Crazy Baby

Crazy Baby
Karena


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________________...


...K a r e n a...


...__________________________...


...__________________...


...__________...


...___...


..._...


"Entah bagaimana aku berhasil mempengaruhi 'mereka' dengan uang Josan... Mungkin saat itu aku benar-benar diliputi keberuntungan..."


Davian mengelus lembut pucuk kepala gadis yang tengah bersandar nyaman di dadanya.


"Perlu kurang dari satu tahun, Josan berhasil menemukan ku... awalnya aku masih mencoba kabur darinya tapi rasa benci ku mengalahkan ketakutan—untuk pertama kalinya aku memilih menghadapi sosok bajingan itu..." ucap Reva lagi. Mendongak ke atas; menatap sosok Davian yang memperhatikan dirinya dengan sorot mata lembut.


Telapak tangan dengan permukaan kasar senantiasa mengelus surai rambut milik Reva. Menghantarkan gadis itu pada rasa nyaman serta kehangatan yang tiada tara, pelan kelopak mata Reva tertutup—sebelum kehilangan kesadaran gadis itu menyampaikan satu kalimat pada Davian.


"Tapi jujur, seberani apapun aku pada Josan... aku tetap takut... takut jika—dia kembali menyakiti ku, seperti... dulu."

__ADS_1


Reva terpejam, dengkuran halus dengan ritme teratur terdengar dari sela bibir gadis itu. Wajahnya damai ditelan mimpi.


Davian berdiri dari duduknya sambil mengangkat tubuh kecil milik Reva—perlahan, dia tak ingin gadis yang barus saja terlelap dalam gelondongan tangan ini terbangun. Gadis itu pasti lelah, menangis seperti orang gila lalu meracau berbagai macam kalimat yang Davian tak mengerti apa maksud sebenarnya.


Lelaki bermanik hazel itu beranjak dari lantai, dilaluinya ruang tamu hingga terlihat daun pintu kamar milik gadis ini. Dengan gerakan sehalus kapas, Davian membuka benda itu; berjalan masuk lalu membaringkan tubuh Reva diatas ranjang bermotif feminin.


Usai melakukan itu semua—yakin kalau Reva sudah berada ditempat nyaman juga aman, lelaki itu berbalik. Sorot mata dingin dengan aura gelap keluar perlahan dari dalam tubuh Davian.


Dia memang tidak memahami maksud perkataan Reva, tapi satu hal yang bisa lelaki hazel itu tangkap adalah;


Reva memangis.


Menangis—


"Karena si bajingan itu?!" geramnya hingga urat-urat leher terlihat.


...***...


Mustahil!


Davian terlihat tak berminat untuk membantah, dia hanya menceritakan semua kenyataan yang terjadi ketika Gabriel menyusup masuk kedalam ruang semu; pseudo.


BADUM!


"Ish!" tiba-tiba lelaki bermanik hazel itu tersentak. Jari manis pada tangan kanannya seperti terbakar, Eni maupun sang kakek curi-curi pandang—penasaran.


Dua orang itu melihat kalau jemari Davian memerah. Apa artinya? batin mereka.


"Sial!" gerutu Davian.


"Ada masalah dengan istri ku?!" sambung lelaki itu informal. Suara jentikan jari terdengar menggema, sosok bermata hazel yang duduk dihadapan sang kakek menghilang begitu saja.

__ADS_1


Tak!


.


.


.


.


.


"ARGHHHHH!!!!!"


Davian membisu, baru saja dia sampai di kediaman Reva tapi pemandangan yang dijumpai oleh mata lelaki itu adalah sosok menyedihkan gadis bernotabe istrinya; terduduk di atas lantai dekat pintu dengan ribuan air mata meluncur bebas hingga meninggalkan bekas kemerahan didekat kelopak mata. Sudah berapa lama gadis itu menangis, jari manis Davian berdenyut. Kesedihan Reva mengundang aura negatif hingga mengacaukan Davian.


"Reva!" pekik Davian panik, bergegas mendatangi gadis itu.


"Hiks... hiks.. Davi–an?"


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......


...Bye......

__ADS_1


...:3...


__ADS_2