Crazy Baby

Crazy Baby
Adam (Side Story 9 Part 2)


__ADS_3

Rencana ini lebih cepat dari perkiraan tapi Adam sudah yakin kalau rencana miliknya tak akan pernah gagal. Dia menatap sejenak sosok Eni yang tengah pingsan, setelah puas menangis dengan tampang putus asa karena di paksa menelan puluhan obat berbentuk pil seukuran mata kancing akhirnya sosok itu menjadi tenang.


Tak sadarkan diri.


Adam berdiri, tangannya terulur dia membopong tubuh kecil milik wanita itu. Memperlakukan Eni begitu lembut lebih dari perlakukannya terhadap bunga-bunga ditaman ataupun sayap dari kupu-kupu itu sendiri. Mereka melangkah; tepatnya Adam, menuju satu tujuan. Sebuah kamar tua di ujung ruangan, tak ada yang berubah didalam ruangan tersebut selain warna cat yang semakin usang. Manik Adam jatuh kearah ranjang, ia bergerak kesana. Meletakan tubuh tak sadarkan diri milik Eni diatas benda tersebut.


Hal ini mengingatkan lelaki itu terhadap masa lalu. Mereka dulu sering sekali tertidur berdua disana, dengan Eni yang selalu menggandeng erat tangan Adam; tak mau di pisahkan.


"Dulu kita sangatlah bahagia." Bisik Adam, bergerak mendekat. Menanggalkan seluruh pakaian ditubuh Eni hingga wanita itu terekspos tanpa sehelai benang sedikitpun.


Cantik. |


Sayang, satu-satunya yang masih bertahan dari masa lalu adalah—kau tidak mencintai ku Eni.


Egoisme.


Adam melepaskan atasan miliknya, badan mulusnya terlihat. Sosok itu mengempaskan tubuh tepat disamping Eni diatas ranjang yang sempit itu. Lelaki bermanik hazel ini meringkuk; memeluk tubuh Eni dengan lembut lalu perlahan memejamkan mata.


"Maaf, maaf aku menyakiti mu lagi Eni." bisiknya sakit.


Maafkan aku.


Dosa terbesar ku adalah mencintai mu.


Hingga menbuat diri ku gelap mata dan ingin memiliki mu.


Mungkin ini terdengar mengejutkan tapi tidak terjadi apapun setelah itu. Selain dengkuran halus dari kedua belah pihak yang hanyut dalam indahnya alam mimpi.


...__________________...


...A d a m...


...__________________...


...___________...


..._____...


..._...


Apa itu cinta?


Tak ada yang tahu, dia benar-benar samar dan tak bisa ditebak. Jika salah melangkah cinta itu akan berubah—seperti menjadi obsesi contohnya.


"Ergh!" Adam terkejut, tubuh Eni menggeliat tak nyaman. Lelaki itu siaga, wanita yang berada tepat disamping Adam bergerak gelisah. Raut mukanya masam, apa yang terjadi? Jangan-jangan Eni tengah bermimpi buruk dimana Adam 'lah penjahatnya didalamnya.


Lelaki itu menggigit pipi bagian dalam, dia berharap sosok itu cepat membuka kelopak mata. Tak apa jika Eni menampilkan kebencian luar biasa padanya asalkan wanita itu tetap bersama dirinya.


Sungguh, tak apa.


Biar Adam seorang diri yang mencintai dan memuja wanita itu.


Ia sudah cukup lelah dan menyerah membuat Eni melihat cinta miliknya.


Egois sekali kau Adam. |


Haha. Dewi cinta pasti tertawa melihat ini semua.


"Mimpi indah sayang?"


Apa yang kau mimpikan hingga membuat mu ketakutan?

__ADS_1


Eni terdiam. Lidah Adam kelu, sejenak dia tertunduk. Tangan lelaki itu lalu terangkat bergerak menuju pipi manis milik Eni, di cubitnya pelan. Perhatian Eni teralihkan tepat menuju arah Adam, membuat lelaki itu bernapas lega.


"Apa yang kau pikirkan Eni?"


Adam tak bermaksud mendesis, wanita itu terlihat gemetaran. Ia menggeleng lalu berkata—


"Ti-tidak ada..." dengan suara gagapnya. Adam tersenyum, mungkin lengkungan milik bibirnya ini akan terlihat mengerikan dimata Eni tapi sejujurnya Adam benar-benar senang. Eni mau menyahuti dirinya meski dalam ketakutan. Tangan kiri Adam bergerak membingkai wajah Eni lalu menyusuri garis rahang wanita tersebut hingga berhenti tepat didekat telinga. Banyak anak-anak rambut disana, Adam menyelipkan helaian rambut kebelakang telinga.


Eni terpejam. Meski takut-takut wanita itu tidak menolaknya.


Adam terkekeh, senang.


"Ku harap kita bisa bersama seperti ini selamanya~" bisik Adam.


Eni kembali lagi tertidur, setelah melalui banyak hal wajar saja wanita itu kelelahan. Adam menilik sebentar sebelum beranjak. Lelaki tanpa atasan itu melangkah; melenggangkan kakinya menuju area dapur.


Beberapa slime muncul, membawakan berbagai bahan makanan.


Adam perlu memasak, saat si manis pujaan hatinya terbangun dari lelapnya mimpi ia bisa langsung mengisi stamina miliknya.


Akan ku buatkan makanan kesukaan mu, batin Adam kegirangan.


Sebelum memulai kegiatan tersebut sebentar ia tertahan. Lelaki itu berbalik, dia menoleh penasaran—menuju area luar jendela dapur. Apa itu?


Ada retakan kecil di penghalang yang ia buat.


Brak!


Adam berbalik, dia berlari cepat menuju kamar tempat Eni berada seraya mengempaskan daun pintu ruangan itu dengan kencang. Manik hazel lelaki itu bergetar, dia mendekati ranjang.


Eni bukannya tertidur lagi melainkan sosok itu tengah—


"Menguap."


Penghalang di ciptakan khusus untuk Eni, seberapa kokoh sangkar besar itu tergantung pemiliknya. Apabila pintu dari penghalang itu memilih terbuka itu tandanya makhluk didalamnya telah mati. Tangan Adam bergetar, dia menggapai tubuh Eni lalu memangku sosok itu sambil bergumam.


"Tidak, tidak! Tidak!"


Apa yang kau lakukan!


Jangan menghilang! Jangan menghilang! Jangan menghilang!


Jangan berhenti—untuk membenci.


"Benci 'lah aku sepuas mu, hingga kamu rela hidup demi kebencian itu."


BANGUN ENI!


Aku membutuhkan mu. Jangan menyerah untuk hidup, ENI. Ku mohon buka kelopak mata milik mu.


Adam tak tahu apa yang sedang terjadi, perasaan apa yang tengah merundung wanita tersebut hingga membuat dirinya memilih untuk mengambil keputusan sulit, yaitu menghilang. Dari awal wanita itu seharusnya sudah mati, dia tidak memiliki jasad dan hanya sekadar kepingan jiwa kecil.


Eni selamat berkat Adam berkorban.


"DAN DENGAN EGOISNYA KAU INGIN MENGHILANG?! SAMPAI AKHIR KAU SELALU KEJAM PADA KU ENI?!"


"AKU HANYA MENCINTAI MU. TIDAK LEBIH TAPI?! TAPI KENAPA KAU MENGHUKUM KU DENGAN KUTUKAN INI."


Apapun yang kau pikirkan, aku tak akan pernah menyerah. Menyerah terhadap mu, bahkan jika kau memilih kematian ketimbang diri ku. Akan ku serahkan jantung ini untuk mu.


"Lebih baik aku mati dari pada kehilangan diri mu."

__ADS_1


Lagi-lagi dosa terbesar milik ku adalah mencintai mu.


Adam—


.


.


.


.


.


Yang pertama kali menyambut penglihatan Eni adalah Adam. Lelaki itu duduk tak jauh dari tepian ranjang. Sampai akhir sosoknya selalu berjuang; betapa bodohnya dirinya. Tanpa sadar wanita egois, bodoh, juga naif itu menitikan air mata.


Tes~


Sebuah benda lembek yang detaknya tak terdengar lagi. Darah dimana-mana, membanjiri sekitar. Wajah Eni amatlah hampa, wanita itu menangis dalam heningnya keadaan.


Sejenak ia pikir ingin tertawa juga, lirih tapi tak mampu karena air mata semakin deras; luruh.


"Kenapa kau lakukan ini Adam?"


Tanya Eni pelan, menggenggam jantung yang sudah tidak berada pada tempatnya. Wanita itu menatap seonggok mayat tanpa nyawa didepan matanya, ia bergetar.


"Kenapa kau tersenyum?" Pada sosok damai Adam.


Kenapa? Kenapa kau memberikan hidup mu pada ku? Pada orang yang tak pernah melihat seberapa besar cinta yang engkau berikan.


Jika kau mencintai ku,


"Kenapa kau tinggalkan aku? Apa ini cara mu menghukum ku?"


Adam.


Jawab.


"ADAM!"


"TIDAKKKK!!!"


HIKS... HIKS...


Benar, katanya cinta bisa jadi kutukan—lihat saja mereka. |


Betapa menyedihkan.


...***...


...Tbc...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2