Crazy Baby

Crazy Baby
Perangkap


__ADS_3

...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Cerita bersifat fiksi / karangan semata, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan saja....


...Terima kasih,...


...Selamat membaca....


...__________________________________...


...P e r a n g k a p...


...__________________________________...


..._____________________...


...____________...


..._____...


..._...


Putih.


Putih.


Putih.


Dan hanya putih.


"Hah~" Reva membuang napas lelah. Berapa kali pun dia mengedarkan pandangan, hanya putih yang terlihat. Gadis itu sekarang ini duduk lesehan diatas? Alas berwarna putih?


Argh... Apapun itu namanya, terserah.


Alam bawah sadar Reva memperkirakan kemungkinan dia sudah terjebak disini sekitar 1 jam, itu pun kalau tidak ada perbedaan waktu dengan dunia nyata.


Reva mengetukkan ujung kukunya, merasa gelisah sekaligus bosan. Tidak ada satupun tanda-tanda bahwa Davian akan kembali dan menjemput gadis bermanik kelam itu. Yang Reva bisa lakukan hanya menunggu; panik atau mencoba mencerna semua kejadian yang sudah berlalu pun tidak akan berguna. Itu hanya membuat sakit kepala saja—biar waktu yang menjawab semua teka-taki dengan potongan puzzle baru mereka.


"Aku bosan~" gumam Reva sambil mendongak, langit-langit putih terlihat. Entah kenapa rasanya Reva seperti terperangkap disebuah ruang isolasi tertutup tanpa celah dan tengah menerima sebuah hukuman. Ya? Meski Reva tak tahu apa penyebabnya sehingga harus diperlakukan bagai tahanan di dalam penjara.

__ADS_1


Persetanlah!


Rev—?!


"Em?" Reva spontan menoleh, telinganya seperti mendengar sesuatu yang memanggil namanya.


Reva!


Lagi, kembali terdengar—kali ini lebih jelas dan mudah ditebak. Suara itu milik Eni, wanita yang tidak lain adalah sepupu dari Davian.


Fokuskan pikiran mu!


Ucapnya minta Reva membuka jalur komunikasi pikiran. Reva mengangguk kecil sebagai jawaban; walau itu tidak berarti apapun karena Eni tidak bisa melihatnya.


Ada apa Eni?


Tanya Reva begitu berhasil memfokuskan pikiran. Eni yang mendengar ucapan bernada baik-baik saja itu bernapas lega, dia pikir akan terjadi suatu hal buruk pada Reva karena Davian membawanya keluar jangkauan dengan tampang kesetanan tadi.


Davian tidak melakukan sesuatu yang gila bukan?


Reva menggeleng, bibirnya terbuka untuk menjawab Eni.


Erat? Beo Eni tak paham.


Hingga rasanya sesak.


Lalu?!


Tanya Eni kembali dengan nada panik, pikiran aneh berseliweran. Sepupunya itu tidak berniat meremukan tulang Reva—kan?


Dia terkejut dengan perbuatannya sendiri, lalu pergi meninggalkan ku disini.


Hufsh~


Syukurlah. Lega Eni, semua pikiran buruknya tentang apa saja yang bisa dilakukan Davian; sepupunya itu sirna.


Omong-omong, Eni... bisa beritahu aku–sebenarnya apa yang terjadi dengan Davian?


Tanya Reva.

__ADS_1


Terjadi keheningan sesaat sebelum Eni memutuskan untuk menjawab.


Entahlah, aku juga kurang mengerti. Dia tiba-tiba berubah menjadi beringas.


Jawab Eni. Reva menunduk, merasa murung. Lagi-lagi dia tidak bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan atas semua situasi aneh ini.


Kira-kira kapan Davian menjemput ku? Batin Reva.


Aku merasa bosan diruangan putih ini.


DEG!


Mata Eni terbelalak kaget saat tanpa sengaja mendengar keluhan pelan dari Reva yang Eni yakin dan berani jamin kalau gadis bermanik kelam itu tidak sadar saat mengucapkannya.


Ruangan putih?


Reva! Berapa lama kau merasa terjebak disana?!


Pekik Eni nyaring, nada gelisah kembali muncul. Hal itu membuat Reva kebingungan, apa lagi yang akan terjadi; tanya dewi batinnya.


Sekitar 1 jam?


SIAL!


Teriak Eni.


Sebelum sambungan komunikasi keduanya terputus.


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote & comments......


...Terima kasih,...


...Ketemu lagi nanti....


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2