Crazy Baby

Crazy Baby
Side Story Zim 4


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...Z i m...


...__________________...


...__________...


...____...


..._...


Entah apa yang ingin di pastikan, Zim tak tahu. Hanya saja dia memilih untuk menentap beberapa hari lagi di ibu kota bagian timur; tempat istana raja berada. Sekadar berharap—mungkin aku akan bertemu dengan dia secara kebetulan seperti sebelumnya. Bisa jadi itu adalah takdir, meski kenyataan berkata tidak.


"Huh~" mengeluhpun percuma. Bekerja di istana adalah sebuah pekerjaan yang paling membanggakan, terlebih lagi bagi seorang monster karena mampu melayani tuan mereka dari jarak yang begitu dekat. Dilihat sekilas saja ada perbedaan kasta diantara mereka, kenapa sekarang Zim malah merasa kecewa?


Seperti perasaan tak pantas untuk bisa bersanding.


Tapi setidaknya dia jauh lebih baik ketimbang suaminya Vioner yang kasar itu. Sungguh! Bagaimana bisa lelaki model bajingan seperti dia mendapatkan seorang pasangan?! Terlebih Nona Vioner pula!


Dunia benar-benar tidak adil.


Apa hanya pada mu saja Zim? |


Entahlah.


"Apa lebih baik aku berpetualang lagi?" Gumam Zim, melamun menatap langit. Bintang yang berperan sebagai matahari menyinari sekitar. Saat ini Zim tengah duduk tepat di hamparan hutan dengan rerumputan hijau; tak jauh dari kota, sesekali angin dingin menyapu permukaan kulit miliknya.


Sembari memikirkan sebuah keputusan Zim mengempaskan pelan tubuh di atas tanah.


Tidur siang? Boleh juga, batin Zim sambil memejamkan kedua kelopak mata.


PLAK!


Deg!


Sebuah tamparan keras terdengar, cukup pedas. Bahkan sisi lain wajah itu di paksa menoleh karenanya. Zim tersentak, dia bangun dari tidurnya lalu menatap sekitar. Siapa yang tengah bertengkar? Di siang bolong dan ditengah area sepi pula! Ucap dewi batin kucing itu.


"DASAR LACU*R! AKU SUDAH BILANG CUKUP BAWA UANG JIKA INGIN MENEMUI KU!" Kedengaran kasar.


"Maafkan aku! Tapi aku merindukan mu?!"


Menjijikkan. Zim membatu, maniknya menatap dalam sosok lancang yang berhasil mengganggu tidur siang sang kumbang macam itu. Ditambah apa yang telinga Zim dengar memperkeruh suasana hatinya.

__ADS_1


Dari semua tempat, kenapa Vioner memilih bertengkar disini dengan suami biadabnya?


Lalu 'kenapa kau terlihat menyedihkan' nona Vioner. Kau tak pantas mengemis cinta pada sosok mengerikan seperti suami mu itu. Sebelum semakin heboh, Zim bangkit; berdiri dari posisi sebelumnya lalu bergerak pelan—menghampiri Vioner yang kembali mendapatkan kekerasan fisik dari seorang pria gila.


Tch!


"Tidak seharusnya kau bertindak seperti itu pada seorang Lady tuan..." ucap Zim datar. Hal ini menarik perhatian kedua orang tersebut, Vioner terkejut. Lagi-lagi dia dipergoki oleh sosok macan kumbang itu. Sambil berusaha susah payah menutupi bekas tamparan di pipi yang perlahan berubah kebiruan, Vioner mencoba bersikap tenang.


Dia tersenyum simpul dengan manik berkaca-kaca. Berbanding terbalik dengan sang suami yang memaki kearah Zim.


"APA-APAAN KAU LAGI?! SIALAN! ENYAH KAU, INI BUKAN URUSAN MU?!"


Zim benar-benar hanya mampu menampilkan ekspresi dingin, bukannya tidak ingin menyahuti makian seseorang yang ditujukan padanya hanya saja; 'akan jadi melelahkan jika dia meladeni orang gila' seperti itu. Lagi pula ada hal yang jauh lebih menarik, sosok Vioner yang berusaha tampil baik-baik saja dihadapan Zim.


Jika kau ingin menangis, menangis saja. |


Merasa di abaikan sosok kurang ajar itu berusaha main tangan kearah Zim, ya meski sedikit terlambat karena Zim lebih dulu mengayunkan pedang tipisnya kedekat area leher lelaki itu.


Bergerak atau mati, pilih saja. Walau tanpa dijelaskan manik hijau Zim berbicara seperti itu.


"Tch!" Terdengar decihan kesal, dia memilih angkat tangan; menyerah dalam situasi tersebut. Tapi entah karena tidak memiliki otak atau memang busuk dari oroknya Zim malah di tuduh macam-macam.


"INI PASTI SELINGKUH MU 'KAN?! DASAR JALA*NG!"


Deg!


Vioner tertegun, dari semua kekerasan yang pernah ia alami hanya kali ini saja rasanya benar-benar menusuk hati. Mungkin karena Zim yang menyaksikan pertengkaran mereka, Vioner jadi merasa malu—tanpa sadar air matanya titik.


Urat-urat marah dileher Zim timbul, matanya membola sempurna. Bahkan tanpa sadar macan kumbang itu melepaskan feromon tubuhnya ke sekitar area, aroma sang pemangsa karnivora.


Makhluk itu gemetar, diantara ketiga orang yang berkumpul memang Vioner 'lah yang paling kuat. Tapi Zim tahu sosok itu (bajingan) tidak lebih kuat darinya. Memilih bungkam, suami Vioner ambil langkah seribu. Tentu sambil melontarkan sedikit kalimat—AWAS KAU JIKA BERTEMU?!


Apanya yang awas, seharusnya kau menjaga sekitar leher mu sebelum aku menebasnya. Maki Zim dalam hati.


Masih terpaku menantap punggung bajingan itu Zim tanpa sadar sudah mengabaikan keberadaan Vioner, setidaknya sebelum rasa dingin dari permukaan tangan menyetrum tubuhnya.


Zim tersentak. Dia menoleh, pemandangan pertama yang menyambut penglihatan mata hijaunya adalah sosok Vioner yang masih berusaha keras untuk tersenyum. Meski ribuan air mata itu titik membasahi pipi.


Sialan.


Apa ini? Tubuh Zim terasa panas.


...***...


"Agrh~"


Tubuh Zim bergetar, selama 3 hari dia terperangkap didalam kamar penginapan karena masa birahinya datang. Lebih cepat dari pada bulan lalu, hanya karena dia terpesona dengan senyum tipis milik Vioner; Zim terangsang.


Sial! Ini benar-benar menyebalkan, dewi batin Zim berucap. Periode seperti ini biasanya berlangsung selama seminggu, setiap 1 bulan sekali; merupakan momen puncak untuk mencari pasangan dan melangsungkan pernikahan. Hanya saja Zim tidak ingin, sebenarnya bisa cepat hilang jika dia mau berhubungan badan dengan seseorang secara random tapi Zim tidak mau melakukan hal tersebut.


Tidak!

__ADS_1


Pikiran kosongnya hanya tertuju pada Vioner, akan sia-sia dia berhubungan dengan orang lain. Itu akan memperparah situasi, bisa-bisa Zim tidak puas karena pasangannya berbeda dan malah berujung mengerikan—seperti menghancurkan pangkal paha seseorang karena mengajaknya melakukan itu selama seminggu penuh. Tanpa makan, tanpa minum.


"Ergh! Ini sungguh menyebalkan..." seperti mabuk, Zim terperangkap dalam ruangan remang yang dipenuhi oleh aroma kuat tubuhnya.


Aku ingin menjebolnya, aku ingin membuat dia menangis keenakan, aku ingin—


"Menikahinya~"


Menanam satu bibit didalam perut mungil itu, tampak sangat menyenangkan. Bahkan tanpa melakukan apa-apa Zim sudah keluar banyak.


HAHA.


Lengket dan menjijikkan.


Kau benar-benar kurang ajar, sialan kau Zim.


Kret~


Suara engsel pintu yang terbuka, Zim menatap horor sekitar.


Siapa? Siapa bajingan gila yang dengan nekatnya memasuki kamar. Feromon Zim pasti menusuk indra penciuman orang itu tapi apa kalian tahu?


Kejutan jenis apa yang Zim dapatkan?


"Permisi..." terdengar lembut.


Keadaaan remang disekitar kamar mengkamuflase tubuh Zim, macan kumbang itu seakan-akan menyatu dengan kegelapan.


"Tuan Zim?" Panggilnya polos. Tubuh Zim bergetar hebat, rasanya sungguh! Sungguh!


Ah~


Zim terbakar.


Vioner. |


Bergerak sesuai insting, Zim mengendap-endap. Mendekati sang mangsa buruannya, salah kau sendiri—kenapa memilih masuk kedalam kandang seorang macan.


"Rraw!"


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2