Crazy Baby

Crazy Baby
Keturunan Terakhir - Short Story


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________________...


...K e t u r u n a n - T e r a k h i r...


...____________________________...


...________________...


...__________...


...____...


..._...


"Sebenarnya? Tujuan mu ketika ingin dibangkitkan itu apa?"


Balas dendam.


"Pada siapa?"


Gabriel.


"Kenapa?"


Dia merampas segalanya dari ku.


"Tapi? Bukannya kau terlahir karenanya."


Deg!


"Lantas! Untuk apa balas dendam mu itu dilakukan? Apa karena kau benci sudah dilahirkan di dunia ini?"


"Jawab aku Reva."


DEGH!


Aku—tidak tahu.


"Eva..."


...***...


Cuaca cerah diluar sana, angin musim panas berembus lembut membelai dedaunan. Kadang kala mengajak beberapa helai daun tua untuk terlepas dari rantingnya, cela-cela rimbunnya pohon memberi efek corak cahaya direrumputan.


Wanita bergaun tipis tengah terbaring disana. Bisa dibilang tidur siang, nikmatnya keadaan hari ini berhasil menarik kantuknya datang; alhasil Reva terlelap ditepi taman dekat jalanan.


Sebenarnya apa yang dilakukan wanita itu? Berbaring tanpa penjagaan, bisa saja jadi sasaran empuk seseorang yang berniat jahat. Tapi nyatanya tak mungkin; karena tidak ada satu orangpun dari manusia yang dapat melihatnya selain keturunan mata Tâbi.


"Ku dengar mereka runtuh," bisik Reva seraya membuka pelan kelopak matanya. Ternyata wanita itu tidak benar-benar tidur, hanya terbaring lesu diatas rumput sambil menikmati senyapnya keadaan.


Beberapa detik lalu dia sempat terpikirkan Davian, klan mereka adalah keturunan langsung dari mata Tâbi yang dulunya melayani sosok Gabriel—tapi sebelum makhluk bermuka dua itu khianat dan mulai mempermainkan klan tersebut.


"Kalau tidak salah ini sudah lewat 100 tahun." gumam Reva lagi. Mengingat-ingat kembali waktu terakhir kali dia dapat bertemu dengan Davian setelah dibangkitkan.


Menjadi makhluk abadi di dunia ternyata membosankan.


Hanya sedikit momen yang bisa dikatakan berarti untuk Reva, salah satunya adalah momen kematian Davian seratus tahun lalu. Lebih dari itu Reva nyaris tidak mengingat apapun lagi, termasuk balas dendamnya.

__ADS_1


Bahkan dia sempat bertemu Eva, makhluk yang berhasil bangkit tanpa bantuan aura kehidupan milik Reva atas izin sang Kehendak.


Saudarinya itu sekarang sudah menua dan hidup bahagia dengan pasangannya.


Tertinggal 'lah Reva yang menjadi satu-satunya makhluk yang tersisa.


Kembali lagi ketopik klan mata Tâbi. Setalah bergulirnya waktu cukup lama tepatnya 5 tahun yang lalu—Reva dengar kalau klan tersebut runtuh.


Perdamaian yang tercipta di dunia bawah membuat gejolak aura negatif semakin hari semakin stabil. Keturunan-keturunan selanjutnya yang lahir dari klan tersebut perlahan mulai kehilangan kekuatan karena perdamaian yang ada.


Alhasil runtuhlah mereka.


Sangat disayangkan.


Mungkin ada beberapa kepala keluarga yang bertahan tapi mereka tidak mengetahui asal-usul keluarga utama.


Ya... sebenarnya ini bukan urusan Reva.


Hanya saja dia merasa sedikit kesepian.


"Karena tidak ada lagi makhluk yang dapat melihat dirinya."


Apa lebih baik Reva kembali kesisi Gabriel dalam keabadian? Ish! Membayangkannya saja Reva tak sanggup, sekarang dia benar-benar canggung terhadap ibunya itu.


"Huh!" lenguhan napas berat terdengar dari sela bibir milik Reva. Dengan gusar wanita itu mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk lalu menatap sekitar.


Disini benar-benar tenang.


Kenapa hanya dia yang menikmati pemandangan indah ini?


Ya karena manusia terlalu sibuk pada keseharian mereka.


Reva! Hanya kau saja yang terlalu luang, makanya bisa menikmati sekitar seperti hantu gentayangan.


Sungguh hal yang ironis dan menyedihkan.


"Apa itu hantu?"


DEGH!


Debar jantung Reva terdengar kuat saat seseorang tiba-tiba saja berucap. Cukup dekat sampai-sampai Reva salah mengira, bahwa objek yang orang tersebut katakan adalah tentang dirinya.


Reva menoleh, bukan laki-laki dewasa melainkan seorang anak kecil polos berwajah dingin. Tepat diseberang jalan dengan pandangan tajam seolah-olah tengah memandangi sosok Reva.


Dengan wajah penasaran Reva bergerak mendekat, bola mata agak kemerahan itu tidak mengikuti gerak tubuhnya. Sudah Reva duga, tak mungkin bocah cilik ikut menjadikan dirinya sebagai objek utama.


"Hah~" hela napas panjang terdengar dari arah mulut Reva. Kekecewaan tidak berdasar.


"Busuk."


Lagi-lagi berhasil dibuat membola, Reva menatap dalam bocah laki-laki itu sebelum manik miliknya bergerak sangat lambat hingga bersinggungan dengan manik Reva.


Perlahan menjadi hazel.


Bibir Reva terbuka, debar jantungnya meningkat. Mereka saling menatap dalam waktu yang cukup lama, Reva tak tahu—tapi! Dia amat sangat yakin kalau ada sesuatu yang janggal tengah terjadi.


Bocah ini melihatnya.


"Keturunan terakhir—"


Mata Tâbi. |


BEDUM!


Mungkin ini bisa disebut sebagai gila, Reva tak tahu yang pasti; ketika matanya menelisik lebih dalam manik bocah itu Reva langsung menyadari—sesuatu yang nyaris tidak mungkin.

__ADS_1


Cinta?


Jangan main-main dengan ku dewi cinta! Ini tak lucu?!


Bagaimana bisa aku tahu kalau dia adalah pasangan takdir ku.


"Safieŕ?"


...***...


Apa ini yang disebut sebagai cinta? Begitu gelap hingga akhirnya membutakan.


Reva membuka kembali kelopak matanya, ya mungkin ini terdengar seperti penjahat—tapi agaknya tokoh kita yang satu ini sudah menemukan kembali hasrat hidupnya.


Dengan cara terobsesi. Lagi.


Secara tulus. |


"Tidakkah kau mencoba mencintai ku?" bisik Reva.


Safieŕ mendesis, dia baru saja menyelesaikan kelasnya hari ini. Siapa kira pagi-pagi sekali malah digentayangi roh makhluk aneh yang tidak jelas asal-usulnya.


"Enyah kau!" gerutu lelaki itu pelan, berhasil mengundang perhatian. Reva terkekeh, reaksi yang Safieŕ tunjukan begitu lucu. Tak pernah bosan rasanya menempel pada lelaki itu setiap hari, ya walau kadang kala ada sedikit pengganggu.


Reva menilik dari balik ekor mata.


"Ish!"


Lagi-lagi ada wanita yang menargetkan Safieŕ, tidak heran sih karena Safieŕ sangat tampan. Tapi lama-lama Reva jadi muak juga.


Berapa kali mereka harus disingkirkan? desisnya.


Memang dia berjalan disamping keturunan terakhir mata Tâbi yang bisa melihatnya, Reva menikmati itu semua sampai tidak ada seorangpun yang dapat mengira—tangan dari makhluk abadi itu sudah berlumuran darah.


Em?


Pstt!


"Dia milik ku."


JANGAN COBA-COBA UNTUK MEREBUTNYA.


Atau kalian semua akan mati.


"Hehe..."


...***...


...Keturunan Terakhir selesai...


...(End)...


...Cerita ini hanya sampingan, tidak bermaksud merubah plot atau alur sebenarnya dari Crazy Baby. Semoga kalian menikmati, sisi gelap dari Reva yang berhasil kembali dipermainkan oleh dewi cinta....


...Ketika anak panah dengan benang merah itu di tembakan, saat itu juga permainan gila yang merenggut kewarasan akhirnya dimulai....


...Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi lain waktu....


...Sampai jumpa....


...Bye-bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2