Crazy Baby

Crazy Baby
Tunjuk


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...T u n j u k...


...____________________...


...___________...


...____...


..._...


Mungkin ini terdengar sedikit lucu tapi posisi yang sedang Eni rasakan persis seperti Davian dulu. Bedanya wanita itu tidak mencintai Adam hanya saja mereka masih terikat takdir yang sama, percuma kalau Davian ingin menghibur sepupu terdekat dia—nyatanya lelaki berkacamata ini tidak selembut sekarang jadi yang hanya bisa Davian lakukan adalah melihat dari kejauhan sosok Eni yang meletakan bunga terakhir diatas jasad Adam lalu memilih untuk menghilang bersama pria itu.


Entah hal apa yang terjadi setelah kepergian Davian dari kediaman utama 3 tahun lalu tapi semua keadaan saat ini sangat menggambarkan kalau keluarga hazel sedang goyah, ditambah kakek mereka; selaku kepala keluarga utama tidak dalam kondisi baik-baik saja. Patut Davian acungi jempol soal ide Layla—meski dia sudah termasuk orang buangan, dengan hadirnya Davian di pemakaman ini akan menekan gejolak dari perang internal.


Tiba 'lah pada giliran Davian, bersama Eva yang merangkul tangannya erat; mereka memberi penghormatan terakhir kepada sosok Adam. Lelaki yang sekarang terbujur kaku tanpa rona kehidupan, Davian letakan setangkai bunga putih disana—dia merasakan Eva menggenggamnya kuat. Seakan wanita itu tengah memberi seberkas kekuatan pada Davian, lelaki dengan kacamata ini tersenyum pahit.


"Terima kasih Eva..." bisiknya pada Eva. Andai kata Davian dekat dengan kakak-kakaknya mungkin saja Davian saat ini merasakan kehilangan luar biasa tapi nyatanya tidak. Davian dan Eva lalu beranjak dari sana, sekilas Davian rasakan kalau tubuh Eva bergetar. Agak jauh dari keramaian di aula pemakaman Davian berpaling, menoleh kearah sosok Eva yang tengah menitikkan air mata. Dengan panik Davian langsung membingkai wajah Eva, lelaki itu sedikit menunduk—mensejajarkan diri dengan wanita didepannya.


"Kenapa kau menangis Eva?"


Wanita itu menggeleng kecil saat Davian bertanya, dia mencoba menghapus air matanya dengan tangan tapi tidak bisa.


"Ti... tidak... hiks... hiks..." sahut Eva, jemari Davian ikut menyeka air mata yang mengalir dari arah pelupuk mata.


"Hanya saja karena Davian tidak menangis, itu membuat ku sedih."

__ADS_1


Deg!


Davian terdiam, bibirnya bergetar. Beberapa detik dalam posisi itu Davian akhirnya memilih untuk tersenyum simpul. Eva lihat wajah lembut yang coba Davian tampilkan, semar tapi Eva paham kalau wajah itu adalah wajah yang sudah merasakan luka namun mencoba tetap tegar.


"Tidak apa-apa..."


...***...


Eva menatap dalam ujung sepatu yang dia kenakan. Saat ini dia sedang tidak bersama Davian, laki-laki itu tadi izin pamit sebentar—entah melakukan apa; mungkin menegur sapa keluarga dia. Setidaknya setelah di usir Davian tidak jadi pribadi pendendam. Pemandangan taman dalam kediaman besar milik keluarga Davian cukup indah dengan interior klasik, Eva sangat menikmatinya—beberapa detik lalu sebelum Layla datang menghampiri dan duduk tepat disampingnya.


"Hah~" Eva menghela napas pasrah, jangan buat keributan tekan wanita itu didalam hati. Mari abaikan saja wanita di samping ini dan kembali menatap semut-semut yang berjalan melewati sela sepatu. Mereka cukup imut saat berusaha mencari jalan, hehe... Eva senang melihatnya. Seperti berusaha mencari jalan keluar tapi malah dihadapkan oleh tembok besar yang menjulang, jika mereka berakal mereka pasti memilih memutar dari pada memanjat lalu berakhir terinjak.


"Kau tahu?"


Tidak! batin Eva saat mendengar Layla malah membuka topik pembicaraan dengannya. Sebentar Eva melirik risih lalu berusaha sebaik mungkin untuk menjaga jarak dengan Layla.


"Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa kau menempel dengan Davian segitunya?"


Pertanyaan yang cukup menarik, Eva menoleh seraya tersenyum lugu kearah Layla. Rasanya menyebalkan jika dilihat lama-lama, batin Layla geram.


"Terus aku selirnya..." sahut Layla sembarang. Wajah ceria Eva luntur, telinganya terusik dengan candaan garing dari wanita itu. Layla yang tak kunjung dapat jawaban menoleh penasaran, alisnya terangkat sebelah.


Wanita yang merupakan teman masa kecil dari Davian itu mengira kalau setidaknya dia dan Eva bisa akur untuk 1 hari ini saja tapi agaknya tidak, Layla cukup terkejut dengan wajah dingin dan sorot pandang sadis dari Eva.


Layla menelan saliva kasar, dia dari awal tidak suka dengan kemunculan tiba-tiba Eva. Seakan wanita itu ditakdirkan hadir dalam kehidupan Davian yang kacau setelah kematian pasangannya.


"Sekali lagi kau berucap seperti itu—" gumam Eva. Sungguh nadanya benar-benar datar.


"Akan ku bunuh kau."


.


.


.

__ADS_1


.


.


"Aku tidak mengira kita mendapat tamu tak terduga..." ucap Sarah, ibu dari Davian. Kevin mengangguk paham, kepalanya sedikit sakit karena memperkirakan efek dari kemunculan Davian di acara pemakaman ini. Pasti saat rapat bulanan nanti akan dibahas, perihal perizinan soal Davian yang menginjakkan kaki di kediaman. Hal ini juga tidak mungkin tidak sampai di telinga kepala keluarga utama, kakek Davian.


"Saya hanya ingin memberi penghormatan terakhir kepada kakak saya..." ujar Davian lihai mengatur ekspresi wajah, tidak seperti dirinya dulu yang gampang meledak. Sosok itu sudah berubah banyak dalam waktu singkat, ini baru 3 tahun berlalu.


"Lalu kau tak ingin 'kah memberi salam untuk ku Davian?" Kata-kata yang tiba-tiba terdengar mengejutkan ketiga orang itu, sosok berwibawa terlihat muncul dalam ruangan. Davian membungkuk sebentar pada sang kakek sebelum kembali ke posisi semula, lelaki dengan wajah berbingkai kacamata itu membuka celah bibirnya ragu.


"L—lama tidak bertemu kakek..." Meski sedikit gagap Davian mencoba mempertahankan wajah tenangnya. Melihat sikap dewasa yang ditunjukkan Davian; membuat lelaki paruh baya itu tersenyum senang. Meski fisiknya sudah sedikit lelah tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat cucu kesayangan.


"Sikap mu semakin baik saja..." komentar sang kakek, memberi tepukan ringan di bahu Davian.


"Masih berpikir untuk kembali? Aku bisa menyerahkan kursi ahli waris pada mu kapan saja Davian."


Mereka semua tahu kalau kalimat itu hanya bercanda tapi kata-kata dari kepala keluarga utama terasa memberatkan hati hingga sudut bibir mereka sungkan untuk terangkat. Davian menggeleng kecil, dia perlu mencairkan suasana canggung ini.


"Tidak terima kasih kakek, saya rasa posisi itu lebih cocok untuk Gedion..." sahutnya. Sarah maupun Kevin terkejut, Davian adalah anak yang selalu memimpikan posisi ahli waris; dia selalu ingin memimpin keluarga mereka dengan cara dia tapi jawaban yang Davian berikan cukup mencengangkan.


Sang kakek yang mendengar berkerut sebentar lalu memikirkan. Apa yang Davian ucapkan itu adalah kesungguhan hatinya, anak nakal ini benar-benar.


"Begitu 'kah..." ucap sang kakek senang, entah pada apa.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2