Crazy Baby

Crazy Baby
Mahkota Bunga


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._________________________...


...M a h k o t a - B u n g a...


..._________________________...


...___________...


..._____...


..._...


"Mari kita kesampingkan masalah ahli waris dulu—" ucap kakek Davian gantung. Ketiga orang yang berada dalam satu ruangan itu membeku, aura dingin tiba-tiba muncul—membuat tubuh dari masing-masing diri mereka meremang ngeri. Momen yang di tunggu-tunggu, Davian menelan kasar salivanya. Dia melihat sang kakek melanjutkan kalimatnya yang menggantung.


"Atas izin siapa? Kau boleh menginjakkan kaki disini Davian?"


DEGH!


Rasanya seperti mendapati ujung cambuk memukul kuat bagian punggung, Kevin dan Sarah tidak bisa berkutik; apalagi Davian—sosok yang tepat berhadapan dengan sang kepala keluarga utama yang tidak lain adalah mata cambuk itu sendiri.


Davian membenarkan tata letak kacamata yang dia pakai, dulu—saat lelaki itu masih menjadi sosok jenius dalam keluarga mereka. Dia tak pernah sekali pun mendapatkan intimidasi kuat dari sang kakek, jadi begini rasanya diperlakukan sama rata. Karena Davian yang dulu memang menjadi kesayangan dia tidak tahu itu.


Betapa kuatnya kakak-kakak Davian; Adam maupun Gedion karena mampu untuk bertahan dibawah tekanan konyol seperti ini.


Dipandang rendah dan tidak berguna, apa untungnya lahir dari garis keturunan utama tapi bukan sosok yang dapat dibanggakan? Kira-kira seperti itulah sorot pandang yang dapat Davian baca dari kakeknya.


Hah~

__ADS_1


Mencoba menghilangkan rasa gugup, Davian harus memutar otak untuk mencari jawaban atau dia akan mendapat teguran keras karena melanggar hukuman yang sudah ditetapkan.


"S—saya hanya berkunjung sebagai seorang anak yang merindukan orang tuanya, bukan sebagai anggota keluarga utama..." ucap Davian meski sedikit ragu, dia harap jawaban itu dapat memuaskan kakeknya. Namun terjadi keheningan panjang setelah itu, Davian sempat berpikir kalau jawaban yang dia berikan salah tapi melihat reaksi wajah dari sang kakek lelaki itu bernapas lega.


"Begitu 'kah~ ku rasa itu tidak melanggar apapun... hahaha..." Kakek Davian berucap cerah sambil menepuk-nepuk pelan punggung Davian. Akhir dari kalimat lelaki tua itu diselingi oleh tawa renyah yang benar-benar lantang, membuat semua orang disana tersenyum kecut. Mereka tidak mengerti selera humor yang coba kepala keluarga utama tampilkan, alhasil mereka hanya mampu menunjukkan tawa hambar demi menghargai perasaan pria tua itu.


Tidak ingin berakhir canggung lagi Davian rasa dia perlu menanyakan sesuatu pada sang kakek, berhubung lelaki itu dalam mood yang baik saat ini tapi belum sempat menyuarakan kata-kata Davian malah dikejutkan pada suatu hal.


"Mahkota bunga?" gumam Davian pelan dengan mata yang membola. Tangannya menangkap cepat mahkota itu, belum sampai 3 detik helai dari bunga berwarna cerah ditangan Davian lenyap seketika.


Dia tahu pemilik dari ribuan mahkota bunga yang tiba-tiba muncul ini, tidak lain dan tidak bukan; pasti ini milik—


"EVA?!"


...***...


"Padahal aku sudah memperingati mu tapi kau melanggarnya. Bukan salah ku jika kau mati." bisik Eva kejam, ribuan mahkota bunga mencekik kuat leher Layla. Beberapa anggota cabang berdatangan; menyaksikan dari kejauhan sambil saling berbisik menbar gosip—tak ada satupun yang mau melerai pertengkaran kedua wanita ini.


Layla mencoba melawan semampunya tapi energi yang dimiliki Eva jauh lebih kuat dari miliknya. Rasanya sebentar lagi Layla akan kehilangan kesadaran jika Eva semakin kencang mencekik lehernya tapi sepertinya dewi keberuntungan berpihak pada Layla. Sosok pawang dari wanita gila itu akhirnya hadir, Davian memeluk tubuh Eva lalu membatalkan kekuatan bunga miliknya.


Wajah asing yang Eva tunjukan membuat Davian khawatir, dia membingkai wajah Eva lalu membawa pandangan wanita itu menuju arah manik matanya.


Davian kali ini bertanya lembut pada Eva.


"Hei? Ada apa Eva? Kenapa kau semarah itu?"


Kata-kata bernada lembut itu berhasil menarik perhatian dari wanita ini, Eva mengalihkan pandangan lalu membalas sorot mata lelaki didepannya. Meski sayang wanita itu masih enggan memberi jawaban pada Davian.


Lelaki berkacamata itu mencoba menganalisis sekitar, jika wanita itu diam artinya dia dalam kondisi yang benar-benar marah. Lalu ada sosok Layla di kejauhan dengan kondisi berantakan, sepertinya dia tahu apa yang terjadi. Davian menghela napas panjang setelah mengerti. Dia kembali membuka celah bibir untuk bersuara—


"Apa Layla mengganggu mu lagi?"


Eva mengangguk. Layla yang melihat interaksi kedua orang didepannya ini berkedut jengkel, wajah sekarat dari wanita itu lenyap karena rasa geli menatap tingkah Eva dan Davian. Layla yang di tuduh macam-macam berucap tidak terima pada pasangan itu—


"KENAPA JADI SALAH KU?! WANITA MU SAJA YANG GILA DAVIAN!"

__ADS_1


"BERISIK!" Davian menoleh tajam, sorot mata mengerikan tampil menyambut Layla. Wanita yang merupakan teman masa kecil dari Davian itu tersentak kaget. Dia tidak salah lihat 'kan? Mata Davian tadi berkilat hazel, bahkan bukan hanya dia yang menyaksikan—beberapa orang yang berada disana dibuat kaget juga dengan penampakan tersebut.


Manik hazel dari Davian kembali, pertanda apa ini?


Kakek Davian yang menyaksikan dari kejauhan bersiul kecil. Menarik, dia berjalan mendekati cucu kesayangan yang tengah bersama wanita asing dengan kekuatan unik; mahkota bunga.


"Ada apa ini?" tanya sang kakek. Davian menoleh malas, kenapa sosok ini terlihat bugar dari pada kabar yang dia terima sebelumnya? Ya, meski Davian tahu kalau lelaki tua itu sedang menjaga martabatnya dengan menahan rasa sakit disekujur tubuh tapi tetap saja—dia tidak terlihat seperti seorang yang tengah sekarat!


"Hanya masalah kecil kakek..." sahut Davian sopan, tangan yang membingkai wajah Eva berpindah. Lelaki itu menggenggam jemari manis milik Eva lalu menyembunyikan sosok wanita itu tepat di belakang punggung. Kepala keluarga utama curi-curi pandang—dia ingin mengintip wanita seperti apa yang berhasil membuat cucunya itu panik bukan kepalang lalu berlari cepat ditengah obrolan layaknya orang gila.


Tak ada yang menarik selain warna jiwa; yang tidak asing? Eh?


Kakek Davian terdiam, beberapa kali dia berkedip tidak percaya. Dia mencoba menjauhkan Davian yang menghalangi agar bisa dengan jelas melihat sosok Eva. Warna ini? Dia yakin sekali!


"Siapa kau nak?" tanya sang kakek saat berhasil mendorong tubuh Davian menjauh. Lelaki paruh baya itu menunduk, menatap dalam wajah Eva. Wanita yang berada tepat didepan lelaki tua itu menampilkan raut bingung, tangan kakek Davian lalu terangkat; membingkai setiap sisi dari pipi Eva.


Semakin diperhatikan semakin mirip, jiwa ini jelas milik—


"Kakek?" sela Eva polos membuat sang kakek teralihkan.


Sebenarnya apa yang terjadi? batin lelaki tua itu tak mengerti, jelas-jelas wanita didepannya ini adalah—


REVA.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2