
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...______________________...
...T a n g k a p...
...______________________...
...___________...
...____...
..._...
"Siapa kau sebenarnya Eva?"
Eva menoleh, raut muka ceria yang selalu dia tampilkan kehilangan rona-nya. Wanita itu menatap datar tanpa senyuman, terdengar bisikan.
"Ini belum saatnya..."
Apa maksud wanita itu?
Davian merasakan punggung bagian belakang membentur dinginnya palang pembatas balkon. Mahkota-mahkota bunga itu mulai bergerak, mengikuti sang pemilik untuk memenuhi kehendaknya.
Tangan Eva terangkat, entah siapa wanita itu sebenarnya tapi Davian tahu betul apa yang akan dia lakukan.
Perapalan mantra.
"Maafkan aku tapi untuk sementara waktu akan ku hapus ingatan mu, ini belum saatnya kau tahu Davian."
Davian menelan saliva kasar, meski tidak terdengar jelas mantra apa yang Eva rapalkan tapi Davian tahu teknik itu.
Lembar pertama dari buku pedoman keluarga; mantra dasar untuk menghapus ingatan seseorang.
Bibir Davian tergerak, meski suaranya masih tercekat di kerongkongan tapi lelaki itu mulai melakukan perapalan pembanding untuk mantra Eva.
__ADS_1
"Batalkan, tanpa izin ku kegelapan malam pun tak akan bisa merebutnya."
Eva tersentak kesal, seharusnya Davian tak bisa menggunakan kekuatan namun kenapa lelaki itu bisa memakainya untuk membatalkan mantra milik Eva; kira-kira seperti itu. Mudah sekali Davian membaca isi kepala dari wanita sok misterius itu, bagi Davian yang pernah duduk di kursi paling atas. Mantra bukanlah bagian dari kekuatan utama, itu hanya kumpulan kata-kata dengan makna dalam dan hanya memakan 0,1 % dari energi yang ada.
"Biar ku tanya lagi Eva, siapa kau sebenarnya?" tanya Davian waspada. Meski dari tadi wanita itu hanya menggunakan teknik tingkat dasar seperti seorang pemula, Davian tidak bisa menjamin kalau wujud saat ini benar-benar bentuk aslinya. Banyak orang dari keluarga cabang yang melepaskan diri dari otoritas keluarga utama dan akhirnya menjadi pembunuh bayaran bagi keluarga mereka sendiri, bisa saja Eva salah satu diantara mereka.
Seingat Davian saat ini terjadi konflik internal dalam keluarga hazel; penentuan ahli waris setelah kakek. Davian juga tak berpikir bisa hidup damai begitu saja, banyak orang yang ingin menjatuhkannya dulu saat laki-laki itu masih menduduki peringkat atas apa lagi sekarang—demi menciptakan kekuasaan dominan maka hal paling sederhana yang harus dilakukan adalah menghapus penghalang-nya. Dan mungkin Davian adalah sebuah tembok besar yang harus dihancurkan. Meski tidak memiliki keinginan kembali kedalam kediaman hazel tapi Davian masih merupakan ahli waris sah keluarga itu.
Manik Davian berkilat tajam, merespon gerak tubuh Eva. Mahkota-mahkota bunga milik wanita itu mulai beterbangan sepertinya Eva mengubah rencana karena Davian. Terdengar deru napas teratur, Davian benar-benar mencerna setiap detik situasi dengan matanya. Dia tak bisa melawan Eva, jika wanita itu memilih untuk menyerang secara mendadak Davian pasti akan kalah karena kekuatan miliknya seperti tersegel oleh mimpi buruk atas kematian Reva.
Satu-satunya cara adalah melihat semua celah yang ada 'demi bertahan hidup' persis seperti masa sebelum kebangkitan. Keringat dingin milik Davian titik, bunga-bunga itu lalu menerjang tepat kearah Davian.
Lelaki dengan kacamata itu melompat kedepan, tubuhnya gesit menghindari serangan berpola monoton milik Eva.
Lambat, batin Davian dengan mata menyipit.
Kali ini membuat Davian yakin kalau Eva seperti orang yang baru saja diajarkan cara berjalan. Semua serangan wanita itu mudah ditebak dan gerakannya lambat, raut muka Eva juga terlihat kesusahan dalam mengontrol kekuatan miliknya. Melihat lubang menganga itu; celah kelemahan Eva sepertinya Davian bisa menyerang bahkan tanpa kekuatan, lelaki itu masih memiliki pengalaman.
Ratusan kali Eva menyerang Davian selalu berhasil lolos, wanita yang menggerakkan mahkota bunga itu mulai kewalahan. Dia sudah mencapai batasan jika tidak diselesaikan Eva bisa pingsan ditempat dengan hidung berdarah.
Sial, kepala wanita itu pusing. Penglihatan Eva berkunang-kunang. Terakhir yang dia lihat adalah sosok Davian yang sudah berada tepat didepan mata.
Deg!
Bugh~
Tepat diatas ranjang lembut milik Davian.
"Hosh... hosh..."
Terdengar deru napas lelah diantara kedua belah pihak, dada Eva naik turun. Matanya mencoba berkonsentrasi menatap Davian yang menindih tubuhnya. Tidak jauh beda dengan wanita dibawah kondisi Davian juga terlihat seperti itu, dia cukup kelelahan karena bergerak kesana kemari sedari tadi untuk menghindari serangan Eva dan berakhirlah mereka di posisi ini. Davian yang mengunci tangan Eva diatas kepala wanita itu lalu mengurungkan tubuhnya diantara tubuh Davian. Agak rancu memang.
Di sela napas tak beraturan Davian bertanya.
"Siapa kau? Hosh... hosh..."
Titik keringat jatuh tepat diatas pipi Eva. Wanita itu menyipitkan mata, sosok Davian nyaris tidak terlihat dimatanya selain siluet tubuh saja.
"Eva jawab!" terdengar suara lelaki itu di gendang telinga Eva. Davian benar-benar tidak melepaskan sedetik pun pandangan matanya dari wajah wanita itu. Tanpa sadar Davian mencengkeram kuat pergelangan tangan Eva, hal itu membuat Eva meringis sakit sejenak.
"Ishgh..."
__ADS_1
Sedikit terkejut atas ringisan aneh, Davian melonggarkan cengkeraman tangannya. Wanita itu membalas tatapan mata milik Davian, terlihat dia membuka pelan celah bibirnya.
"Be... belum—saatnya..."
Hanya kalimat itu yang terdengar, apa maksudnya; batin Davian kesal. Dia perlu jawaban bukan sebuah tanda tanya baru untuk peristiwa ini.
"Jangan main-main Eva." setengah mendesis Davian benar-benar perlu jawaban. Jawaban atas ini semua meski hanya sekedar kebohongan—agar kecurigaan Davian sirna.
Dia tak ingin bertengkar dengan Eva. Tidak.
Bukan masalah siapa Eva sebenarnya, Davian hanya tak ingin kehilangan sosok yang berhasil membuatnya nyaman untuk kedua kalinya—lagi.
Ku mohon Eva.
"Maaf Davian."
Deg!
Mata Davian membola, tubuh wanita itu tiba-tiba berubah menjadi ribuan kelopak bunga. Meninggalkan sosok yang hanya mampu menatap diam ranjang dibawahnya. Davian terduduk, tangan itu mengambil kelopak bunga berwarna hijau-keemasan diatas ranjang sebelum lenyap.
Tangannya mengepal, sorot mata Davian berubah bengis. Dengan wajah marah dia berucap.
"AKAN KU TANGKAP KAU EVAAAA!!!!" dengan lantangnya bahkan mampu membuat orang yang mendengar teriakan itu meringis ngeri.
Davian beranjak dari ranjang tempat ia berada. Lelaki itu melangkah menuju pintu keluar utama, sambil bergumam dia mengedarkan pandangan—begitu dingin kepenjuru ruangan.
"Dimanapun kau berada Eva, akan ku seret kau kembali kesini." ucapnya teramat pelan sebelum terdengar suara daun pintu yang tertutup.
Blam.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...