Crazy Baby

Crazy Baby
Simbol


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._____________________...


...S i m b o l...


..._____________________...


...___________...


..._____...


..._...


"Dia menghilang..."


Apa maksudnya? Bagaimana bisa Gedion menghilang? Ada sesuatu yang janggal, sebenernya apa yang terjadi didalam kediaman utama hazel selama 2 tahun terakhir ini.


Tidak mungkin sosok itu tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Davian menunduk, tangannya terangkat menuju dagu—lelaki itu pasti tengah memikirkan sesuatu.


"Misi terakhir yang Gedion lakukan apa?" tanya Davian. Dia melirik Layla yang berada tepat diseberang meja.


"Penguatan segel di gerbang besar Hell."


Tidak mungkin jika Gedion dikalahkan atau di culik, kakak pertamanya itu tidak lemah. Selama masih ada bara api didalam tubuhnya, kekuatan Gedion tak akan pernah padam. Davian rasa ini perlu diselidiki lebih lanjut, bisa saja menghilangnya Gedion melibatkan pihak-pihak dari keluarga cabang yang menaruh dendam pada keturunan garis utama.


"Lalu tujuan mu mendatangi ku apa? Tidak mungkin hanya sebagai pengantar pesan 'kan?" tanya Davian, tangannya berpindah tempat kali ini menopang dagu dengan malas. Terlihat Layla menghela napas panjang, wanita itu mencondongkan tubuh kearah Davian.


"Lusa ini pemakaman putra kedua akan dilakukan,"


Terus? Alis Davian terangkat penasaran.


"Aku ingin kau kembali ke-kediaman utama untuk menghadirinya meski cuma 1 hari, kemunculan mu yang tidak terduga akan memberi efek besar dan bisa menekan beberapa pihak; keluarga cabang. Setidaknya gejolak dari perang internal akan mereda selama 1 hingga 2 minggu kedepan."

__ADS_1


Simpelnya Layla ingin memanfaatkan Davian, wanita ini tidak ada keinginan untuk mendukung atau memulihkan keadaan di keluarga utama saat ini tapi dia memerlukan posisi penting serta sebuah peran dan juga perlindungan dari bahaya karena dia hanya serpihan kecil dari keluarga cabang. Poin pertama yang Davian lihat dari rencana wanita itu adalah dengan kemunculan Davian membuat sosok Layla jadi dipertimbangkan, mereka atau keluarga cabang akan was-was terhadap wanita itu karena sudah berani membawa Davian kembali dari persembunyian dia. Poin kedua Layla ingin melakukan pengalihan perhatian dengan memanfaatkan eksistensi Davian agar wanita itu bisa membangun faksi miliknya. Poin ke-3 dan yang paling utama menurut Davian adalah dia ingin menjadikan dirinya sebagai salah satu ahli waris atau paling tidak menjadi bagian dari garis keturunan utama yang patut di waspadai. Wanita itu selalu haus akan kekuasan, Davian mengenalinya dengan baik karena mereka adalah teman masa kecil.


Sejujurnya lelaki berkacamata ini tidak ingin ikut terjerumus kedalam rencana Layla tapi Davian rasa dia memiliki hutang budi dengan kakaknya; Adam. Lelaki itu yang bertanggung jawab atas pemakaman Reva dulu Davian rasa tak akan jadi masalah jika ia memilih mengunjungi kediaman lusa nanti sekaligus memberi penghormatan terakhir pada sang putra kedua Adam.


"Baiklah aku akan datang... pastikan nama ku ada dibuku tamu bukan didaftar penyusup..." ucap Davian memberi keputusan. Lelaki itu lalu menoleh kearah kaca jendela pembatas disampingnya, manik hitam Davian menjadi tajam.


Apa itu? batinnya. Davian seperti mengenali sosok yang tengah bersembunyi di ujung jalan dekat pohon besar.


"Eva?" panggil Davian tanpa sadar. Kening lelaki itu terangkat, sepertinya iya—sosok di ujung jalan jelas sekali adalah Eva. Tanpa pikir panjang Davian beranjak dari tempatnya. Lelaki itu membayar pesanan dengan fokus yang tak teralihkan dari Eva; wanita itu seperti melamunkan sesuatu.


Bagus.


Waktunya menangkap wanita nakal dan menyeretnya untuk pulang.


...***...


"Kau tidak berkerja Davian?" tanya Eva sambil meminum teh hangat miliknya di sofa ruang tamu. Lelaki yang mendapat pertanyaan itu menoleh, Davian melipat kembali koran ditangannya lalu menaruh benda itu keatas nakas. Terlihat dia menggeleng kecil sambil membenarkan posisi duduknya.


"Tidak, aku izin hari ini... aku perlu kembali ke rumah orang tua ku..." terang Davian. Eva berkedip beberapa kali lalu meletakan cangkir ditangannya menuju nakas yang sama. Wanita itu kemudian berkata—


"Apa terjadi sesuatu? Masalah?" tanya Eva murni karena rasa penasaran. Davian termenung sebentar, dia tampak enggan memberi jawaban. Dengan sabar Eva menunggu hingga celah bibir Davian kembali terbuka.


"Kakak ku meninggal..." Singkat, padat, dan jelas pikir Eva. Wanita itu lalu mengangguk paham, dia memilih untuk tidak berkomentar apapun lagi. Mari lanjutkan waktu pagi mereka yang sangatlah damai ini hingga pernyataan diluar dugaan keluar dari mulut Davian.


Eva melotot bingung, dia berbalik lagi kearah Davian sambil menunjukan raut muka seolah bertanya 'benarkah?' kau mengajak ku? Serius.


Sejenak Davian terkekeh lucu, wajah polos Eva selalu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Lelaki itu mencondongkan badan menuju arah Eva.


"Aku akan berangkat jam 10 ini, menggunakan taksi... bagaimana? Mau ikut?"


Ish! Davian membuat hal ini jadi terdengar seperti acara tamasya, Eva sih mau-mau saja kalau di ajak ikut; soalnya wanita itu tidak memiliki kegiatan tertentu setelah ini sekaligus dia juga tidak bisa keluar masuk seenaknya seperti dulu tapi hanya saja—argh! Bukankah itu pemakaman?


"Yakin aku tidak mengganggu?" tanya Eva. Davian melemaskan tubuhnya di sandaran kursi, lelaki itu berucap sambil menatap ujung jari kakinya.


"Entahlah... tapi jujur aku sebenarnya agak canggung setelah di usir dulu..." ujar Davian benar adanya berhasil membuat Eva terdiam seribu bahasa.


Lelaki itu mengalihkan lirikan, matanya menatap tajam paha terbuka Eva lalu berpindah lagi menuju wajah wanita itu.


"Jadi setidaknya aku ingin ditemani..."

__ADS_1


Eva tidak tahu masalah apa yang menimpa Davian dulu; hingga lelaki itu di usir dari kediamannya sendiri tapi agaknya si kacamata ini masih menyayangi keluarganya itu; mungkin—makanya dia ingin berkunjung bukan. Haruskah Eva temani? Hitung-hitung dia keluar dari sini dari pada terkurung lebih lama lagi. Ya kan?


Hmmm~


Boleh juga. |


Wajah berpikir Eva tampak imut dimata Davian. Sampai-sampai membuat dia tersenyum kecil saat memperhatikan.


"Baiklah! Aku ikut?!" seru Eva tiba-tiba. Sifat enerjik dari wanita itu kembali muncul, dasar mengagetkan Davian saja.


Ting! Ada lampu menyala diatas kepala lelaki itu.


Senyum kecil yang ditampilkan Davian berubah jadi sebuah senyum simpul. Kepalanya mendapatkan satu ide menarik seusai mendengar suara lantang milik Eva yang kelewatan nyaring.


Eyes smile timbul, senyum para pembisnis. Davian menampilkan deretan gigi sebelum memilih kata-kata yang ingin dia keluarkan. Eva terdiam, apa itu? Kenapa Davian berekspresi mengerikan? batinnya penasaran.


"Dengan satu syarat tapinya..." ucap Davian tenang, berhasil menyentil akal sehat milik Eva. Wanita itu tidak bodoh dia hanya terlihat sedikit polos tapi—


"Bukannya kau yang mengajak Davian? Kenapa malah ada syarat?!" sanggah Eva tidak terima. Apa-apaan itu! Davian mengangkat bahu acuh seolah menunjukan sikap 'ingin ikut apa tidak?' dan itu tampak sangat mengesalkan.


"Huh!" Eva mendengus, baiklah coba kita dengarkan dulu apa syaratnya.


"Memangnya apa?" tanya Eva setengah hati sambil berpikir lebih baik tinggal di apartemen sendiri dari pada melakukan hal aneh yang diminta oleh Davian nanti.


"Simbol pengekang..."


"Hah?"


Apa itu?


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2