
...Cerita bersifat fiksi / karangan semata, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan saja....
...Sebagai wujud apresiasi terhadap penulis, silakan klik vote, like dan comments diakhir cerita....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._______________________________________...
...M a k a n—M a l a m...
...2...
..._______________________________________...
...__________________________...
...___________________...
..._____________...
..._______...
...___...
..._...
__ADS_1
Reva berjalan tepat dibelakang Davian; mengikuti setiap langkah pemilik hazel itu. Menyusuri lorong-lorong rumah sampai pada sebuah ruangan. Cahayanya silau, meja besar dan deretan kursi berjejer. Beberapa hidangan sudah tersaji cantik diatas piring.
Wah~ tegun Reva. Gadis itu benar-benar beranggapan kalau Davian adalah sosok yang terlahir disebuah keluarga kaya raya; terlepas dari pekerjaan astral pemburunya.
"Reva?!" Panggilan terdengar. Reva menoleh. Sosok Eni lagi-lagi terlihat; duduk mengisi salah satu kursi kosong.
"Jangan terlalu dekat dengannya..." Bisikan Davian tepat ditelinga Reva. Lelaki itu memilih duduk begitu saja. Patuh rasanya—Reva mengambil tempat duduk disamping Davian.
Reva kembali mengedarkan pandangan. Masih beberapa kursi yang belum terisi, dia menebak pemilik kursi itu nantinya adalah orang tua Davian.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah kaki terdengar. Reva melirik. Wajahnya tertegun. Sosok gagah dengan suit hitam bersama wanita tua yang masih awet kecantikannya—terlihat. Tidak usah diberitahu, Reva tahu kalau itu adalah orang tua dari Davian. Wajah mereka seperti benar-benar diwariskan ke sang putra. Rasanya Reva iri melihatnya.
"Tch! Perhatikan mata mu!" Davian mendesis. Fokus gadis itu kembali. Reva menunduk—malu.
Dari arah lain, terdengar lagi langkah kaki. Kakek dari Davian terlihat memasuki ruangan.
Wah... Ini benar-benar pertemuan makan malam keluarga besar, komentar Reva.
Beberapa orang yang tidak dikenal Reva juga ikut masuk, menempati sisa kursi kosong. Total jumlah orang diruangan ini ada 15; dia, Davian, Eni, ayah dan ibu Davian—lalu dua orang lelaki dewasa, mungkin kaka dari Davian dan seorang wanita cantik. Sisanya pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"He~ Istri mu unik juga adik kecil ku?" Ucap salah seorang dari laki-laki dewasa tadi. Reva mendengar Davian mendengus—tanda tak suka.
__ADS_1
"Diamlah Gedion!" Pinta Davian kesal. Terdengar suara kekehan dari Eni dan lelaki dewasa lainnya.
"Sudah... sudah... jangan ganggu adik mu Ged," imbuh wanita yang merupakan ibu dari Davian. Nadanya terdengar bijaksana.
"Ibu mu benar, bintang tamu hari ini bukan Davian..." Sela ayah Davian sambil melempar pandangan kearah Reva.
Deg!
Reva merasakan seluruh mata tertuju padanya. Perasaan gugup hadir begitu saja. Pikiran tentang dia harus apa dan bertindak bagaimana membombardir otaknya. Sial! Ada apa dengannya?!
"Hentikan, kalian membuat menantu ku ketakutan..."
Rasa ingin bernapas lega. Kakek dari pemilik hazel itu buka suara. Atmosfer kembali tenang. Reva tidak mengira dia akan diselamatkan oleh pria tua itu dengan dalih 'jangan mengganggu menantu ku'.
Reva lihat Gedion menyeringai. Ya ampun ada apa dengan lelaki berstatus kakak Davian ini?!
"Maafkan kami, kami hanya sedikit penasaran... jika kau tidak keberatan... bisa tolong perkenalan dirimu pada kami—semua?" Ucapnya ringan.
Reva lihat; kilat mata dari Gedion—serupa dengan Davian rupanya.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa Vote, Like & Comments yah......
...Terima kasih,...
__ADS_1
...Bye...
...:3...