS_1
"Ku harap kau mati!"
...***...
"Apa!"
Davian terkejut bukan main, matanya terbuka lebar ketika sepasang tangan kecil mencekik lehernya kuat. Padahal baru beberapa menit Davian memejamkan mata disamping Reva siapa kira kejadian aneh tiba-tiba terjadi.
Saat ini Reva menduduki tubuhnya dengan tangan tepat dileher pemilik hazel itu. Pandangan Reva kosong. Davian tidak tahu menahu apa yang terjadi, Reva seperti diambang ketidaksadaran dengan tubuh yang bergerak sendiri.
Davian mencoba melepaskan tangan rapuh Reva tapi tak bisa, lelaki itu takut mematahkannya. Berbanding terbalik dengan cengkraman Reva yang kian menguat, dia benar-benar bernafsu ingin menghabisi napas makhluk dibawahnya.
"Re–Va?" panggil Davian kesulitan. Pasokan udara sedikit menipis disekitar lelaki itu, haha. Lucu.
Lalu hal aneh lainnya muncul, gadis berlebel istri Davian itu berhenti dengan sendirinya. Tangan Reva mengendur, masih dengan penglihatan kosong dia mendongak—menatap langit-langit ruangan. Davian ikut memperhatikan dalam diam. Bekas cekikkan tangan tercetak layaknya kalung anjing dileher Davian.
Tes~
"Eh?"
Davian termenung gugup. Titikan kristal bening jatuh dari pelupuk mata Reva sebelum gadis itu kembali pingsan.
Bugh...
"Apa yang terjadi?" gumam Davian penasaran. Menatap lekat wajah damai sang istri; REVA.
...End...
...Season 1 selesai....
...***...
...Semoga kalian suka><...
...Jangan lupa klik like, vote, gift, & comments......
...^^...
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti......
...(Season ke-2)...
...Salam hangat W e~...
...Bye...
__ADS_1
...:3...