
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih....
...Selamat membaca....
...___________________________...
...K e s a y a n g a n...
...____________________________...
...________________...
...______...
..._...
"Bisa tekan kekuatan Kakek?" pinta Davian setelah beberapa saat terjadi keheningan panjang. Sang kakek tersentak, lelaki tua itu terkekeh kecil; merasa malu dengan kelakuannya—tidak bisa mengontrol kekuatan karena perasaan pribadi.
"Maafkan kakek," sahut lelaki itu gantung. Kembali meneruskan topik kakek Davian mengajukan pertanyaan yang memiliki maksud sama kepada sang cucu.
"Jadi Reva punya tunangan secara nyata?"
__ADS_1
Davian mengangguk. Meski sangat tipis keberadaannya tapi Davian masih menyadari tekanan dari kekuatan sang kakek. Seolah-olah dia tak menyukai topik pembahasan ini, ya... jujur Davian juga enggan membahasnya.
"Lelaki itu bilang kalau Reva memang tunangannya, walau dari sudut pandang saya... Reva terlihat membenci bajingan itu..." ujar pemilik hazel muda kepada sang kakek. Kakek Davian mengangguk paham, agak sedikit jengkel mendengarnya.
"Kakek ingat? Peristiwa tercemarnya Reva? Padahal dia pemilik darah Gabriel," Lelaki tua itu menyahut 'ya' tanpa suara dan hanya menggerakkan bibir saja. Davian melanjutkan kata-katanya.
"Pemicu utamanya adalah lelaki bajingan itu! Dan hari ini dia membuat Reva menangis jingkrak. Jika dibiarkan Reva akan ditelan oleh lonjakan emosinya sendiri hingga tercemar?!" dengus Davian di akhir kalimat. Lelaki pemilik manik hazel itu jadi kembali geram ketika mengingat moment Reva menitikkan ribuan air mata tepat didepan Davian.
Tidak hanya Davian disini yang mencoba sabar tapi kakeknya juga. Lihat dari ekspresi lelaki berkeriput itu yang tampak ingin menelan siapa saja karena berani menyenggol teritori mereka.
"Apa yang kau lakukan Davian?" Bobot pertanyaan yang kakek Davian lempar itu mengandung makna tersirat seperti 'apa kau hanya membiarkan bajingan itu menyakiti istri mu?' atau 'kau diam saja?' Davian yang paham hal itu berdehem sejenak. Dia mencoba membuat suara yang tersangkut di tenggorokan keluar melalui mulutnya.
"Tentu tidak kek, saya membuatnya merasakan kematian singkat melalui ilusi... lalu untuk hari ini saya mengirimkan bunga hitam mimpi buruk dan membuat kepalanya terpenggal sebelum fajar esok hari terbit, itu tak akan berakhir." Ada sedikit nada bangga dari Davian. Sang kakek yang mendengar celotehan cucu bungsunya terkekeh senang.
Davian?
Deg!
Merasa namanya terpanggil, lelaki bermanik hazel itu menoleh. Melihat cucunya tiba-tiba bergerak tak biasa sang kakek mencoba memahami situasi, diperhatikannya gelagat Davian yang seperti menajamkan pendengaran.
Baru bangun ternyata? dewi batin Davian berkomentar senang. Wajah lelaki itu terlihat berseri dimata kakeknya.
"Reva memanggil~ jadi saya mohon pamit kek..." ucapnya sambil tersenyum simpul. Kakek Davian tertegun, dia merasa sudah lama tidak melihat wajah bahagia Davian secara tulus. Lelaki tua itu ikut menaikan sudut ujung bibirnya.
"Pergilah..." sahut kakek Davian manis. Bersama tertelannya wujud Davian dalam bola-bola hitam; pemilik manik hazel muda itu ber-teleportasi pergi, meninggalkan sang kakek seorang diri diruangan tersebut.
__ADS_1
"Indahnya masa muda~"
...***...
"Ergh..."
Reva baru saja membukakan matanya, langit-langit kamar yang akrab dengan gadis itu terlihat menyambutnya untuk pertama kali setelah lama terpejam. Gadis itu mengubah posisinya perlahan menjadi duduk—menyender di kepala ranjang.
Bagaimana ia bisa sampai disini? Mungkin itu yang tengah dipikirkan Reva. Gadis itu jadi termenung, otaknya berselancar giat mengingat semua moment sebelum tertidur.
"Davian?" gumamnya tanpa sadar menyerukan nama lelaki itu. Sang suami Reva. |
...***...
...T b c......
...Jangan lupa like, vote, dan comments yah......
...Terima kasih....
...Ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1