Crazy Baby

Crazy Baby
Lupakan


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi/karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._____________________________...


...L u p a k a n...


...______________________________...


...______________________...


...______________...


..._______...


...___...


..._...


"Rasanya sakit, tidak bisakah jika kita seperti ini saja?" gumam Davian bernada tanya. Reva dibuat bingung; tak tahu harus bertindak apa, bibirnya membentuk satu garis lurus. Diam mencerna ucapan sang pemilik hazel.


Sakit? batin Reva. Tiba-tiba gadis itu teringat perkataan Eni, sepupu Davian. Ketika Davian bersikeras melakukan ritual pemisahan ikatan, ada gelombang aneh yang hadir; meledak hingga membuat Davian kehilangan kewarasannya.


Sepertinya Reva tahu maksudnya. Rasa sakit apa yang disebut Davian.


"Tak apa," tutur Reva beberapa detik kemudian seraya berdiri dari tempatnya. Derap langkah terdengar digendang telinga Davian, gadis bermanik kelam itu berjalan cepat memutari ranjang menuju posisi Davian.


"Aku tak pernah memintamu melakukan hal seperti itu..." ucap Reva lagi. Gadis itu berjongkok tepat didepan Davian, pandangan mereka bertemu.

__ADS_1


Eh?


Davian tersentak, dia merasa sedikit kaget. Apa yang baru saja didengarnya? Melihat wajah kebingungan Davian membuat Reva mengangkat kedua tangannya menuju rahang lelaki itu.


Deg!


Deg!


Deg!


Wajah Davian merona, tangan-tangan kecil milik Reva membingkai mukanya. Apa ini! Apa ini! Rasanya menggelitik.


"Dari awal itu keputusan seenaknya yang kau buat Davian, aku tak pernah berpendapat sekalipun..."


Benar, Davian mengakui perkataan Reva. Lelaki itu tak pernah mendengar pendapat gadis didepannya karena dia terlanjur yakin pada pemikiran bahwa Reva juga tak ingin bersama. Davian terlalu angkuh, dia beranggapan kalau tangan menyedihkannya ini sudah merampas kehidupan gadis yang ia sukai seenaknya atas nama takdir.


"Jadi kau tak keberatan jika berpasangan dengan ku?" gumam Davian. Maniknya bergetar dengan sorot mata penuh pengharapan, ucapan Reva terdengar seperti memberi peluang—Davian jadi berani berkata demikian. Hati kecilnya seolah berteriak 'Ada kesempatan untuk mu!' hingga apa yang dia harapkan musnah.


Davian membeku. Mulutnya membisu.


DEG! DEG! DEG!


Detak nyaring hingga mampu membuat Davian merasa tuli, benda bernama jantung itu seolah sengaja diletakan tepat digendang telinganya.


Berisik. Berisik! BERISIK!


Apa-apaan itu, wajah apa itu? batin Davian. Reaksi Reva diluar perkiraan lelaki bermanik hazel ini.


Gadis itu tak menjawab apa-apa, wajahnya dingin—pernyataan Davian seakan menjadi angin lalu di telinga Reva. Tangan Davian mengepal, rasanya lembap. Lelaki itu membuka mulutnya.


"Tida—k... itu, bukan—!" gagap Davian. Suaranya tertahan di tenggorokan. Wajah Davian pucat, lelaki itu merasa gugup dengan manik menatap liar sekitar.


Melihat kegelisahan tanpa dasar Davian, Reva membuka suaranya. "Entahlah~" ujarnya lembut. Gadis itu menunduk, tangan yang masih merengkuh pipi Davian bergerak halus; mengelus pelan garis rahang sang pemilik hazel.

__ADS_1


"Tapi aku nyam—!"


"LUPAKAN! Lupakan saja!" potong Davian cepat setengah membentak.


Brak!


Davian tiba-tiba berdiri, Reva tersentak—nyaris terjungkal. Tanpa peduli keadaan, Davian kembali keatas ranjang. Berbaring nyaman disana; meninggalkan Reva yang menatap kebingungan dari arah bawah lantai.


Sakit.


Sesak.


Rasanya tak bisa bernapas.


"Tch!" Davian kesal, dia menutup paksa kedua matanya—berbalik memunggungi Reva.


Gadis itu berdiri dari posisinya, melenggangkan kaki ketempat Davian berada. Manik kelam milik Reva mulai menjelajah dari ujung kepala hingga kaki Davian.


"Kau marah pada ku Davian?" tanya Reva penasaran.


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...Terima kasih....


...Ketemu lagi nanti......


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2