
...Cerita ini merupakan cerita sisipan, part yang sengaja dibuat sebelum menuju season selanjutnya dari cerita utama Crazy Baby....
...Maaf atas ketidaknyamanan, semoga kalian menikmati jalan kisah pada chapter kali ini....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...S i d e - S t o r y - A d a m...
..._________________________...
...______________...
..._____...
..._...
Kematian adalah momen menyeramkan yang sudah direncanakan. Tak ada yang bisa melihat atau menebak bagaimana cara kematian itu bekerja, mereka mendatangi begitu saja lalu menarik napas terakhir satu kehidupan dengan kejamnya. Sebelum sempat menebus ukiran dosa dibalik punggung suatu ruh—dia sudah kembali dalam pelukan erat dengan tangisan darah disertai senyum penyeselan. Mengerikan, begitulah takdir kehidupan.
"Adam?!"
Mendengar namanya di serukan dengan lantang membuat pemuda itu tersentak sejenak seraya menoleh, wajah Eni menghiasi pandangan mata dengan seragam sekolah yang senada dengan miliknya.
"Apa yang kau lamun kan?" tanya Eni pada Adam. Lelaki itu menutup sampul buku didepannya, menyudahi kegiatan membaca yang berakhir bengong karena tidak mengerti satu bait kalimat pun dalam buku tebal itu.
Adam yang pendiam menggelengkan kepala, memberi isyarat 'tidak ada' pada sepupunya itu.
Eni beroh ria, tak ingin melanjutkan topik pembicaraan satu ini dan lebih memilih ke pembahasan selanjutnya. Adam lihat Eni menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja perpustakaan sekolah sebelum berucap.
"Ku dengar adik mu membuat ulah lagi, si Davian itu..." ujar Eni mengingat bocah yang baru saja masuk sekolah menengah pertama tapi sudah membuat rusuh karena tingkah anehnya.
Adam mengangguk lalu buka suara.
"Iya, tapi dia tak akan dapat masalah... karena dia istimewa..."
Kali ini bergantian Eni yang memberikan anggukan kecil tanda kalau gadis itu paham serta membenarkan ucapan dari mulut Adam perihal sepupu kecilnya itu Davian.
"TREENG!"
__ADS_1
Tiba-tiba suara bell berkumandang ke penjuru ruangan, Adam maupun Eni mengalihkan perhatian.
"Sepertinya sudah waktunya kita berpisah..."
"Pfttt!" Eni menahan tawa, ada apa dengan orang kaku disampingnya ini. Ucapannya seakan-akan mereka harus kembali bertugas dalam medan perang padahal itu hanya isyarat kalau kelas selanjutnya akan di mulai.
"Jangan mendramatisir situasi Adam," oceh Eni sambil berdiri dari tempat duduknya, siap beranjak dari sana. Gadis itu memberikan salam perpisahan pada Adam sebelum benar-benar hilang meninggalkan Adam seorang.
"Aku ke kelas dulu, ketemu lagi nanti di rumah kakek... sampai jumpa."
Adam melambaikan kelima jarinya hingga punggung dari Eni menghilang dari pandangan karena tikungan jalan dalam perpustakaan. Lelaki itu menunduk, membereskan barang-barang miliknya yang berserakan diatas meja namun gerakan Adam terhenti.
"Sial..." rutuknya kecil tanpa suara. Adam menurunkan lirikan mata miliknya ke bawah meja, ada tonjolan besar menjanggal diantara kedua kaki. Lelaki itu tersenyum simpul dangan eyes smile yang terlihat jelas, Adam ingin menangis rasanya.
"Kau benar-benar hina Adam?!" sesalnya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bisa-bisanya lelaki itu terangsang hanya karena berduaan dengan Eni seorang. Warna semerah tomat memenuhi wajah milik Adam, sepertinya lelaki itu akan terlambat ke kelas karena ingin mengurus sesuatu terlebih dulu. Haha, kasian Adam.
...***...
"Apa?!" Adam girang bukan kepalang, hal yang baru saja dia dengar membuat seluruh bunga dalam hatinya bermekaran.
Dirinya dan Eni adalah pasangan takdir, tak ada hal yang lebih menggembirakan dari pada itu bahkan tidak diragukan lagi tentang kebenarannya karena sang kakek-lah yang berucap demikian. Adam tak mengira cintanya selama ini adalah bagian dari tintah merah takdir kehidupan, meski begitu bisakah mereka bersama? Itu pertanyaannya.
Kegembiraan Adam luntur seketika, senyumnya menjadi satu garis lurus dengan mata membola sempurna. Manik hazel lelaki itu menjadi sedikit gelap dari warna aslinya.
"Tapi... kita keluarga? Bagaimana bisa?!" keluh Eni. Gadis itu benar-benar tak habis pikir, tangannya terangkat menyisir tiap-tiap surai rambut yang menghalangi wajah.
Adam mengulum bibirnya beberapa detik lalu buka suara pada detik berikutnya. Sambil tersenyum simpul lelaki itu berucap—
"Mungkin kakek salah ucap, kau tahu kan Eni... kakek sudah tua..." bisiknya pada telinga Eni teramat pelan hingga lelaki tua didepannya tak mampu mendengarnya.
"Kenapa kita tidak pulang saja?" tawar Adam setelahnya, tidak memberi jeda terhadap Eni; untuk sekedar menyahuti omongan lelaki itu. Tanpa menoleh Adam memutarbalikkan tubuh Eni, membawa gadis itu menjauh dari kakek mereka—meninggalkan ruangan milik sang kepala keluarga.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan langkah cepat atau tepatnya Adam menyeret Eni agar langkahnya senada dengan miliknya.
Eni mengerutkan kening, bingung atas tingkah sepupunya itu. Ada apa tanya-nya dalam hati sebelum merasakan cengkeraman kuat diarea bahu.
Adam menyakitinya.
"Adam sakit!" tegur Eni terang-terangan, dia menunjukkan ketidaksukaan terhadap prilaku Adam tapi yang Eni dapat hanya lah tatapan mengerikan.
Deg!
__ADS_1
Eni tahu kalau rona mata mereka sama tapi Eni bisa melihat sisi kelam dari manik hazel Adam saat ini, seakan-akan lelaki itu tengah berusaha menyembunyikan sosok lain dalam dirinya meski rasanya sia-sia karena Eni bisa merasakannya.
Tanpa sadar Eni mengeluarkan kekuatan miliknya, tubuh yang Adam pegang menjadi transparan lalu sosok Eni menjauh dengan kening berkerut besar.
"Ada apa dengan sikap mu Adam?" tanya Eni baik-baik sambil menyembunyikan kegugupan. Adam berbalik, menuju arah Eni berada karena gadis itu berpindah tempat tanpa seizinnya.
"Sikap ku?" beo lelaki itu. Eni mengangguk ragu, Adam benar-benar lain dimatanya. Lalu tiba-tiba tawa hambar terdengar dari mulut Adam memunculkan sikap waspada milik Eni secara sadar. Eni mundur ketika Adam memajukan tubuhnya hingga punggung gadis itu terhimpit pada tembok di koridor rumah.
Tangan Eni terangkat menahan dada Adam yang ingin menempel pada tubuhnya.
"Aku serius Adam, apa yang coba kau lakukan?!"
Tak ada jawaban selain deru napas teratur dari lelaki itu. Eni mendongak, menyamakan pandangan tapi dia malah dibuat merinding karena tatapan intens dari Adam; seolah menelitinya. Tangan Adam tiba-tiba tergerak menuju dagu kecil milik Eni—membawa benda itu menuju arah wajahnya.
"Hei!"
Guratan kesal tak bisa Eni sembunyikan tapi dia terlalu takut untuk mendorong Adam menjauh dari posisi yang sangat intim ini. Adam tak bereaksi. Lelaki itu lalu membuka pelan bibirnya, suara rendah dari lelaki pendiam memenuhi rongga telinga gadis itu. Eni terdiam—membeku ketika mendengar ucapan yang baru saja dilontar Adam padanya.
"Aku menyukai mu—
Tidak aku mencintai mu"
Disambung dengan bisikan pelan yang mampu membuat tubuh seseorang meremang gila.
"HAH?!"
...***...
...Tbc...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Terima kasih sudah mampir,...
...jangan lupa klik like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1