
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...M e n y u s u l...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
"Saya perlu menyusul Eva kakek, berikan izin akses menuju Hell..." tutur Davian tiba-tiba saat lelaki itu cukup lama merenung. Sang kakek menoleh dengan sebelah alis yang terangkat, apa maksud dari ucapan cucunya itu.
"Apa kau benar-benar yakin kalau Eva yang menyusup?" Tanya kakek Davian. Meski lelaki itu nampak ragu-ragu dalam menjawab tapi Davian cukup yakin.
"Iya kakek, saya yakin itu Eva... walau hanya dugaan tapi saya rasa kalau dia memiliki tujuan tersendiri hingga berani menyembunyikan identitas dari saya... lalu tingkah laku aneh lainnya yang selama ini saya abaikan, memperkuat asumsi itu."
Kakek Davian tidak bisa berkutik, sepertinya ucapan dari cucunya ini benar adanya.
"Hell bukan taman bermain Davian, kekuatan mu baru saja pulih... kau yakin tak apa dengan hal itu?" Davian mengangguk mantap, sang kakek tidak bisa lagi berkomentar. Mau tak mau dia harus memberi akses pada cucunya agar bisa menuju Hell; dunia para Demon.
"Bergerak menuju barat, temui saudara jauh mu... mereka adalah penjaga gerbang utama Hell, pastikan pulang dengan selamat bersama Reva."
"Baik kakek."
Tak!
Saat matahari terbit, Davian sampai dibagian barat; sisi lain kota. Lelaki itu melihat beberapa orang yang tidak lain adalah keluarga cabang menyambutnya. Kabar Davian akan kemari ternyata lebih dulu sampai ketimbang dirinya yang bergerak secepat mungkin menggunakan teleportasi.
__ADS_1
"Dengar Davian, satu jam di sana sama dengan 1 hari di sini." Ucap salah seorang disana. Kalau tidak salah namanya Ronat, sambil melempar sebuah ransel besar kearah Davian.
Lelaki yang merupakan keturunan langsung keluarga utama itu mengangguk. Dia menangkap ransel itu lalu mengaitkannya di pundak. Tanpa bernada basi Ronat membuka akses menuju dunia para Demon.
"Semoga beruntung." Gumamnya mendoakan keselamatan Davian.
.
.
.
.
.
Luas, sangatlah luas. Daratan tandus menyambut Davian untuk pertama kalinya, setelah gejolak bencana 3 tahun lalu yang disebabkan lelaki itu sendiri. Tak ada satupun bangsa Demon yang bisa menjebol masuk dunia manusia lagi selain aura negatif yang diciptakan manusia itu sendiri. Bisa dibilang keadaan cukup damai saat ini.
Davian mengambil jubah yang tersampir di ransel tersebut, benda ini akan mengubah penampilan; bau hingga suara dari pemakainya.
Setelah tudung dari jubah itu menutup separuh wajah Davian, terdengar lelaki itu merapalkan beberapa kata demi penyesuaian bahasa serta pengetahuan di dunia bawah. Langit merah terlihat cerah, tanpa menunggu lebih lama lagi Davian mulai melangkah—menuju desa terdekat demi mencari keberadaan sosok bernama Eva.
Kekuatan dari keluarga hazel tidak bisa digunakan secara maksimal didunia bawah kecuali jika kau ingin menarik perhatian para makhluk buruk rupa dan membiarkan dirimu diburu oleh mereka.
Davian harap dia bisa secepat mungkin menemukan Eva sebelum mereka terjebak lebih dalam lagi di penjara nyata dunia para iblis ini. Semoga.
...***...
Jika ada yang bertanya mungkin Eva akan menjawab dengan lantang kalau dunia bawah itu adalah refleksi dari negeri fantasi. Meski tidak ada ras yang disebut sebagai manusia tapi tetap saja, ini benar-benar menakjubkan.
Mereka punya tingkatan hingga peradaban mereka sendiri. Bahkan ada yang disebut sebagai sistem ekonomi meski masih cukup kolot ketimbang yang ada di dunia manusia itu sendiri tapi ini sudah termasuk lumayan. Berbeda dengan dunia yang ditinggali Eva maupun Davian, negeri para Demon ini menganut sistem monarki dimana raja adalah pemimpin mutlak dari seluruh daratan hingga lautan yang ada. Cukup satu raja. Tidak lebih.
"Katanya ratu kabur lagi..." perbincangan hangat mulai terdengar, Eva menyelesaikan acara makannya. Wanita ini sudah berada didaerah ibu kota barat; Ìndgriļ—tepatnya disalah satu kedai makan dan penginapan murah. Dua hari tinggal disini membuat Eva tahu kalau gosip jauh labih lancar ketimbang air bersih, cukup sulit mendapatkan air minum kecuali di hutan karena kebanyakan makhluk mengonsumsi darah dari hewan ternak ataupun buruan mereka.
Dia perlu melangkah ketengah kota lagi agar bisa menemukan perpustakaan besar yang menjual berbagai informasi serta peta dunia. Tidak sia-sia melakukan 10 hari perjalanan yang–ergh menyebalkan ini.
Wanita itu juga sekarang setidaknya mengerti bagaimana caranya menghasilkan uang dengan menjual hasil buruan tapi tetap saja dia perlu berhemat. Usai sarapan Eva beranjak. Gosip yang dia dengar barusan adalah soal ratu negeri ini yang kabur, Eva tidak tahu detail masalahnya tapi agaknya raja Demon bukan suami yang baik hingga membuat ratu memilih untuk angkat kaki; pisah ranjang. Haha, lucu juga.
__ADS_1
Wanita itu meninggal beberapa uang diatas meja lalu menyampirkan tas kepundak. Waktunya melanjutkan perjalanan, tujuan kali ini—perpustakaan tempat peta dunia berada.
Langit merah dengan bintang menandakan waktu siang, banyak penduduk dari makhluk dunia bawah beraktifitas keluar. Berbeda jika langit sudah ditutupi awan; itu artinya malam. Mereka berjualan, belajar atau sekedar jalan-jalan persis seperti didunia manusia. Perlu beberapa menit menuju bagian tengah kota, mata Eva lalu disambut oleh bangunan bergaya antik dengan bahan baku batu ukiran. Ada tulisan terpajang didepan sana, Eva cukup yakin inilah yang ia cari.
Melihat ada beberapa petualang dengan atribut pemula keluar masuk bangunan itu membuat Eva yakin, tanpa ragu Eva yang menyamar menjadi bangsa Sribëri ikut masuk kedalam bangunan tersebut.
Kalian tahu apa yang pertama kali menyambut Eva? Itu adalah tumpukan buku dengan sampul berbahan kulit hewan ditambah beberapa makhluk dunia bawah yang menggenggam berbagai senjata. Berbaris rapi di meja informasi, beberapa ada yang mencari informasi secara mandiri ditumpukan rak buku karena malas mengantri.
Wanita itu mencoba berbaur, tubuh kecil yang tidak seperti monster kebanyakan membuat beberapa pasang mata menaruh minat padanya. Untunglah Eva sudah terbiasa menyembunyikan wajahnya didalam topeng serigala.
"Petualang pemula?"
Eva tersentak kecil saat barisan disamping mengajak dirinya untuk bicara. Eva mengangguk kecil.
"Iya..." sahut Eva namun tidak mendapat jawaban dari makhluk berkelamin jantan tersebut. Eva melirik dari balik sela topengnya. Makhluk itu seperti macan kumbang, terlihat cukup tampan dengan warna eksotisnya.
"Permisi?"
"Kau punya suara yang imut..." sahut makhluk itu. Haruskah Eva tersipu malu? Rasanya agak malu dipuji oleh bangsa kucing.
"Aku sering mendengarnya..." komentar Eva membual. Rata-rata suara manusia seperti ini tidak mungkin terdengar manis kecuali gendang telinga mereka rusak.
"Sedang melakukan perjalanan kemana?" Tanya macan kumbang itu lagi.
Mereka maju selangkah karena barisan mulai bergerak. Eva mengalihkan pandangan kembali menuju barisan depan, dia rasa tidak apa-apa untuk melanjutkan obrolan dengan makhluk tampan disebelahnya ini.
"Pegunungan merah..."
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...