
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...G i l a...
...________________________...
...______________...
..._____...
..._...
Kematian adalah momen menyeramkan yang sudah direncanakan. Tak ada yang bisa melihat atau menebak bagaimana cara kematian itu bekerja, mereka mendatangi begitu saja lalu menarik napas terakhir satu kehidupan dengan kejamnya. Sebelum sempat menebus ukiran dosa dibalik punggung suatu ruh—dia sudah kembali dalam pelukan erat dengan tangisan darah disertai senyum penyeselan. Mengerikan, begitulah takdir kehidupan.
"Davian~"
Panggil seseorang, Davian membuka perlahan kelopak mata dan mendapati sosok familiar, berada tepat didepannya. Tangan putih itu bergerak membingkai wajah Davian halus, lelaki itu memandang sendu—menikmati setiap belaian lembut dari pemilik tangan.
"Re... va..." panggilnya penuh rindu. Davian merentangkan kedua tangannya lalu mendekap sosok ringkih tersebut, membawanya kedalam pelukan hangat.
"Maaf, maaf... maaf!" bisik Davian kemudian. Wajah lelaki itu tampak lelah, dia bersandar tepat dibahu mulus Reva sambil membisikan kalimat penuh penyesalan.
"Maaf aku menyakiti mu,"
"Maaf karena aku mencintai mu,"
"Maaf..."
Aku hanya ingin memiliki diri mu, maaf.
Maaf.
Davian mendongak, Reva memberikan tepukan hangat diatas kepalnya. Air mata lelaki itu luruh; sosok yang berada tepat dalam dekapan pun perlahan menghilang. Reva berubah layaknya abu lalu terbang tersapu oleh kencangnya angin.
"Hiks... hiks... hiks..." Davian meringkuk, seluruh dunia yang seharusnya bercahaya menjadi gelap. Hanya tersisa dirinya dengan lampu sorot redup yang siap mati kapan saja.
"Reva Reva Reva Reva Reva" gumam Davian menangisi sosok tersebut. Bayangan-bayangan lain dari ingatan memenuhi pikirannya. Jantung lelaki itu berdebar kuat, rasa sesak membuat Davian meringis kesakitan.
Momen ketika Reva terbunuh menjadi puncak dari ingatan Davian. Lelaki itu ingin mati, tapi dia—
Dia takut akan kematian itu sendiri.
Benar-benar payah, benarkan Reva?
__ADS_1
"Hahaha..."
Reva.
...***...
"Halloooo~" Davian mengerutkan kening, ada sesuatu yang menusuk-nusuk area pipi. Lelaki itu membuka perlahan mata, mencari sumber pengganggu yang membangunkannya. Demi tuhan ini masih pagi tapi apa yang dia dapat malah membuat Davian terjaga.
Lelaki itu menatap horor, dia bangkit dari tidurnya dengan tangan yang memijit kening. Beberapa kali dia berkedip; barang kali halusinasi tapi tetap saja sosok asing itu masih berada disana—duduk dibibir ranjang dengan wajah polosnya.
Wanita di balkon, Davian jadi mengingat kembali kejadian kemarin malam. Mari mundur beberapa jam; tepatnya saat tawa dari wanita aneh itu menggelegarkan malam.
"HAHAHAHA!"
Sudut mata Davian berkedut jengkel. Lelaki dengan wajah lelah itu menyela tawa dari wanita aneh yang duduk diatas lantai.
"Maaf! Halo?!" sela Davian keras, berharap wanita aneh itu dapat menyadari eksistensi dari sosok Davian. Tiba-tiba wajah milik wanita itu menoleh, Davian tersentak kaget—agak merinding dengan tingkah lakunya.
"Ah! Ternyata ada seseorang?!" ucapnya lantang dengan wajah shock kearah Davian. Bibir Davian berkedut, lelaki itu menjawab.
"Tentu saja nona, ada seseorang... omong-omong apa yang terjadi dengan mu nona?" Davian berujar dengan nada gemas. Dia melihat kalau wanita didepannya berdiri sambil tertawa bodoh.
"Aku terjatuh, hehehe..."
Ah benar terjatuh, pikir Davian dengan wajah datar. Kau pikir aku percaya?! Mana ada orang tiba-tiba jatuh dari langit, kalau pun kau penghuni lantai atas kau harusnya jatuh ketanah bukan kebalkon tetangga mu. Memang itu masuk akal!
"Akan ku panggilkan polisi kalau begitu" jawab lelaki berkacamata itu sambil berpaling; dia ingin angkat kaki dari wanita aneh didepannya lalu memanggil pihak berwajib agar wanita ini bisa menjauh dari Davian.
Tapi tiba-tiba lelaki berkacamata ini merasakan tarikan kecil disudut kemejanya. Davian melirik dari balik ekor mata, wajah wanita itu terlihat mencurigakan.
Davian menyipitkan mata, dari balik lensa kacamata miliknya Davian lihat sosok wanita itu membuka celah bibir lalu bersuara—
"Sejujurnya,"
Davian diam menunggu ucapan wanita aneh itu.
"Aku terpeleset lalu jatuh"
Wajah muak dengan mata datar Davian tampilkan.
"Hallo? Dengan kantor polisi terdekat?" ujar Davian sambil menelpon seseorang. Dia harus mengirim orang gila ini menjauh darinya atau Davian tak akan bisa tidur semalaman suntuk.
Belum tersambung dengan panggilan wanita itu tiba-tiba bergerak mendadak, menyambar ponsel yang berada tepat ditangan Davian lalu melemparnya keluar balkon. Davian melotot tak percaya, sambil mengejar handphone miliknya lelaki itu menyaksikan benda yang baru lunas 2 bulan lalu itu sudah remuk diatas tanah.
"Apa-apaan kau?!" kesal Davian menoleh jengkel kearah wanita itu.
"Dengar siapapun kau, apapun kegiatan mu... aku ingin kau pergi dari sini!—" ucap Davian marah sambil menunjuk-nunjuk udara.
"Memangnya kau siapa?! Membuat risih saja!" sambul lelaki itu. Wanita yang mendengar gerutuan Davian termenung, dia jadi memikirkan ucapan Davian tentang 'siapa dirinya'.
Deg!
__ADS_1
Siapa?
SIAPA DIRINYA?!
Tubuh wanita itu oleng Davian terkejut lalu menangkapnya tanpa sadar. Raut polos yang ditampilkan sebelumnya hilang diganti dengan raut muka pucat. Davian mengangkat sebelah alisnya penasaran wanita itu seperti kesakitan.
"Hai apa yang terjadi?" tanya Davian. Apa mungkin wanita ini mengalami cedera akibat jatuh barusan, mengingat suara yang dihasilkan cukup keras tak mungkin orang biasa bisa baik-baik saja jika dalam keadaan begitu.
"Si—sia..." Terdengar dia ingin mengucapkan sesuatu. Davian mendekatkan daun telinga untuk bisa mendengarnya.
"Siapa aku yah?"
Bugh!
Lalu nada lugu itu kembali terdengar, Davian spontan melepaskannya begitu saja; membiarkan tubuh wanita itu jatuh keatas lantai balkon dengan suara renyah.
"Aduh! Jahat sekali~" keluhnya dengan nada manis, berhasil mengundang rasa mual diperut Davian.
Ada apa dengan wanita aneh ini sebenarnya.
"Ku antarkan kau ke pintu keluar." ujar Davian dingin. Dia benar-benar lelah hari ini dan mengharapkan tidur nyaman bukan malah menghadapi peristiwa aneh. Lupakan dari mana wanita ini berasal dan bagaimana dia bisa jatuh dari langit yang penting tendang keluar orang ini—masalah selesai.
Tanpa perasaan Davian menggapai pergelangan tangan dari wanita yang baru saja bangun lalu menggiringnya menuju pintu keluar apartemen. Dengan wajah ramah Davian berkata,
"Selamat malam, semoga hari mu menyenangkan. Sampai jumpa!"
Brak!
Tutup Davian kasar daun pintu di depannya.
"Hah~ akhirnya..." lega Davian sambil berjalan menuju kamar dan siap melanjutkan tidur tapi—
Seharusnya wanita itu sudah pergi dari sini malam tadi tapi kenapa, kenapa pagi ini Davian malah melihat wajah dungunya lagi. Argh! Bagaimana bisa dia ada disini?!
"Bagaimana cara mu masuk?!"
Wanita itu terkekeh sambil menunjuk.
"Lewat pintu."
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...