Crazy Baby

Crazy Baby
Apa itu?


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi/karangan semata, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan saja....


...Sebelum membaca silahkan 'klik' vote, like dan comment, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya orang lain....


...Terima kasih,...


...Selamat membaca....


... _________________________________________...


...A p a—I t u ?...


..._________________________________________...


...__________________________...


...___________________...


...___________...


...______...


...___...


..._...


DEG!!!!


Reva terkejut, suasana tenang bersama celoteh Kian menghilang—tergantikan dengan keadaan remang. Reva berdiri, Kian menghilang entah kemana. Keadaan kelas senyap. Reva menuju jendela, membuka kasar kaca didepannya. Pandangannya mengedar; dari sudut kesudut.


Berjarak 400 meter dari posisinya. Dinding pembatas hitam dengan bentuk kubah melengkung terlihat. Atmosfer ini.


Persis seperti keadaan Reva yang tanpa sengaja memasuki Davian.


"Ruang dimensi?" Gumam gadis itu.


Sebenarnya ada apa?


Reva menjauh. Berbalik arah sambil setengah berlari menuju koridor. Dia harus mencari Davian, meski nanti laki-laki temperamental itu tidak akan suka. Setidaknya Reva ingin mencari tahu.


Anehnya, meski remang-remang Reva masih bisa dengan jelas melihat. Benar-benar tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya disini.


"BRAKKKK!!!"

__ADS_1


Tiba-tiba dentuman besar terdengar. Lantai bergetar sejenak. Debu-debu pasir terlihat bersama beberapa puing bangunan.


Sumpah! Demi tuhan?! Apa yang terjadi?!


Reva mempercepat langkahnya menuju lantai dasar. Menilik keadaan. Setengah bangunan kampus dibagian barat hancur.


"Rhmmm!!!"


Deg!


Reva sepontan berjongkok. Kedua tangan menutup mulut dan hidungnya. Perasaannya tidak enak muncul. Dia mencoba bersembunyi dibalik bayangan. Geraman lain terdengar.


Dari kejauhan. Reva melihat. Makhluk besar, mirip anjing. Tubuhnya hitam. Wajahnya menyedihkan. Reva tebak itulah penyebab runtuhnya bagunan kampus bagian barat.


Gerakannya lambat. Dia terlihat marah sekaligus menangis.


Apa-apaan benda itu!


...***...


Dari atas bangunan, Davian menatap aura negatif yang sudah berubah bentuk menjadi makhluk hidup. Cukup besar. Lelaki dengan manik hazel itu bersiul. Dia melompat menuju bawah, bola-bola hitam yang selalu dikontrolnya terlihat dibawah. Menangkap tubuhnya; pendaratan sempurna.


Jarang-jarang aura negatif memilih bentuk besar, dan terlihat seperti monster—rupanya diantara para manusia disini ada yang memupuk dendam sangat besar lalu tiba-tiba tanpa sadar malah meledakkannya.


"Ya... meski ada kemungkinan dia dikutuk..." gumam Davian. Tubuhnya membungkuk; posisi siap menyerang. Kilatan dari maniknya terlihat tajam.


"SLAPPP!!!"


Davian melompat. Serangan kejutan dilayangkan monster itu. Formasi Davian sedikit berantakan.


"Tch!" Lelaki dengan surai coklat itu berdecih. Dengan gerakan cepat dia ingin menyerang makhluk didepannya. Beberapa bagian tubuh yang berhasil disentuh Davian meledak.


Meski terlihat tidak memberi dampak berarti.


Tubuhnya memang besar, tapi gerakannya terbatas. Tak salah Davian membuat ruang dimensi berukuran sedang. Ini benar-benar menguntungkan.


"ARGHHHH!" Monster itu menjerit.


Bingo! Senyum miring hadir dengan bangga diwajah Davian. Pekerjaan seperti ini benar-benar menyenangkan. Dia harus menyelesaikannya.


Davian memperpendek jarak. Tangan kosongnya siap memberikan serangan terakhir. Sampai sosok tidak terduga hadir didepan matanya.


Davian memindahkan posisi tangan dengan panik. Bangunan yang masih tersisa melebur menjadi debu. Efek dari kekuatannya adalah ledakan. Apa saja yang tersentuh tangan Davian pasti akan hancur. Tapi disamping itu.

__ADS_1


Tatapan nyalang terlihat—Davian menoleh kesal. Dia menjentikkan jari. Bola-bola hitam berwarna pekat keluar, melahap Reva juga dirinya. Menjauh menuju jarak aman.


"Plak!"


Wajah Reva menoleh kesamping secara paksa. Baru saja mereka berpindah tempat. Sudut bibir gadis itu robek.


"APA YANG KAU PIKIRKAN!!" Davian berteriak. Mereka bersembunyi dibangunan kampus yang masih utuh.


Emosi Davian meledak.


"Apa yang kau lakukan! Masuk ketengah-tengah pertarungan? Kau ingin mati?!" Maki Davian. Reva menoleh—membalas tatapan Davian. Mulutnya terkunci.


Dia memang bodoh. Mengacaukan Davian yang harus membersihkan makhluk itu.


Menahan rasa pedas. Baru pertama kali Reva ditampar seseorang, rasanya sedikit menyakitkan ternyata.


"Aku tanya, APA KAU INGIN MATI?!" Ulang Davian kesal. Reva masih mengabaikan dirinya.


ARGHHHH!!! MENYEBALKAN!!


Davian menjambak rambutnya gemas. Kenapa dengan gadis ini! Bukannya dia tipe penurut beberapa hari yang lalu?


Lupakan.


Tanpa ingin berbasa-basi lebih lama. Davian melangkah pergi; ada yang harus dibereskannya ketimbang berurusan dengan Reva.


"Tetap disana." Desis Davian. Memberi perintah.


Tapi sayang. Langkahnya terhenti. Tarikan kecil dari ujung baju belakangnya terasa. Sudut bibir Davian berkedut.


Ya Tuhan! Apa mau gadis ini?! Davian menoleh kasar. Menatap Reva.


"Jangan sentuh dia," ucap Reva tiba-tiba.


HAH!!


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa Vote, Like dan commentsnya......


...Terima Kasih,...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2