
...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...___________________________________...
...P e r t a m a...
...___________________________________...
...______________________...
...___________...
...____...
..._...
Davian menatap datar; lurus kearah depan, setengah tubuhnya menyandar pada tembok yang begitu kokoh disebuah lorong kampus. Beberapa orang seumuran Davian tengah lalu-lalang didepannya, membuat lelaki itu merasa sesak.
"Hah~"
Dia benar-benar malas harus kuliah lagi, dikampus yang baru—lagi. Sedikit informasi kalau Davian sering berpindah kampus karena dikeluarkan secara; ehm! Kurang terhormat dibeberapa kampusnya terdahulu, ya meski sebenarnya alasan dikeluarkan itu ada pada kelakuan Davian sendiri yang terbilang? Aneh? Kalian tahu 'kan—yang dimaksud aneh disini? YA! Tapi tolong abaikan saja untuk semantara waktu.
Bagi Davian pendidikan itu tidak terlalu penting; selain sebagai status sosial di zaman sekarang—mengingat semakin tinggi gelar seseorang maka derajatnya akan lebih baik dimata masyarakat, sungguh peraturan menggelikan yang tak terlihat namun lama-kelama mencekik. Haha |
Tapi karena keputusan mutlak dari sang kakek, Davian harus patuh dengan mulut terbungkam; menjalani kehidupan 'normal' sebagai seorang mahasiswa baik (coret kata baiknya) pada umumnya sembari melakukan tugas pemburuan dan pemurnian bola-bola hitam berbahan dasar aura negatif manusia. Dua peran yang melelahkan dengan reputasi menyedihkan.
__ADS_1
"Bugh!"
Eh?
Davian tersentak kecil begitu merasakan tubuhnya disenggol tanpa sengaja—padahal sedang asik bersarkasme pada kehidupan kampusnya terdulu didalam hati. Lelaki bermanik hazel itu berbalik cepat dengan sorot mata tajam; siap melontarkan kalimat protes pada si pelaku tapi hal terduga terjadi. Mulut Davian memang terbuka tapi tidak satu patah katapun terdengar. Matanya membola dengan ekspresi tak percaya, setengah kagum—setengah terpesona. Gadis bermanik kelam berwajah cantik terpampang jelas dihadapan Davian.
Jaraknya tidak begitu jauh atau terlalu dekat.
Badum~
"Maaf!" Ucapnya buru-buru bersama gerakkan menunduk. Tanpa membuang waktu atau berbasa-basi lagi, Reva berbalik dan melangkah pergi meninggalkan pria asing yang baru saja dia senggol tanpa sengaja.
DEG!
Blush~
Rona merah naik dikedua pipi Davian, wajahnya terlihat manis meski dengan tampang linglung yang begitu konyol jika dilihat.
Apa ini? Batin lelaki itu, merasakan jantungnya seperti ingin meledak. Detaknya terdengar begitu keras seolah benda itu terletak tepat digendang telinga Davian. Lelaki itu mengangkat tangan kedada, mencengkram pakaiannya hingga kumal, semakin dibiarkan semakin menjadi.
DEG! DEG! DEG!
Wajah Davian terasa panas, dia segera berbalik. Serampangan—lelaki bermanik hazel itu berlari pergi dari lorong sana. Apa ini? Perasaan apa ini?
Kenapa rasanya begitu kacau? Dan? Berdebar!
ARGHHH!
Dia merasakan bunga-bunga seperti mekar diperutnya, menggelitik dan menari-nari.
Jangan bilang—
__ADS_1
Jangan bilang dia tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan PERTAMA?!
"Tch!"
Davian menggigit bibir bagian dalam, menutup setengah wajah memerahnya dengan telapak tangan. Apa benar dia jatuh cinta? Pada gadis yang bahkan dia tidak tahu namanya dan hanya berpapasan tadi?!
Lord!
Jangan bercanda.
Semakin dipikirkan semakin aneh dan semakin—memalukan.
"Argh..." Davian mengerang pasrah, langkahnya terhenti. Lelaki itu berjongkok; menyimpan seluruh wajah disela lutut—mengabaikan pandangan aneh orang-orang yang penasaran akan tingkahnya.
Hiks!
Davian ingin menjerit, membawa pergi wajah tersipu malunya ke-dasar samudra terdalam dunia.
Bisa-bisanya hal ini menimpa Davian, sungguh—
"Ini konyol sekali..."
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & commentsnya......
...Terima kasih,...
...Bye...
__ADS_1
...:3...