Crazy Baby

Crazy Baby
Memberontak


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._____________________...


...M e m b e r o n t a k...


..._____________________...


..._____________...


..._____...


..._...


"Hah? Haha..." Eva tertawa canggung sambil membalikkan badan, ditatapnya Davian yang sedang menyilangkan tangan ke dada dengan aura intimidasi kuat. Sial, rutuk Eva dalam hati; tidak menyangka kalau dia sudah dipergoki oleh Davian.


Eva mengalihkan pandangan saat Davian membalas tatapannya tajam, wanita itu menelan kasar salivanya. Lagi-lagi dia merutuki diri sendiri atas kecerobohan yang ia lakukan. Bagaimana bisa ketahuan lagi?!


Eva mengangkat tangan ke tengkuk, wanita itu menggaruk pelan area sana yang tiba-tiba terasa gatal. Davian diam memperhatikan, menunggu reaksi apa yang akan Eva tunjukan atas perjumpaan tak terduga mereka. Hela napas panjang seusai tawa canggung hadir, terlihat mulut Eva bergetar. Mencurigakan; wanita itu akan melakukan apa?


"Sa... sampai jumpa!" ucapnya lantang lalu berbalik badan dengan niat kabur. Beberapa detik Davian membiarkan; lelaki itu menatap datar atas tingkah laku Eva yang agak gimana—setelah berjarak kurang lebih 5 meter Davian menyeringai. Lelaki itu mengambil ancang-ancang lalu bersiap lari untuk mengejar Eva.


"Ku tangkap kau Eva..." desisnya sadis lalu berlari kencang menyusuli Eva. Menyadari seperti tengah di-ikuti, Eva melirik kecil dari balik ekor matanya dia lalu tersentak saat sadar kalau Davian dengan wajah buas tengah mengejarnya.


"Aaaa!!!!!" tanpa sadar Eva menjerit ngeri karena langkah Davian sudah seirama dengannya. Tingkah mereka benar-benar jadi tontonan publik, tak sedikit yang bingung ketika melihat kedua orang itu sedangkan lainnya malah tertawa lucu menyaksikan kekonyolan Eva yang merengek bagaikan anak kecil saat Davian berhasil menangkapnya.


"Tidak lepas?! Aaaa!" berontak Eva. Posisi wanita itu sekarang sudah terkurung dalam pelukan Davian. Lelaki dengan bingkai kacamata diwajahnya itu berusaha menulikan pendengaran; Eva terus berteriak tidak jelas tepat didaun telinga. Sial, bisa rusak gendang telinga ku.


Pusing dengan tingkah Eva yang menirukan ikan dipasar, Davian memilih mengangkat Eva kebahu layaknya karung beras. Eva terkejut, saat ini dia sedang mengenakan rok—wanita itu takut roknya tersingkap.


"Jika kau tak ingin malu, berhenti bergerak-gerak kesana kemari," tegur Davian dengan nada remeh yang rasanya menyebalkan. Dengan wajah memerah menahan amarah Eva merotasi kedua bola matanya malas. Wanita itu menggembungkan pipi lalu berhenti bergerak sesuai instruksi.

__ADS_1


Davian tersenyum senang atas rasa patuh yang ditunjukkan Eva. Lelaki berkacamata itu pun memilih melangkahkan kaki untuk beranjak pergi dari sana.


Sambil berjalan Davian berbisik pelan—


"Ayo kita pulang... kerumah..." dengan nada lembut yang terdengar hangat.


Manisnya~ |


...***...


Eva memanyunkan bibir, dia menatap malas sekitar. Tak ada yang berubah dari apartemen Davian; cukup bersih dan rapi seperti biasanya tapi yang jadi masalah bagi Eva adalah sosok lelaki bernama Davian itu telah memasang sebuah mantra pembatalan. Jadi semua jenis kekuatan spiritual dan lainnya akan dinetralisasikan secara spontan; hal remeh yang merepotkan. Ibarat air mendidih lalu uapnya terangkat dan tanpa sadar uap itu nantinya akan menghilang.


"Huh?!"


Davian menoleh, Eva membuang napas gusar. Lelaki dengan bingkai kacamata diwajahnya itu terkekeh—lucu melihat Eva tertekan.


"Dari pada kau seperti itu, lebih baik siapkan makan malam!" tegur Davian setengah bercanda. Anehnya Eva menurut meski dengan wajah lesu dia masih mau bergerak menuju dapur. Wanita itu pasti lapar makanya jadi penurut, tebak Davian sambil melangkahkan kaki menuju kamar tidur. Dia perlu berganti pakaian dengan sesuatu yang lebih santai.


Memang egois sekali Davian, selain mantra pembatalan lelaki itu juga menutup akses keluar masuk dengan simbol acak yang sengaja Davian sebarkan di ruang apartemen—sederhananya seseorang tidak bisa keluar atau masuk ke apartemen kecuali atas izin dari pemasang simbol. Hal ini Davian lakukan agar ruang gerak dari wanita itu menjadi terbatas sehingga dia mudah untuk mengontrol Eva nantinya.


Kreet...


Lelaki itu tertahan ketika mendengar suara daun pintu yang terbuka, dia melirik. Eva terlihat muncul dengan wajah memerah sambil mencoba mengalihkan pandangan dari tubuh setengah telanjang milik Davian.


"Makan malam siap..." gumam Eva beberapa detik setalah itu ia memilih kabur dari sana. Davian terkekeh, ada-ada saja kelakuan Eva. Bergegas lelaki bermanik hitam ini mengganti pakaian; sebuah kaos longgar dan celana selutut—dengan pedenya Davian beranjak keluar. Mata itu menangkap sosok Eva yang berdiri dekat meja dapur; dia ingin melepas apron dibadannya.


Davian menyeringai, ide jahil muncul. Dia mempercepat langkah; sebelum Eva berhasil melepas apron ditubuh—Davian sudah menempelkan dada miliknya kebelakang punggung Eva. Tangan Davian melingkar tanpa sadar dipinggang Eva, membuat yang empunya tubuh terkejut—Eva menoleh penasaran. Bertanya-tanya apa gerangan yang sedang Davian lakukan.


"Senang melihat mu kembali..." bisik Davian. Entah apa maksudnya, Eva tak mengerti. Karena tidak ingin mengacaukan suasana yang sudah cukup canggung ini, Eva memilih membiarkan. Biar saja lelaki itu memeluknya erat sepuas yang ia inginkan.


Gromggh~


"Hah?"


Mereka berdua terkejut, beberapa detik setelah itu wajah Eva berubah merah serupa tomat. Davian melirik, dia mencoba menahan bibirnya agar tetap terkunci tapi tak bisa.


"Pfttt!"

__ADS_1


"Tertawa saja Davian, jangan ditahan!" sarkas Eva masih dengan wajah memerahnya. Davian yang mendengar itu tak bisa menahan lagi, tawa lelaki itu pecah dibarengi sikap memberontak Eva. Wanita yang sekarang berwajah masam melepaskan pelukan Davian lalu melempar apron ke wajah lelaki berkacamata dibelakangnya.


"HAHAHAHA!"


Terdengar entakan kaki dari Eva, wanita itu berjalan menjauhi Davian menuju meja makan. Dia melirik malas sang lelaki yang masih menertawakan sosoknya, dengan beringas Eva melahap habis apa saja yang berada didepan matanya.


Melihat itu Davian bergerak panik, dia menggantung kembali apron ketempatnya sebelum ikut duduk di seberang meja makan.


"Sisakan aku~" keluh Davian saat Eva hampir memakan nyaris semua hidangan yang ada di meja. Seakan tuli, Eva lebih memilih untuk mengacuhkan Davian.


Lelaki berkacamata itu meringis ngeri, sial dia kira mereka sudah berdamai—ternyata tidak.


"Eva... sisakan..."


Tak ada respon atau jawaban.


Davian menghela napas panjang sambil memasang wajah memelas, dia lalu berkata—


"Maafkan aku okay? Aku tak akan lagi menertawakan suara perut mu yang lucu..." ucap Davian tanpa maksud tapi malah dibalas dengan tatapan tajam dari Eva.


"Kau ingin ku tusuk menggunakan garpu?"


"Eehhhh?"


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2