Crazy Baby

Crazy Baby
Side Story Zim


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...________________...


...Z i m...


...________________...


...________...


...___...


..._...


Baru kemarin rasanya kehidupan bergerak begitu cepat namun lihatlah sekarang siapa kira akan kembali ketitik awal yang sangat membosankan.


"Hah~"


Lenguhan napas panjang terdengar dari arah mulut Zim, kucing besar itu tampak tidak berselera dengan sarapan paginya disebuah kedai. Beberapa kali terlihat Zim curi-curi pandang kearah luar, memperhatikan aktivitas dari orang-orang yang berlalu lalang diluar kedai. Davian sudah lama pergi, pengobatan kucing itu juga selesai. Mau tak mau Zim harus angkat kaki dari istana karena dia tidak memiliki jenis kepentingan tertentu yang mengharuskan dirinya untuk menentap di istana Raja. Lagi pula Elliot tampak mengharapkan itu.


Sekarang apa yang harus ia lakukan?


Memulai petualang baru? Entahlah, jujur Zim sedikit merasa enggan. Memang berpetualang memberi sensasi tersendiri seperti kebebasan hanya saja, untuk beberapa alasan tertentu Zim rasa dia tak akan melakukannya dulu demi keselamatan diri juga mentalnya. Haha. Siapa tahukan nanti; bisa saja Zim kembali terlibat dengan hal-hal besar lainnya yang menyenangkan. Tapi tidak sekarang, Zim akan benar-benar mati jika ia nekat melakukannya. Sungguh.


Menentukan tujuan adalah konsep dasar yang harus dimiliki petualang hanya saja Zim saat ini benar-benar malas melakukan apapun.


Tidak bisakah berdiam diri saja sambil bermalas-malasan?


Hah~


Pemikiran bodoh apa itu? Zim menopang dagunya jenuh, isi pikiran dari makhluk setengah kucing itu mulai melayang. Tanpa sadar dia menyebutkan sebuah kalimat yang tak pernah terpikirkan akan keluar dari mulutnya.


"Apa aku menikah saja yah?"


Eh!

__ADS_1


Tunggu! Tunggu?! Zim terkejut dengan pemikiran yang baru saja terlintas dalam benaknya, bahkan kucing besar itu menampar sendiri pipi miliknya gara-gara berani mengucapkan kalimat sakral itu. Sial! Kemana jiwa bujang mu Zim! Bisa-bisanya berpikiran begitu.


Dia jadi teringat keluarganya di kampung halaman, mereka pernah menawari Zim untuk menikah lalu mengelola ladang pertanian milik keluarga. Sekilas seperti sebuah kehidupan damai hanya saja Zim menolaknya karena tidak ingin hidup-mati terperangkap didaerah pedesaan. Siapa sangka dia malah terpikirkan lagi hal tersebut, haruskah Zim kembali kesana lalu menikah? Sungguh?


Ya, meski ada satu masalah. Wanita yang dijodohkan dengan Zim dulu pasti sekarang sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Percuma saja jika pulang kampung dengan niatan tersebut jika akhirnya dia tetap jadi bujangan, Zim bisa diejek habis-habisan nanti. Perjaka tua.


Ish! Membayangkannya saja menggelikan, apa lagi harus mengalaminya. Jika saja Ève masih ada didunia ini mungkin Zim akan dengan gamblangnya melamar wanita itu ya meski dia akan ditemukan mati ke-esokkan harinya berkat Davian. Haha.


Tapi sungguh! Pemikiran soal pernikahan tidak mau hilang dalam kepala makhluk itu. Bagaimana ini? Rasanya Zim ingin menangis.


"Tuan?" Tiba-tiba terdengar sapaan samar, Zim mengangkat sebelah alisnya penasaran. Tumben sekali ada yang memanggil sosoknya disaat beberapa orang terlalu enggan menyapa kucing besar itu. Ini karena warna bulu milik Zim yang terlalu gelap, jadi memberi kesan jahat jika sekilas dilihat.


Sosok berwujud setengah laba-laba dengan mata majemuk terlihat, dia menggunakan tudung besar di kepalanya. Zim tahu siapa itu.


"Nona Vioner?" Tanya Zim, makhluk itu mengangguk.


"Sebuah kebetulan bisa bertemu dengan mu disini nona..."


Vioner terkekeh, dia duduk tepat didepan meja makan tempat Zim berada sambil berucap.


"Kau benar, sudah sepekan rasanya terakhir kali aku mengobati lengan mu. Aku tidak mengira kau masih ada di kota ini..." Kali ini bergantian Zim yang terkekeh.


"Aku tidak memiliki rencana apapun makanya aku kebingungan," ucapnya bernada canda. Vioner beroh ria menanggapi ucapan lelaki itu. Manik hijaunya tiba-tiba bergerak, menatap keranjang berisi tanaman obat disamping tubuh Vioner.


"Iya, beberapa waktu terakhir ini curah hujan meningkat pada malam hari jadi tumbuhan Ŕioners di ladang mengalami kerusakan. Petani mengeluh dan tidak bisa memasok tumbuhan itu ke istana untuk sementara waktu jadi aku harus turun tangan mencarinya langsung di alam liar."


Selain sebagai obat herbal benda itu juga sering dijadikan teh untuk kaum bangsawan. Karena raja mereka sangat menyukai benda tersebut mau tak mau Vioner harus memiliki stok tumbuhan Ŕioners atau dia minta izin saja dari Sebastian agar bisa keluar lalu membeli teh kemasan instan di dunia manusia. Haha. Patut dicoba, Ratu pernah bilang kalau kedua benda itu memilik rasa dan aroma yang sama. Omong-omong kenapa tugas jenis ini malah dilimpahkan kepadanya bukan pada kepala koki! Atau pelayan istana! Arghhh! Menyebalkan.


Zim meringis, setelah percakapan terakhirnya dengan nona ini Vioner tampak melamunkan sesuatu. Entah apa yang makhluk betina itu pikirkan tapi dari raut wajahnya terlihat kusut dan masam. Pasti sesuatu yang buruk tengah terjadi.


Haruskah Zim menolong wanita itu? Hitung-hitung balas budi karena mau merawat tangannya.


"Ehm!" Zim berdehem cukup keras, hal itu berhasil menyadarkan Vioner. Makhluk betina didepan mata Zim tampak tersentak sebelum akhirnya hela napas pasrah terdengar dari celah bibirnya.


"Maafkan aku tuan, aku tidak fokus..." gumam Vioner. Zim tak masalah, ini bukan sekali dua kalinya dia diacuhkan seseorang.


"Aku tahu tempat yang banyak ditumbuhi Ŕioners. Mau kesana?" Tutur makhluk itu, berhasil membuat manik Vioner berubah menjadi cerah.


"Benarkah?!" Serunya lantang. Zim mengangguk.


"Yups! I know."

__ADS_1


...***...


Rasanya Vioner seperti hidup kembali, liat tempat yang dipenuhi tumbuhan Ŕioners itu! Bahkan ada beberapa yang sudah berbunga. Ini ladang emas?! Aaaaa! Vioner senang sekali, sampai-sampai mengabaikan sosok Zim yang berada tepat disampingnya.


"Dimana kau temukan daerah ini!" Seru Vioner lantang sambil memilah-milah, bahkan kualitas tumbuhannya diatas rata-rata. Mungkin kelas B jika dijual dipasaran bisa meraup untung 3 kali lipat dari biasanya. Terdengar kekehan samar dari arah mulut Zim. Tampak lelaki itu mengangkat bahunya acuh.


"Kebetulan, saat aku tidak sengaja tersesat waktu pertama kali ke daerah timur."


"Benarkah?!" Sahut Vioner tak percaya. Kenapa tidak ada satu orangpun yang tahu?


"Lalu aku membeli lahannya dan meminta beberapa orang untuk mengelola secara diam-diam, hehe..."


Tch! Pantas saja!


"Kau boleh ambil sesuka mu," ucap Zim. Meski tidak diberi tahu Vioner sepertinya mengerti maksud dari tindakan macan kumbang itu, bangsa Mächam tidak terlalu suka berhutang budi.


"Baiklah! Terima kasih kalau begitu?!" Sahut Vioner bersemangat tanpa rasa sungkan. Dia langsung memetik beberapa Ŕioners lalu menyimpannya didalam keranjang. Aktivitas tersebut tidak luput dari penglihatan Zim, sekilas pikiran aneh kembali muncul.


"Mau menikah dengan ku tidak?"


Hah?


Apa maksudnya itu?


Tunggu! Kenapa suasananya berubah canggung?! Sial! Tengkuk Zim berkeringat dingin, apa yang baru saja dia ucapkan?!


Aaaaarghhh!


Aku ingin menghilang. Hiks, malunya |


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2