
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._____________________...
...B e r b e l a n j a...
..._____________________...
...__________...
..._____...
..._...
Davian mendapat cakaran tepat diwajahnya, lelaki itu benar-benar shock luar biasa. Napasnya tersengal-sengal, lelaki itu menahan kuat tubuh mungil Eva dengan cara melingkarkan tangan diperut perempuan itu. Masih berusaha Davian mencoba menjauhkan Eva dan Layla dibantu beberapa orang yang lewat, terlihat dua wanita itu beradu pandangan buas. Kejadian beberapa detik lalu sungguh sulit untuk dilupakan, wanita yang dipanggil Eva jala*ng; Layla tiba-tiba menjambak surai-surai rambut milik Eva lalu terjadilah pertengkaran fisik antar dua wanita itu. Meski terdengar menggelikan tapi itulah yang terjadi, demi melerai mereka Davian dengan berani masuk tapi yang dia dapat malah cakaran dari kuku panjang para wanita ini.
Huhu~
Menyedihkan, kenapa wanita sekarang sangat beringas.
"Hosh! Hosh! Lepaskan Davian, dia yang mulai duluan?!" jerit Eva keras, wanita itu menunjuk-nunjuk wajah kacau Layla dengan napas pendek. Layla yang ditahan beberapa orang asing tidak terima dia membalas ucapan Eva dengan suara yang tak kalah keras.
"KAU YANG MULAI DASAR JALA*NG?!"
"APA MAKSUD MU DASAR PENGGODA?!"
Gendang telinga Davian rasanya mau pecah saat mereka beradu mulut dengan suara keras, berbagai macam kalimat cacian dan makian keluar dari 2 wanita itu. Beberapa orang yang hanya menonton tanpa membantu mulai berbisik-bisik, menyebut kalau ini mungkin saja pertengkaran atas dasar perselingkuhan atau sedang melakukan perebutan pria; sejenis itu.
Benar-benar omong kosong?!
Davian jadi ikut kesal, semakin dilerai semakin keras Eva dan Layla beradu mulut. Davian menghela napas kasar, ini tak akan selesai kecuali ada yang menelpon polisi untuk menahan mereka berdua dan pastinya Davian akan terlibat juga nantinya. Argh! Ini merepotkan.
Mengambil langkah cepat, lebih baik pergi dari sini dari pada polisi nanti sungguhan datang—Davian mengangkat tubuh Eva layaknya karung beras lalu meletakkannya tepat diatas bahu. Sambil meminta maaf Davian pergi dari sana meninggalkan semua kekacauan itu.
"Maaf atas keributan yang terjadi?!"
"DAVIAN!!!" teriak Layla tak terima ditinggalkan.
...***...
"Kau marah?" tanya Davian, Eva hanya melirik sebentar lalu berpaling. Wanita itu menatap tajam tembok apartemen didepannya; setelah mengobati beberapa luka gores dan lebam diwajah wanita itu—Eva mulai mengacuhkan Davian. Hal ini membuat Davian hanya mampu menghela napas panjang, sambil menutup kotak P3K miliknya Davian beranjak. Lelaki dengan kacamata itu melihat jam dinding, pukul 7 lewat batinnya. Davian rasa masih sempat jika ingin berbelanja bahan baku makanan di supermarket terdekat, hanya perlu waktu 10 menit berjalan kaki dari apartemen.
Huh meski berat hati Davian rasa dia perlu mengeluarkan beberapa uang dalam tabungan miliknya untuk berbelanja. Melihat lelaki dengan manik hitam itu berjalan menuju pintu keluar Eva menoleh, ragu-ragu dia memanggil lelaki itu.
__ADS_1
"Ke, kemana!" Sedikit tercekat tapi berhasil membuat Davian berbalik. Lelaki itu menampilkan wajah polos, dia membuka bibirnya lalu berkata—
"Berbelanja." sahut Davian enteng; lupa dengan konsekuensi. Manik Eva berbinar, tiba-tiba dia berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju Davian sambil berucap;
"IKUT!"
.
.
.
.
.
"Dengar!"
Eva mengangguk, Davian berdiri tepat didepan wanita itu sambil mewanti-wantinya sebelum masuk kedalam supermarket.
"Jangan sentuh apapun, atau mengambil apapun, dan cukup ikuti langkah ku!" Eva mengangguk mantap, Davian tak yakin kalau wanita ini paham maksudnya. Dengan langkah gontai mereka memasuki supermarket, mengambil keranjang belanja lalu mulai menyusuri setiap lorong sambil melihat-lihat setiap rak yang memajang berbagai produk.
Davian kira Eva akan mengambil random apa saja yang dia lihat tapi diluar dugaan wanita itu bergerak tenang; mengikuti langkah Davian.
Meski terasa janggal Davian cukup suka dengan kedamaian yang dia dapatkan, dia jadi konsen pada tujuan dan barang yang ingin ia beli. Eva pun tidak rewel, ah~ senangnya.
Seperti mengasuh bayi yah Davian. Haha |
"Pft! Manisnya suami ku~"
"Hah?" Davian menoleh, seperti ada yang berbisik tapi hanya ada Eva ini.
"Kau bicara sesuatu Eva?" tanya Davian penasaran.
Eva menurunkan tangannya lalu tersenyum, wanita itu menggeleng dengan wajah cerah.
"Tidak ada~"
Deg!
Davian membeku. Maniknya bergetar kilat hazel muncul beberapa detik sebelum kembali menjadi hitam, lelaki itu tertegun—senyumnya;
Senyumnya mirip Reva, batin Davian dengan wajah memerah.
Sial apa yang Davian pikirkan?!
Lelaki itu cepat-cepat berbalik, terdengar suara deheman halus dari Davian. Lelaki itu lalu berkata—
"Ayo kita bayar ini semua lalu pulang." ucapnya pelan dengan telinga semerah tomat.
__ADS_1
Eva menatap polos punggung Davian yang bergerak menjauh, mata wanita itu fokus pada tengkuk dan leher pria yang berjarak beberapa meter didepan sana. Warnanya merah, apa jangan-jangan?
"Davian?! Kau demam?!" tanya Eva menyusuli lelaki berkacamata itu.
Davian tertahan, dia lalu tertawa kecil sambil menoleh kearah Eva. Tanpa sadar tangan Davian terangkat lalu bertengger manis diatas kepala milik Eva, lelaki itu mengelus pelan pucuk kepala wanita itu sambil mengangguk.
"Iya, aku demam. Makanya kita cepat pulang!" ucapnya bernada canda. Eva yang mendengar langsung merangkul tangan Davian lalu menyeret lelaki itu agar cepat ke-meja kasir untuk membayar.
Dalam hati Davian berucap.
Bahkan sifat tidak peka-nya benar-benar mirip dengan Reva.
Kau setuju kan—Reva?
Ah~ aku benar-benar merindukan mu sayang ku.
Mungkin jika mereka memiliki anak perempuan, pasti sifatnya seperti Eva. Haha... apa yang aku pikirkan.
Aku rindu pada mu, Reva.
"Davian? Kenapa kau menangis?" tanya Eva gugup, wanita itu melihat lelaki yang menampung dirinya selama ini tiba-tiba menitikkan air mata tanpa sadar didepan umum.
Menyadari kekhawatiran Eva Davian menggeleng kecil lalu tersenyum simpul kearahnya.
"Tidak, aku hanya teringat sesuatu..." gumam Davian pelan.
Eva tertegun, wanita itu lalu bergerak—membingkai wajah manis milik Davian. Jemarinya menyelinap disela bawah kacamata; di sapu pelan kristal bening yang mengalir tepat dari arah pelupuk mata.
"Jangan sedih 'aku' disini Davian~"
Dan seketika ribuan air mata runtuh, dia benar-benar seperti melihat sosok Reva didalam tubuh Eva. Lelaki itu tanpa sadar membawa tubuh wanita asing kedalam pelukannya, sambil berbisik—
"Aku merindukan mu Reva..."
Eva membisu, membalas pelukan hangat yang sepertinya dibalut oleh luka.
Aku juga? |
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1
...:3...