Crazy Baby

Crazy Baby
Feromon


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...F e r o m o n...


...___________________...


...___________...


..._____...


..._...


Pipi Zim merona malu, aroma tubuhnya menempel kuat di badan Eva. Seharusnya macan kumbang ini tidak menawarkan diri untuk membagi bau pada tubuh wanita itu.


"Kenapa tidak bilang ada cara seperti ini?" Tanya Eva girang. Gerbang desa pertama terlihat.


"Karena aku tidak tahu kalau kau manusia Ève..." gumam Zim menyahuti. Ish! Wanita ini memang tidak menyadari perubahan aroma ditubuhnya makanya dia bisa bertindak biasa-biasa aja. Tapi jika bangsa Demon menyadari, mungkin saja mereka akan disebut sebagai—


"Pengantin baru?" Zim memejamkan mata karena gugup, belum selesai dia membatin sudah ada yang menyebutkan kalimat sakral tersebut. Kucing besar itu mengintip, Eva tampak berhadapan dengan para penjaga gerbang desa pertama di selatan.


Mereka beruntung tidak bertemu bandit, ya walaupun harus berhadapan dengan monster tingkat tinggi yang entah bagaimana bisa muncul disana. Sepertinya Zim harus memberi laporan soal penemuan kelabang besar itu ke ibu Kota timur nanti agar bisa dilakukan pendataan menyeluruh. Sebelum itu dia perlu mendatangi Eva karena agaknya wanita bertopeng serigala ini di goda oleh para? Kadal pohon yang menjijikan—penjaga gerbang.


"Berhenti mengganggunya!" Dengus Zim. Penjaga kadal itu mendongak, wajah Zim tak asing bagi mereka.


"Kami pikir kau tidak ingin ke selatan lagi Zim?!" Ucap salah seorang kadal dengan nada mengejek sedangkan teman lainnya tertawa geli.

__ADS_1


Dimata Eva, macan kumbang hitam yang merupakan teman satu-satunya wanita itu seperti tengah di ganggu oleh 2 cicak jelek. Sambil mendesis Eva mengeluarkan pedang ke arah kadal menjijikan itu.


"Kenapa kalian menertawakan Zim? Dasar para cicak!"


Pft! Zim yang mendengar nyaris menyemburkan tawa tapi coba dia tahan. Cicak? Istilah yang bagus, hal yang baru saja di ucapkan Eva berhasil membuat ke dua kadal buruk rupa itu berhenti tertawa lalu menampilkan raut muka tak suka kearah Eva. Apa-apaan wanita Sribër ini?! dengus meraka.


"Mulut pengantin mu cukup kasar Zim..." komentar salah satu kadal. Zim merotasi matanya tak peduli.


Bukan urusan ku.


"Sudahlah Zim dari pada kita berdebat dengan cicak-cicak tidak jelas ini lebih baik kita langsung ke ibu kota selatan."


Zim setuju, tanpa menggubris para penjaga kadal. Eva dan Zim melanjutkan langkah acuh kedalam desa; tak memperdulikan kalimat protes yang dilontarkan kedua? Cicak tersebut. Haha.


Berbeda dengan daerah barat, bagian selatan lebih kecil tanpa pembagian wilayah yang banyak. Jadi ke dua orang ini tidak perlu menempuh waktu lama, mereka sudah sampai di tengah kota bagian selatan. Image yang ditampilkan di wilayah selatan cukup berbanding terbalik dengan yang ada di barat; tatanan kota, bangunan, dan orang-orang didalamnya. Di selatan cenderung kumuh, benar-benar seperti sarang penjahat—persis seperti dugaan Eva sebelumnya.


"Kita mau kemana lagi?" Tanya Zim tiba-tiba ketika Eva masih sibuk melihat sekitar. Wanita itu menoleh, seharusnya perjanjian dia selesai sampai disini. Hanya saja sedikit sayang saat Zim sudah mengetahui siapa dia sebenarnya—mereka malah berpisah.


"Mungkin kau bisa menebak alasan ku memilih keselatan dari pada lansung ke timur..." ucap Eva basa-basi. Mungkin dulu Zim tidak akan bisa menebaknya tapi sekarang berbeda, walau tanpa dijelaskan macan kumbang ini bisa menebak. Eva tidak ingin tertangkap di kota besar, itu artinya tujuan utama wanita ini memang ke tenggara—tepatnya pegunungan merah.


"Tentu Ève, meski sebelum itu kita harus mencari penginapan..." ucap Zim menunjuk kearah langit. Kumpulan awan besar berdatangan, waktu malam sudah tiba. Eva menampilkan raut sedih, dia merasa baru saja bangun dari tidur masa harus tidur lagi.


Melihat ketidak sukaan di wajah Eva Zim memilih berucap.


"Giliran aku yang tidur Ève..."


Dibalas dengan cengiran tanpa dosa, Zim menggeleng, kucing besar itu tak habis pikir. Eva tertawa kecil—benar juga, Zim hampir tidak tidur dari kemarin malam. Sambil mengedarkan pandangan Eva mencoba mencari penginapan untuk mereka tapi bahu wanita itu malah tanpa sengaja menyenggol seseorang.


Bugh!


Eva menoleh kaget, mulutnya mengucapkan kata maaf secara spontan. Sosok yang ditabrak memiliki tinggi tak jauh berbeda dari Zim hanya saja sosok itu memakai jubah besar yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh miliknya.


Sama halnya dengan Eva yang menoleh, seseorang berjubah itu ikut menoleh tapi matanya membola besar saat mendapati sosok Eva yang menyambut penglihatan. Tanpa sadar sosok itu mencekal tangan wanita yang berada didepannya, hal ini membuat Zim bereaksi agresif. Apa-apaan dengan sikap tidak sopan tersebut! Dia tak suka ada yang menyentuh teman kesayangannya sembarangan. Eva memiringkan kepala bingung, apa dia mengenali sosok didepannya? Hingga sosok itu berani mencekalnya, batin wanita itu diam sampai suara Davian memenuhi gendang telinga milik Eva.

__ADS_1


"Ke-te-mu!" Eva membeku dengan bibir terkunci, matanya bergetar tak percaya ketika lelaki itu menurunkan tudung kepala yang menutupi separuh wajah. Meski dimata Zim sosok Davian seperti bagian dari bangsa Demon itu sendiri tapi macan kumbang ini yakin kalau yang ada didepan Eva adalah manusia; sama seperti Ève.


Glek!


Eva menelan saliva kasar, dia tidak mengira kalau akan bertemu dengan Davian di sini. Kenapa lelaki itu bisa berada didunia bawah? Kenapa! Melihat wajah pucat milik Eva membuat Zim tak terima, lelaki dengan wujud setengah macan kumbang itu menarik pedang miliknya lalu mengayunkan tepat kearah tangan Davian. Lelaki dengan manik hazel itu melirik tajam, tangannya terlepas. Belum lebih dari 3 detik Zim sudah menggendong Eva pergi dari sana.


"Apa yang kau lakukan Zim!" Seru Eva kaget. Dia tersentak saat macan kumbang itu menbawa dirinya lari dari sana.


"Entahlah Ève, firasat ku mengatakan kalau kau tidak seharusnya bertemu dengan dia!" Sahut Zim. Dia merasakan kalau ada sesuatu yang mengejarnya, benar saja—dengan wajah tak terima Davian mengejar kucing besar yang tengah menggondol istrinya kabur.


Eva menyahut cepat.


"Kau benar! Bawa aku menjauh dari orang itu Zim!" Tutur Eva bergedik ngeri saat melihat manik tajam Davian yang seakan-akan ingin mengulitinya hidup-hidup.


Zim mengangguk paham. Macan kumbang itu lalu menjawab—


"Dimengerti!"


Mereka kabur seribu langkah lebih cepat kali ini bukan karena kelabang melainkan karena Davian.


Hm~


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2