
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________________________...
...K E N A P A !...
...__________________________________...
..._______________________...
..._______________...
...________...
...___...
__ADS_1
..._...
"Ah!" reson Reva begitu mendengar penjelasan. Gadis itu menoleh lalu menatap wajah dari samping Davian.
"Jadi kau marah karena aku menjawab tidak sesuai yang kau harapkan Davian..." gumam Reva menyimpulkan, Davian yang mendengar itu merasa malu. Dia menggigit pipi bagian dalam sambil membuang pandangan jauh-jauh dari Reva.
"Apa kau berharap aku akan menjawab 'iya' saat aku tahu kau membenci ku~" monolog Reva yang berhasil membangun perasaan tak suka lelaki bermanik hazel itu. Davian yang mendengar kalimat menggelitik daun telinga itu cepat-cepat menoleh kearah Reva, apa yang gadis ini gumamkan barusan? tanya dewi batin Davian.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku membenci mu?" sanggah Davian. Reva terdiam, dirinya sedikit tersentak karena Davian tiba-tiba bersuara cukup keras dan lantang disampingnya, tapi kemudian gadis itu bereaksi lucu dengan kekehan renyah.
"Haha... lalu kau mau bilang kalau kau menyukai ku?" sahut Reva bercanda. Davian bungkam beberapa saat, kata penuh jenaka yang diucapkan Reva menyentilnya. Davian jadi ingin berteriak dengan kalimat 'ITU BENAR! AKU MENYUKAI MU, AKU MENCIN—
"Mengingat semua hal yang sudah terjadi,"
"Terikat hubungan seperti pernikahan secara astral tak pernah ada di kamus mu 'kan Davian, kau selalu mengeluh dan melayangkan tatapan tajam lalu berusaha mencari cara agar lepas dari takdir timpang ini..."
Tidak! Tidak benar! Bukan begitu Reva, jerit Davian dalam hati. Lelaki itu menampilkan wajah kecewa, cerminan dirinya seakan muncul tepat didepan matanya seperti delusi. Reva membuka kembali bibir pucatnya, gadis itu melanjutkan apa yang ingin dia katakan dengan ekspresi sederhana.
"Aku juga sebenarnya tak pernah berpikir akan terlibat, dunia mu seperti fantasi hidup Davian... bukan berarti aku membenci dan menyalahkannya, hanya saja... jika memang pena merah sudah ditentuk...an—apa boleh bu... at... oamm~" tutur Reva, kata-katanya tiba-tiba menjadi lemah. Pandangan gadis itu berubah kabur dengan sendirinya hingga akhirnya Reva terpejam. Dengkuran halus bernada teratur terdengar disela bibir gadis pemilik manik kelam disamping Davian.
Benda-benda hitam yang selalu melayang dimana-mana layaknya udara perlahan menyatukan diri. Aura hitam memenuhi inci demi inci ruangan tanpa meninggalkan sejengkal celah. Davian menggeram, entah sejak kapan posisinya sudah berubah menjadi mengkungkungi Reva. Manik hazel itu bergetar menatap lekat wajah damai gadis dibawahnya.
__ADS_1
"Tarik, tarik lagi kata-kata mu Reva" desis Davian. Bola mata hazelnya kehilangan warna, digantikan corak keemasan penuh cahaya. Tangan Davian menuju surai-surai milik Reva—membawa beberapa helai untuk diberikan kecupan lembut.
"Jika aku tidak menidurkan mu, apa kau akan terus melanjutkan kata-kata itu? Apa maksud mu dengan kalimat 'apa boleh buat?' mudah sekali kau menerima candaan tuhan! Tapi kenapa?! Kenapa kau kebingungan dalam menjawab pertanyaan ku?! KENAPA REVA! KAU ANGGAP AKU APA?! JANGAN BICARA OMONG KOSONG, PERSETAN—APANYA YANG NYAMAN?!"
Kau menganggap ku sebuah hiburan bukan?
Reva! |
Tes...
"ARGHH!"
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
__ADS_1
...Bye...
...:3...