
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...T e r b o n g k a r...
...____________________...
...___________...
..._____...
..._...
"Ergh?" Lenguhan terdengar, Eva merasakan sesuatu yang panas menerpa sisi lain wajahnya. Wanita itu mencoba membuka pelan kedua matanya yang masih terasa berat, langit merah terlihat menyambut Eva dengan sangat jelas. Sampai-sampai membuat Eva keheranan, jarang sekali dia dapat menatap pemandangan langit dengan warna darah tanpa halangan. Tanpa halangan? Eva bergegas bangkit dari tidurnya, masih ditempat yang sama—Eva menyaksikan kalau dirinya sudah tidak mengenakan topeng tengkorak serigala yang selalu dia gunakan untuk menutupi separuh wajah. Zim tak jauh dari posisi wanita itu, dengan tungku api dan beberapa peralatan masak lainnya.
Cekatan atau sikap waspada, entahlah. Eva mengambil pedang lalu mengarahkannya tepat ke leher macan kumbang tersebut. Zim tidak bereaksi atas tingkah Eva, lelaki itu sibuk mengurus kaki kelabang didepan tungku api agar terpanggang sempurna.
"Kau membuka topeng ku Zim?" Meski sudah tahu jawabannya Eva hanya ingin memastikan. Macan kumbang itu melirik, manik tajam khas kucing besar terlihat memberi aura intimidasi pada Eva. Makhluk itu menggeram, taringnya terlihat. Sial sepertinya Eva tidak memiliki pilihan lain selain membunuh Zim—teman satu perjalanannya. Meski sungguh sayang tapi Eva tidak ingin mengambil resiko; jangan sampai keberadaan dirinya bocor lalu menimbulkan masalah besar nanti.
"Hah~" Eva tersentak kecil saat melihat Zim malah menghela napas panjang sambil menampilkan ekspresi lunak, tidak seperti sebelumnya.
"Turunkan pedang mu Ève..." Bahkan lelaki itu meminta Eva untuk menurunkan pedang miliknya dengan nada lembut.
Eva yang membeku tidak memberi respon sesuai harapan Zim, wanita itu terlihat tidak mengerti dengan sosok kucing besar itu. Seharusnya semua makhluk penghuni dunia bawah menaruh nafsu pada para manusia tapi kenapa Zim terlihat; berbeda?
Nafsu yang di maksud disini adalah sesuatu seperti hasrat ingin memakan para manusia, membunuh atau mengawini mereka.
"Aku tidak ingin bertengkar dengan mu Ève..." keluh Zim putus asa. Dia sudah kehabisan banyak tenaga karena harus bertarung seorang diri beberapa jam yang lalu, meladeni Eva hanya karena perkara dia manusia membuat kucing besar itu lelah.
Eva menyimpan kembali pedang miliknya lalu duduk agak jauh dari macan kumbang tersebut, sambil menampilkan tatapan waspada kearah Zim. Lagi-lagi hal itu membuat Zim menghela napas panjang. Dia menyerahkan kaki kelabang panggang kepada Eva tapi tidak disambut baik oleh wanita ini.
__ADS_1
"Aku tahu kau lapar Ève... ambil ini, kita perlu mengisi tenaga jika ingin melanjutkan perjalanan ke ibu Kota selatan." Terang Zim apa adanya. Masih dengan sikap batunya Eva kemudian bertanya—
"Kenapa?"
Zim berusaha keras agar tidak mengerti tetapi lelaki itu kalah oleh tatapan menusuk yang Eva berikan padanya. Mau tak mau kucing besar itu menjawab.
"Aku cukup terkejut saat tahu kalau kau itu manusia Ève..." terdengar nada getir di kalimat yang baru saja Zim ucapkan, seolah sosok itu terlihat sedikit kecewa dengan kenyataan. Merasa di khianati.
Mendengar kalimat tersebut membuat Eva tanpa sadar mengucapkan kata—
"Maaf." Zim melirik lalu tersenyum simpul kearah Eva.
"Aku tidak bermaksud untuk menipu mu Zim, hanya saja aku punya tujuan tersendiri..." Macan kumbang itu mencoba memakluminya, dia mengangguk paham sambil memakan beberapa kaki kelabang yang sudah matang.
"Begitukah..."
"Aku akan menghilang Zim, jadi lepaskan aku dan jangan beritahu siapapun soal keberadaan ku sebagai manusia di dunia bawah. Aku mohon Zim." Ucap Eva, walau terdengar memelas dia sangat berharap kalau Zim mau mengabulkannya. Wanita itu tak ingin berakhir menebas leher teman pertama yang dia miliki di dunia para Demon.
"Apa yang kau bicarakan Ève?" Tanya Zim tak habis pikir. Alis lelaki itu terangkat.
"Hei? Seperti yang ku bilang sebelumnya, aku tak ingin bertengkar dengan mu Ève. Tak masalah jika kau manusia. Aku masih ingin menemani mu hingga ke selatan, boleh 'kan?"
.
.
.
.
.
Eva mendongak, sesekali memberi tatapan penuh arti kearah Zim. Meski suasana diantara mereka masih terasa canggung Eva tidak mengira kalau mereka masih bisa berjalan berdampingan seperti ini. Percakapan terakhir yang wanita itu ingat adalah soal Zim; macan kumbang itu yang ingin menemani dirinya menuju selatan seperti rencana awal mereka. Tak ada maksud atau tujuan lain, Eva hanya melihat ketulusan dimata kucing besar tersebut.
"Karena aku sungguh menyukai mu, jadi aku tak tega menyakiti mu Ève..." begitu katanya. Wajah Eva memerah, kalimat tanpa unsur romantisme itu berhasil membuat Eva salah tingkah. Rasanya sedikit senang; Eva seperti mendapatkan sosok sahabat. Tanpa sadar wanita itu tersenyum cerah, menggandeng tangan milik Zim.
"Terima kasih" entah pada apa, tapi Eva bersyukur bisa dipertemukan dengan macan kumbang ini.
__ADS_1
...***...
"Sebentar lagi kita sampai Ève..." ucap Zim seraya menghentikan langkah, makhluk itu melirik ke atas bahu miliknya; tempat Eva berada—menyandarkan kepala dengan mata terpejam. Wanita itu terlihat bertindak tanpa penjagaan, padahal beberapa jam lalu dia masih memasang tampang waspada tapi lihat sekarang? Dia bahkan dengan berani tidur didalam gendongan seorang monster. Tch... tch, tidak pantas untuk ditiru.
"Ève? Bangun... kau perlu memasang topeng mu..." ucap Zim lagi kali ini lebih kuat sambil mengalihkan gendongan belakang menuju arah depan. Kucing hitam itu mengangkat tinggi-tinggi tubuh Eva sambil menunggu makhluk pemalas ini untuk bangun.
Seperti tampang bayi baru lahir, Eva membuka kedua kelopak matanya pelan.
"Kenapa kau jadi mudah tertidur Ève?" Tanya Zim bingung. Dia meletakan Eva diatas tanah sambil masih menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh, Eva terdengar menguap. Dia menyapu pelan kelopak mata yang terasa gatal sambil berucap.
"Aku hampir menghabiskan setengah energi kehidupan murni ku Zim saat mengangkat batu itu, jadi aku perlu istirahat atau aku akan menghilang..." sahut Eva sambil memasang topeng tengkorak dengan wajah malas. Meski Zim tidak terlalu paham maksud ucapan Eva; tapi dia beranggapan kalau mungkin saja yang dikatakan Eva itu seperti pertukaran setara. Dia perlu membagi jiwa miliknya jika ingin memperoleh kekuatan, sejenis itu.
"Ève kau lupa menutupi aroma tubuh!" Tegur Zim saat sadar wanita itu mengeluarkan bau uniknya. Eva menoleh, dia menepuk jidat.
Sial, kucing hitam itu benar.
"Andai saja disini ada pewangi semprot seperti parfum?!" Keluh Eva kesal, wanita itu berancang-ancang ingin menggulingkan tubuh diatas tanah sebelum Zim menawarkan sesuatu kepada wanita itu.
"Aku punya sesuatu seperti itu kalau kau mau Ève?"
Hah?
"Benarkah?" Beo Eva polos dengan tampang berbinarnya..
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1