
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...__________________________________...
...U n d a n g a n...
...__________________________________...
..._______________________...
..._____________...
..._____...
..._...
Davian melongo bingung saat tangannya diseret masuk oleh Reva menuju kelas yang sama dijam berikutnya. Entah bagaimana semua situasi ini bisa terjadi, hal terakhir yang dia ingat adalah percakapan pagi tadi ketika selesai sarapan—selebihnya Davian lupa. Bagaimana bisa dia bersama Reva tiba-tiba sudah berada diarea kampus lalu mengikuti kuliah seperti biasanya. Apa jangan-jangan istrinya ini memiliki kemampuan teleportasi seperti keluarga hazel? Hah—
__ADS_1
Terdengar luar biasa. Meski itu mustahil terjadi.
Senyum cerah yang jarang-jarang muncul di wajah Reva tertangkap penglihatan Davian. Lelaki bermanik hazel itu melirik kecil dari balik ekor matanya, hal apa yang mengundang benda melengkung itu hingga mau menunjukan sosoknya? Tanya dewi batin Davian. Di tengah kelas yang berlangsung hikmat dengan seorang pengajar didepan ruangan sambil menjelaskan sebuah pembahasan materi. Davian mengangkat tangannya menuju area pipi milik gadis bernama Reva itu.
"Hm?" Reva tersentak kaget, dia yang awalnya fokus menulis semua pembahasan materi menoleh kecil kearah lelaki nakal disampingnya. Davian.
Reva terheran-heran, apa yang tengah lelaki pemilik hazel ini lakukan? Dia seharusnya fokus pada perkuliahan hari ini, bukannya bermain-main dengan pipi seorang gadis.
Dari pipi merambat perlahan menuju area ujung bibir. Hasrat lain lagi-lagi muncul. Davian menghela napas pasrah. Dari semalam dia benar-benar ingin memainkan bibir itu, mempertemukannya dengan mulut Davian; kalau bisa dengan lidahnya juga—?!
Hah?!
Tunggu dulu!
"Tch!"
"Kau baik-baik saja Davian?" gumam Reva pelan bernada tanya. Terlepas dari lamunan singkatnya, Davian menoleh—menatap sebentar sosok Reva. Senyum cerah tadi luntur digantikan mimik wajah khawatir sekaligus was-was. Davian merasakan kegundahan hati sang istri, dia mengangguk kecil.
"Ya, aku baik..." ucap lelaki itu membisik.
...***...
Reva menatap sekitar. Dia ingat tempat ini ketika meneduh bersama Davian saat hujan. Halte bus tua disudut kota.
__ADS_1
"Apa yang kita lakukan disini Davian?" tanya Reva penasaran. Usai kuliah lelaki bermanik hazel itu langsung memonopoli tubuhnya—membawa gadis itu pergi dari sini melalu jalan pintas teleportasi ruang dimensi.
"Aku mendapat laporan tadi pagi kalau titik pembaharuan yang ku buat tempo lalu tiba-tiba kacau..." ucap Davian. Kembali mengulangi pola-pola aneh dengan gerakan kekanakan.
"Bagaimana bisa?" tanya Reva penasaran. Apa penyebabnya? Seingat gadis itu Eni selalu menyebut Davian jenius dibidangnya, dia tak akan pernah bersikap ceroboh dalam menjalankan tugas. Ya... meski Reva kurang mengerti juga bidang apa yang dimaksud disini.
"Entahlah~" jawab Davian ambigu. Lelaki itu berbalik ketika sudah menyelesaikan semua perkara tugas, dia kemudian duduk tepat disamping Reva; disebuah bangku halte bus tua.
Reva yang sedari tadi memperhatikan—melihat gurat lelah diwajah Davian. Gadis itu tiba-tiba dengan sendirinya membuka suara; menyerukan sesuatu kepada Davian.
"Kau bisa berbaring di paha ku, jika kau mau..." ucapnya menarik ekspresi horor milik Davian.
Undangan mengerikan macam apa itu? |
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti......
__ADS_1
...Bye...
...:3...