Crazy Baby

Crazy Baby
Pilihan


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...________________________...


...P i l i h a n...


...________________________...


..._____________...


...____...


..._...


Apa yang dia lakukan?


Apa yang dia lakukan?


Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan?


Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan?


Apa yang—


D I A - L A K U K A N ?


DEGH!


Manik emas yang berubah kehitaman adalah tanda dari sebuah kehancuran. Manik yang seharusnya tak pernah dimiliki oleh keturunan keluarga hazel. Beda dengan manik emas yang menandakan sebuah keistimewaan satu individu maka mata hitam adalah aib, orang yang mendapatkan manik hitam hanyalah si cacat yang tak bisa menerima kenyataan dari satu kehidupan. Dan sekarang ini Davian berada pada titik tersebut, jiwa yang sangat di banggakan olehnya ternyata begitu rapuh saat menghadapi kebenaran. Rasanya frustrasi, marah, kecewa dan benci. Hal-hal sederhana membuat Davian menjadi sosok yang sentimental, pikiran penuh tanda tanya berseliweran didalam kepala Davian.


Dirinya bertanya-tanya apa yang Josan lakukan sehingga berakhir seperti itu, Davian hanya mampu membeku ketika matanya menatap sosok Reva yang berada diatas ranjang tanpa sehelai benang dan hanya di tutupi oleh selimut tipis.


Hawa napas Reva masih terasa jelas, setidaknya istri kecilnya itu masih hidup meski dalam keadaan yang sangat tak terbayangkan.


Berpindah ke menit berikutnya, Josan maupun Davian lama beradu pandang; mata itu bahkan sudah berwarna hitam sepenuhnya. Tak ada yang berujar sampai Josan lihat Davian—lelaki itu membuka pelan bibirnya mengucapkan satu kalimat singkat kepada Josan.


"A, Apa yang.... kauLakukan?"


Josan tak tahu apa maksud dari pertanyaan Davian tapi biar lelaki itu tebak kalau pusat pertanyaan ada pada Reva, gadis kecil yang jadi bahan rebutan mereka selama ini. Josan, bajingan itu bukannya menjawab dia malah menampilkan senyum seringai—seakan-akan dia telah memenangkan sebuah kompetisi lalu mengejek kekalahan Davian.

__ADS_1


Josan pikir itu adalah sebuah keputusan bijak tapi nyatanya itu hanyalah tindakan kekanak-kanakan dari nafsu manusia belaka. Davian merengut manik hitamnya bergetar; tak percaya. Dia di ejek, ini menggelikan—oleh seorang manusia biasa. Ha-ha |


BERANINYA!


Memang Davian hanya beberapa kali melihat bahu mulus Reva itu pun tak lebih dari hitungan menit dan sekarang dia malah dengan jelas melihat bahu gadis bernotabe istrinya itu yang sialnya bukan di atas ranjang mereka tapi di ranjang milik orang lain. Kau bercanda? Kalian sedang mempermainkan Davian 'kah?


Ah~ ini menyebalkan~


"TCH!"


Tangan Davian mengepal, matanya beringas pergerakan samar dari Josan terasa—lelaki dengan kemampuan khusus tapi aneh itu memperdalam perhatian miliknya pada si bajingan yang hanya berjarak bebarapa langkah. Josan rupanya menyilangkan tangan ke dada dengan rasa bangga.


Lelaki dengan tubuh setengah telanjang itu benar-benar membuat Davian kalap, dia seolah ingin menunjukkan pada Davian satu hal yang tak ingin Davian dengar tapi tetap di bangga-banggakannya.


Lihat aku! LIHAT AKU?!


Reva - Milik - Ku .


Sialan.


Pria itu—Josan, dia menjamah istri ku. |


DIA MENYENTUH REVA DENGAN TANGAN KOTOR MILIKNYA?!!


L A G I .


Benda hitam dengan bayangan mengerikan muncul dari balik punggung Davian tanpa diminta, menyerupai tentakel dengan jumlah ratusan apabila disentuh persis seperti menyentuh kabut udara; ada tapi tiada. Josan tersentak, dia meyakini kalau itu adalah kekuatan Davian yang selama ini memberikan mimpi buruk hingga kematian padanya.


Reaksi agresif Davian membuat Josan mundur, wajahnya pucat dengan kening berkeringat dingin. Sekarang lelaki itu menyadari kebodohan yang di lakukannya; mana mungkin dia—Josan mampu melawan monster mengerikan di depannya ini.


"Haha," tawanya hambar seakan Josan sudah pasrah tapi tak mau mengalah pada keadaan.


Ruang apartemen yang tak begitu luas ini seketika di penuhi oleh kekuatan milik Davian. Tak terkendali, liar kesana kemari; memporakporandakan semua yang bisa tentakel itu gapai. Josan menghindar semampunya saat menyadari kalau incaran utama dari benda-benda itu adalah tubuhnya tapi sesuatu seperti menimpa pandangan mata—lagi-lagi Josan merasakan sebuah ketakutan karena ketidak mampuan, persis seperti mimpi-mimpinya terdahulu. Mata yang ditutupi sebuah bayangan hitam membuat tubuh Josan tak bisa bergerak segesit sebelumnya hingga tubuhnya oleng lalu tersungkur jatuh dengan suara renyah.


BRUGH!


Bagian punggung Josan terasa panas karena mencium keras ubin lantai, tapi pandangannya berangsur normal meski laki-laki itu tak bisa bernapas lega karena sesuatu sudah bertengger manis di lehernya.


Mata Josan membola.


"ERGH!"


Tangannya terangkat menuju leher, ada yang mencekiknya tapi Josan tak bisa melawan karena tak tahu apa yang menjeratnya. Keras hingga lelaki itu gak mampu untuk bersuara bahkan sekedar menarik napas.


"ERGHHH! ARGH!" Lelaki itu meronta, kesakitan.

__ADS_1


Apa ini?! tanya Josan dalam hati. Rasa sakit yang mendera tubuhnya berkali-kali lipat dari sebelumnya, atau jangan-jangan karena dulu dia berada dalam alam mimpi makanya Josan mampu menghadapinya tapi sekarang? Josan tak bisa menjelaskan apa-apa selain dari satu kata sederhana yaitu MENGERIKAN.


Seperti kematian? |


Seolah menjadi manusia lugu Josan tak mengerti akar mula permasalahan ini hadir. Seharusnya Josan tidak berurusan dengan Davian, seharusnya Josan menyerahkan Reva begitu saja lalu berhenti berjuang?


HEH!


Kau pikir aku akan dengan mudahnya menyerahkan Reva begitu saja?!


Kau bercanda, AKU YANG LEBIH DULU MENCINTAINYA.


Entah datang dari mana, Josan yang nyaris menyerah mendapat seberkas kekuatan. Dia meronta—melawan dengan seluruh kemampuan dan tekatnya untuk lepas dari rantai hitam tak kasat mata yang mencekik lehernya. Pada detik itu Davian yang menyaksikan keberhasilan Josan tertegun, bajingan yang berada didepannya berdiri susah payah dengan napas tersengal.


Haruskah Davian bertepuk tangan? Mana sudi dia, tindakan Josan hanya membuat Davian semakin dimakan oleh kemarahan.


Kenapa makhluk itu mampu melawannya? Padahal dia hanya manusia biasa yang—


seharusnya menyedihkan.


"Hah, usaha yang bagus bung... tapi kau pikir tindakan mu ini mampu membuat ku takut?" ucap Josan meremehkan.


Deg!


Sudut mata Davian berkedut, lelaki itu menggigit keras pipi bagian dalam miliknya sambil menahan gejolak tak biasa. Ditatapnya mengerikan sosok Josan.


"Bukan hanya kau yang mencintai Reva, aku juga... seberapa pun kau berusaha aku lebih dulu memilikinya."


Si gila itu meracaukan apa? batin Davian penasaran. Tangannya terangkat, dengan wajah yang menampilkan ekspresi jijik setengah mati Davian memberi isyarat sederhana. Sebuah pilihan yang di buatnya tanpa mempertimbangkan apapun lagi.


Sebuah keputusan tanpa penyesalan.


"Ku bunuh kau, dasar manusia menjijikan!"


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments -nya...


...Terima kasih sudah mampir...


...Ketemu lagi nanti......


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2