Crazy Baby

Crazy Baby
Teman


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...T e m a n...


...___________________...


...__________...


...____...


..._...


Posisi pegunungan merah berada di tenggara sedangkan kastil besar milik raja Demon berada dibagian timur. Eva menimang-nimang rute jalan yang harus dia ambil setelah cukup lama menatap dalam peta dunia.


Berhubung wanita ini berada didaerah barat sepertinya rute tercepat ke tenggara adalah melalui ibu kota selatan, walau jalur yang Eva pilih memutar tapi ini lebih baik ketimbang dia melakukan perjalanan ke timur; tempat kastil raja Demon berada. Di timur pasti banyak penduduknya karena disana adalah pusat dari seluruh kerajaan dunia bawah akan sangat merepotkan jika ada 1-2 orang yang tiba-tiba menyadari penyamaran Eva, alih-alih bisa ke tenggara Eva malah berakhir jadi buronan atau parahnya lagi dijebloskan ke penjara untuk dijadikan hidangan makan malam makhluk sana.


"Ève?" Seseorang memanggil, Eva melipat peta dunia yang berada ditangannya lalu menoleh. Sosok macan kumbang yang Eva temui di perpustakaan besar kembali muncul, Zim namanya.


Sebelum mereka berpisah ke dua makhluk ini sempat bertukar nama alias berkenalan, Eva tidak mengira kalau mereka akan bertemu lagi setelah Eva keluar dari perpustakaan bagian barat.


"Hallo Zim..." sapa Eva ramah. Wanita itu menyimpan peta dunia ke dalam tas punggungnya.


"Aku tidak mengira kita akan bertemu secepat ini..." sambung Eva lagi dengan niat bercanda. Ini benar-benar sebuah kebetulan. Zim terlihat menanggapi ucapan Eva dengan tawa renyah.

__ADS_1


"Aku pun tidak menduganya, aroma tubuh mu memiliki sesuatu yang unik Ève... tanpa sadar aku melangkah sesuai insting menuju kemari dan ternyata itu aroma mu... " ucap Zim. Mungkin macan kumbang itu tidak bermaksud apa-apa tapi hal yang baru saja Eva dengar ini cukup mengejutkan. Apa bau tanah tandus sudah menghilang dari tubuh wanita itu? Sepertinya iya. Gawat! Eva harus melumuri tubuhnya kembali jika tidak ingin ketahuan.


Sambil menjaga jarak dari Zim Eva coba menanggapi makhluk itu semampunya.


"Benarkah... haha..." Eva menelan kasar salivanya.


Tiba-tiba Zim menundukkan tubuh besarnya, Eva tersentak saat merasakan embusan napas dari hidung kucing itu. Jantung wanita ini berdebar kuat, Zim seperti tengah membaui tubuh Eva.


"Oh ya Ève?" Panggilnya. Eva bergerak menjauh secara alami, dia menahan hidung macan kumbang itu sambil menjawab.


Ya? Tanpa suara, manik tajam dari Zim terlihat memantau; aura intimidasinya keluar. Sial makhluk ini benar-benar membuat Eva gugup tanpa alasan yang jelas, selain sosoknya yang tampan dan menggemaskan tentunya.


Lelaki itu kembali menegapkan badan; sebut saja makhluk itu sama dengan manusia hanya wajahnya saja yang berbeda—mirip hewan.


"Kau bilang ingin ke pegunungan merah di tenggara kan, ku rasa kita bisa jadi teman seperjalanan Ève... berhubung aku ingin kembali ke ibu kota bagian timur," ucap Zim di luar dugaan, wajah intimidasi yang terlihat sebelumnya menghilang.


Meski itu tawaran yang bagus tapi lebih baik Eva menolaknya, berbahaya jika dia terlalu lama bersama makhluk dunia sini. Cepat atau lambat penyamaran Eva bisa terbongkar, entah secara sengaja atau pun tidak.


"Apa kau ada keperluan disana Ève? Di selatan banyak sekali bandit, jadi biasanya itu rute yang paling dihindari oleh petualang pemula."


Eva terdiam, luar biasa dia mendapatkan informasi secara cuma-cuma. Tapi mendengar langsung dari mulut Zim sepertinya lelaki itu sudah terbiasa berpetualang, tidak ada salahnya jika mendengar dari ahli tapi ini mungkin sedikit berisiko. Seumpama Eva memilih rute timur yang rata-rata adalah jalan menuju pusat kerajaan, wanita ini akan kesulitan kabur ataupun bersembunyi. Lebih baik berhadapan dengan beberapa bandit dari pada menjatuhkan diri dalam perangkap, itu menurut Eva. Tanpa menunggu lama Eva mengangguk, dia membenarkan dugaan Zim soal dirinya yang memiliki urusan di selatan.


"Sungguh, kalau begitu boleh aku ikut?" Sanggahnya tiba-tiba, mata Eva membola—apa maksud dari perkataan macan kumbang ini?


"Bukannya kau bilang ingin kembali ke timur?" Tanya Eva tanpa sadar. Zim tertawa kecil sambil menepuk pelan kepala topeng serigala milik Eva.


Eva menampilkan gurat bingung.


"Aku hanya ingin mengantar dan menjaga mu Ève sebelum sampai ke tenggara, anggap saja aku tipe yang tidak bisa membiarkan petualang muda mati padahal dia kenalan ku." Wanita ini tahu kalau kalimat Zim tidak memilik maksud apapun didalamnya, hanya saja—Eva ragu. Haruskah dia menolak atau menerima usaha yang dilakukan Zim?


"Dengar Ève... selatan bukan kawasan bermain, penduduk sana masih mengandalkan insting mereka dari pada akal. Jadi hampir semua orang disana selalu menumpahkan darah demi bersenang-senang, entah itu melakukan penganiayaan, kanibalisme, perampokan hingga penculikan. Semuanya menjadi hal yang biasa, aku memang tidak tahu kau memiliki urusan apa di selatan tapi biarkan aku ikut. Anggap saja kau seperti menyewa seorang pengawal pribadi untuk menjaga mu..." terang Zim panjang lebar. Eva ingin percaya, ragu wanita itu menilik dari sela topengnya.

__ADS_1


"Apa alasan mu Zim? Menawarkan bantuan tanpa imbalan pada ku?" Mungkin terdengar kasar tapi Eva harus memastikan niat Zim yang sesungguhnya; meski meragukan pertolongan seseorang itu benar-benar tindakan tidak sopan tapi wanita ini perlu tahu. Makanya Eva sengaja mengaktifkan sedikit mata bunga dari kekuatannya untuk mendeteksi kebohongan.


"Hanya ingin membantu," ucap macan kumbang itu. Dia dengan bangga berkacak pinggang didepan Eva, soal menunjukan kalau sosoknya amat perkasa. Tanpa sadar Eva menaikan sudut bibirnya, merasa senang dan terhibur atas tindakan kucing besar tersebut.


"Di tambah sepertinya aku menyukai mu Ève..." sambung Zim setengah berbisik, berhasil membuat Eva salah tingkah.


Haha.


...***...


"Tch!"


Dasar menyebalkan, batin Davian kesal. Lelaki itu melempar cepat belati kecil yang berada ditangannya menuju kawanan serigala jadi-jadian didepan sana; hanya berjarak 5 meter dari tubuh si hazel. Harus berapa kali lagi Davian menghabisi anjing-anjing liar ini, selama melewati 2 desa tanpa nama didaerah barat lelaki itu bahkan tidak mendapatkan secuil pun informasi soal Eva. Dimana keberadaannya atau bagaimana cara dia menyamar agar bisa berbaur dengan sekitar, semua nihil. Seakan wanita itu menghilang tanpa jejak.


Slep!


Davian memotong leher serigala berkepala 3 yang mencoba menerkam dirinya dengan cara melopat menggunakan belati baru. Darah segar banjir dimana-mana, mengenai jubah hingga wajah Davian.


Lelaki itu merotasi kedua bola matanya, ah~ Davian benar-benar muak. Tunggu saja kau Eva, wanita itu harus membayar 10 kali lipat karena berhasil membuat si hazel ini kerepotan.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2