
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...U s a i...
...___________________...
...___________...
..._____...
..._...
BRAK!
Bugh!
"Argh! Hosh... hosh..."
Dimana Eva?
Dimana dia?
"Dimana? Hiks... hiks..."
Tidak, tidak.
TIDAK!
"Aku tidak ingin kehilangan—lagi."
...***...
"Dengan segala macam hal, dengan semua yang kau ingin—akan ku kembalikan. Kau yang mendambakan kesempatan dengan aku yang mengharapkan kehidupan, jika ini jasad mu! Maka ambil-lah! Suatu hari nanti, aku akan hadir. Tidak menjadi bagian diri mu! Tapi menjadi diri ku sendiri, maka dihari itu. Aku akan menampar mu keras menyadarkan hati bengis milik mu, wahai saudari ku yang tercinta ku." Diksi yang begitu rumit, walau lebih terdengar sebagai sumpah serapah untuk sebagai orang jika tidak sengaja mendengarnya.
Cahaya dari batu bertuah semakin terang, selain benda itu lukisan aneh yang mengelilingi tubuh Eva ikut bersinar. Eva menunduk, maniknya perlahan kosong.
Jiwa dalam tubuh itu sebentar lagi lenyap—digantikan jiwa baru. Lebih seperti Eva menimbulkan kepingan hidupnya untuk membangkitkan Reva, namun tiba-tiba terdengar langkah kaki dari kejauhan.
Tap!
Tap!
Tap!
Dia berlari dengan napas tersengal, berharap sampai pada satu tujuan. Senyum tipis hadir, Eva tidak mengira akan terjadi sebuah pertemuan di akhir hidupnya. Sunggu dramatis sekali. Tubuh Eva bersama silaunya cahaya memudar, ada retakan disana-sini. Wajah Davian terlihat menyambut penglihatan matanya.
Haha—
__ADS_1
"Kau-dat... ang Rupa-nya?" Monolog Eva. Davian terdiam, wajah khawatir yang tak pernah luntur terpajang epik, menemani langkah kakinya menuju sosok Eva. Manik dari wanita yang duduk ditengah lukisan aneh itu semakin kosong, Davian tersentak. Ketika sudah cukup dekat; berhadapan dengan Eva—laki-laki itu merosot jatuh. Tubuhnya lemas, tangan yang selalu kekar melindungi Eva tampak bergetar. Lelaki bermanik hazel itu memenggang pundak Eva sambil berucap.
"Tidak bisakah kau diam?" Eva yang mendengar suara lemah Davian melirik. Meski pandangan wanita itu sekarang menjadi tidak jelas, mata Eva seperti ditutupi kabut tapi ia sangat yakin kalau sosoknya sedang membalas tatapan dalam milik Davian. Senyum tipis dengan eyes smile, haha kau sedang mengejek Davian rupanya.
"Kenapa kau selalu, selalu, selalu, selalu, selalu, selalu, selalu, SELALU! INGIN MENGHILANG?! DAN MENINGGALKAN KU!" Ucap lelaki itu geram dengan akhir kalimat lantang serta cengkeraman kuat dipundak.
"Pada siapa kau tujukan ucapan mu Davian?" Sela Eva pelan, berhasil membuat Davian tersentak.
Lelaki itu menunduk malu, dia tahu maksud ucapan Eva tersebut; diperuntukan pada konteks apa.
"Maaf," gumam Davian.
Eva menggeleng, tangan miliknya terangkat menggapai tangan Davian lalu membawa benda itu tepat keatas pangkuan.
"Dia menunggu mu," bisik Eva, berharap Davian merasa senang mendengar kabar dari mulut wanita itu. Eva bahkan yakin, lelaki yang duduk didepannya pasti sudah tahu. Melalui sinkronisasi mimpi. Bukannya mendapat ekspresi yang ia harapkan Eva malah disambut dengan wajah terluka.
"Bukannya kau mencintai dia?" Tanya Eva kemudian, tapi kenapa kau tampak tersiksa? Ini hanya cinta.
"Dia tak pernah mencintai ku," sahut Davian sendu. Dari mana argumentasi konyol tersebut muncul? Eva bertanya-tanya, bahkan ketika dia melihat wajah saudarinya saat menatap dalam sosok Davian, hanya ada cinta didalam manik indah tersebut. Eva menggeleng, ingin menyanggah Davian namun tertahan saat mendapati ucapan lelaki itu.
"Itu bukan cinta, sedari awal. Dia tak pernah mencintai aku! Aku hanya mahluk bodoh yang egois, mengemis cinta pada Reva hingga melibatkannya pada bahaya. Bahkan sampai kematiannya."
"Itu hanya permainan yang Gabriel sengaja ciptakan," sela Eva, meluruskan sesuatu. Davian tahu, dia tahu.
"Sekarang Reva mencintai mu, lebih dari apapun didunia ini."
Hah!
Davian tersenyum masam saat mendengar ucapan sok suci Eva. Dia menatap tajam dengan wajah sendu kearah wanita itu.
Rutuki saja Davian, caci maki saja Davian; lelaki itu tak peduli. Beginilah sekarang dia.
"Kau yakin tidak menaruh hati pada ku 'kan Davian?" Pernyataan tak terduga muncul, sudut hati milik Davian terasa nyeri. Dia hanya mampu mengunci rapat bibirnya tanpa berucap, bahkan menyanggah.
"Aku adalah Reva Davian..." kekeh Eva, merasa lucu. Apa yang lelaki itu debatkan? Padahal dia kembali mencintai orang yang sama. Davian menggeleng.
"Kau bukan dia! Kau lebih—" sahut Davian tertahan.
"Lebih bisa melihat diri ku, kau menerima sosok egois ini dengan senyuman." Tambahnya.
Tubuh Eva semakin memudar, pecahan jiwa beterbangan dimana-mana.
"Pada akhirnya, kau memilih sosok yang bisa membuat mu nyaman." Sahut Eva pelan, masih ingin meladeni lelaki itu hingga detik terakhir hidupnya.
"Terserah kau ingin menilai apa!"
Eva terkekeh.
"Ku mohon, jangan tinggalkan aku."
Aku tak bisa Davian.
Tangan Eva terangkat menuju hidung lelaki itu, dia menyentuhnya gemas sebelum tangannya menghilang. Davian tersentak, waktu jadi terasa lebih cepat dari apa yang di pikirkan. Karena ini sihir dari kekuatan suci, lelaki itu tidak bisa mematahkannya begitu saja. Perlu izin dari pembuat diksi jika ingin membatalkan proses gila ini.
"Kau hanya bingung dengan perasaan mu," ungkap Eva, perasaan letih muncul. Sudah waktunya.
__ADS_1
"Selamat tinggal Davian."
"TIDAK!"
.
.
.
.
.
Bugh!
Davian terjatuh dari ranjang tempat ia tidur. Lelaki itu tampak meringis kesakitan dengan wajah pucat bukan main. Bahkan napasnya terdengar tak beraturan.
Dimana ini? Dimana aku?! Batin lelaki itu mencerna segala macam situasi. Langkah kaki terdengar di pintu keluar paling ujung, sosok Kian terlihat memasuki ruangan. Davian ingat, lelaki berwajah ketakutan itu berusaha berdiri—mendekati Kian, teman lama milik Reva.
Kian tersentak, agak sedikit kaget dengan pemandangan mirip Zombie yang Davian tampilkan. Belum sempat menggapai bahu Kian sosok Elliot muncul entah dari mana atau tepatnya bayangan dari raja Demon tersebut.
"Dimana Eva?!" Tanya Davian setengah berteriak. Elliot sejujurnya kurang menyukai sosok lelaki itu tapi melihat usaha dalam mengejar cinta, Elliot menghargainya.
Sekilas seperti melihat dirinya. |
"Tenang 'lah bung~" ucap raja Demon menggunakan aksen bahasa yang sering digunakan oleh manusia.
Kian setuju, sosok itu baru saja sadar. Jika dia bergerak gegabah—hanya akan membuat Davian kelelahan lalu kembali pingsan. Sambil menggiring tubuh Davian kembali ke-ranjang, Kian harap sosok itu menjadi tenang.
"Ku mohon, beritahu aku. Dimana Eva," terdengar putus asa. Baru kali ini rasanya wanita itu mendengar sosok Davian memohon sedemikian rupa hingga rasanya terdengar menyedihkan.
Hela napas hadir dari sela mulut milik Kian.
"Dia pergi,"
DEGH!
Berhasil membuat jantung Davian melompat jauh dari tempatnya berasal. Tak percaya.
Apa?
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1