Crazy Baby

Crazy Baby
Milik Ku


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...________________________________...


...M i l i k - K u...


..._________________________________...


...________________________...


...________________...


..._________...


...___...


..._...

__ADS_1


"HAH!" Reva membuang napas gusar. Kepalanya pening, sudah percakapan kesekian kalinya tapi tidak menemukan titik terang. Yang ada urat sabar Reva putus jika terus seperti ini, lelaki didepan Reva rupanya memiliki otak imbesil—makanya selalu berbicara berputar-putar. Menikah! Menikah! MENIKAH!!! ARGHH!!! Seseorang tolong sumpal mulut Josan sekarang juga!


"Bisa diam?!" sentak Reva. Josan terkejut kecil lalu tersenyum nakal. Dia suka menggoda gadis manis didepannya, membuat marah Reva menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi Josan. Lelaki itu menopang dagu, menatap wajah kesal milik Reva. Padahal baru 30 menit mereka bersama, tapi Reva sudah se-muak ini dengannya. Haruskah Josan ke topik utama? Alasan kenapa dirinya ingin bertemu Reva.


"Aku bilang pada ibu mu kalau kau hamil, dia merasa senang dan ingin kita cepat-cepat menikah..." ucap Josan, berhasil membuat kedua bola mata Reva terbelalak lebar. Gadis itu menggeser pelan penglihatannya menuju wajah Josan. Apa yang lelaki sinting ini katakan tadi? batin gadis itu. Apa pendengaran Reva sedang bermasalah atau Josan yang salah berucap?


"Apa kata mu?" tanya Reva horor. Gadis itu melihat kalau lelaki didepannya malah menyeringai.


Josan tidak bercanda. Lelaki berstatus mantan kekasih Reva semasa sekolah menengah atas itu kembali berbohong pada ibunya.


"Ya... walau itu bohong, bukan berarti kita tidak bisa membuatnya—!"


PLAK!


Reva berdengus, gadis itu berdiri dari duduknya.


"Aku muak mendengar kata-kata mu Josan, terserah apa isi khayalan mu... tapi ingat! Seberapa-pun kau mencoba, aku tak akan pernah kembali pada mu?!" desis Reva. Gadis itu membereskan semua barangnya, meletakkan beberapa lembar uang diatas meja; bayaran untuk minuman pesanannya lalu angkat kaki dari sana.


Derap langkahnya menggema, meninggalkan Josan yang diam memperhatikan Reva dari kejauhan.


"Kita lihat saja..." gumam lelaki itu misterius.


...***...

__ADS_1


"Tanda?" beo kakek Davian pada cucunya.


Dengan polos Davian mengangguk. Apa maksudnya? batin lelaki tua itu tak mengerti. Jika sudah ditakdirkan menjadi pasangan maka mereka adalah pasangan kecuali ada kesepakatan antara kedua belah pihak jika berkaitan tentang sebuah perceraian. Tidak ada istilah saling memberi tanda.


"Sedikit modifikasi segel, jadi mirip cincin tak kasat mata yang saling terikat." racau Davian. Sang kakek yang mendengar membelalakkan kedua matanya.


"Davian bukannya itu berbahaya?!" pekik sang kakek. Lelaki tua itu panik, dia pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya—tapi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang karena segelnya terlalu rumit. Selain itu, jika ingin memberi tanda pada pasangan; harus mendapatkan izin terlebih dahulu.


Davian menggeleng.


"Tenang 'lah kakek," ucap Davian menggantung. Lelaki itu tersenyum simpul. "Dia itu milik ku, jadi aku bebas melakukan apa saja untuk mempertahankannya di sisi ku..."


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote dan comments......


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......


...Bye......

__ADS_1


...:3...


__ADS_2