Crazy Baby

Crazy Baby
Hari Biasa


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi / karangan semata, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan saja....


...Silakan 'klik' vote, like dan comment sebagai wujud apresiasi terhadap karya orang lain....


...Terima kasih,...


...Selamat membaca....


..._________________________________________...


...H a r i—B i a s a ...


..._________________________________________...


...__________________________...


...___________________...


...___________...


...______...


...___...


..._...


Tap...


Reva menghentikan langkah. Hidungnya sedikit gatal. Gadis itu berharap dia tidak mimisan lagi—bisa-bisa Reva anemia nantinya.


Setelah melewatkan beberapa hari terbaring diatas ranjang, akhirnya Reva bisa kembali beraktivitas normal. Ya... meski bukan normal sepenuhnya.

__ADS_1


Argh~


Mata Reva jadi sedikit jelas? Reva malah bisa melihat makhluk hitam yang hidup dan berbaur diudara. Gadis itu sekarang yakin, asal muasal datangnya ungkapan aneh dan kurang waras yang ditunjukkan pada Davian itu—karena ini.


Ah iya... soal dirinya? Takut? Meski sebangsa makhluk halus, iblis atau pun roh. Katimbang takut, Reva justru sedikit geli. Reva memang tidak seperti gadis umumnya, bahkan menonton film berisi mutilasi manusia sambil makan tidak membuat dia terpengaruh. Sedikit.


"Reva!!!" Panggilan itu membuat Reva menoleh, suara dengan nada khasnya; tanpa harus menebak Reva tahu siapa itu. Kian berlari mencoba menyusul Reva.


"Ugh..." terdengar Reva meringis. Melihat benda hitam yang hanya bisa dia lihat digilas habis oleh Kian.


Salah mu karena berada dilantai, batin Reva.


"Dari mana saja?!" Pertanyaan pertama yang diajukan temannya itu adalah tentang menghilangnya Reva beberapa hari lalu. Mereka mencoba mensejajarkan langkah, bergerak menuju kelas.


"Aku sakit..." jawab Reva.


Alis Kian terangkat; seolah bertanya 'owh benarkah?' pada Reva.


"Kau pikir aku percaya?" Desis Kian.


"Ya... seperti itu... tapi benar aku sakit..." ucap Reva—setelah mengetahui suatu fakta tak masuk akal tentang dirinya dan Davian. Setengahnya Reva jujur. Dia memang sakit.


"Baiklah... baiklah... lalu, apa-apaan kemarin itu?!"


"Kemarin?" Beo Reva. Tak terasa mereka sudah sampai dikelas. Suasana masih sepi, Reva dan Kian memilih duduk paling belakang sambil menyambung topik yang tadi.


"Bukannya aku sudah bilang untuk tidak terlibat dengan Davian" Ucap Kian gemas. Tangannya terangkat mencubit kedua pipi Reva.


"Aaarghhh... Ehentyi..." Reva mencoba melepaskan tangan Kian. Gadis yang seumuran dengan Reva itu mendengus—melepaskan kedua tangannya dari benda kenyal itu. Pipi Reva terlihat memerah, disertai manik yang berkaca-kaca. Dia mengelus kedua pipi dengan telapak tangan. Suhu dingin dari tubuhnya terasa; nyaman sekali.


"Ya~ aku juga berharap mendengarkan mu Kian..." ujar Reva setelah berhasil meredam sakit dipipinya.

__ADS_1


"Tapi..."


Kian mengangkat alisnya bingung atas ucapan Reva yang sangat menggantung. Kian melihat Reva termenung sejenak.


Ada apa sebenarnya?


"Sepertinya aku sudah terlambat..." sambung Reva. Membuang muka menuju luar jendela.


Dari kejauhan terlihat Davian berdiri ditengah lapangan kampus, kapan lelaki itu datang? Tidak seperti biasanya—Davian akan fokus menatap objek didepannya; tapi Davian saat ini menoleh kearah lain. Wajahnya datar dan terlihat dingin. Kesan arogan masih sedikit tampak disana.


Reva menatapnya.


Lekat.


Manik mereka bersinggungan.


Dalam diam.


Seakan menyiratkan sesuatu.


Entah apakah itu.


Sampai benda hitam tiba-tiba muncul—dan semuanya menjadi gelap.


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa vote, like & comments......


...Terima Kasih,...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2