
"Adam~"
Lelaki yang di panggil menoleh, wanita bernama Eni tersebut membingkai rahang milik Adam—membawanya mendekat; sedekat mungkin hingga kedua hidung mereka membentur kecil.
Deru napas hangat menyapu pelan wajah Adam, membuat lelaki itu terpejam. Belaian lembut dari Eni sungguh menghanyutkan, lelaki dengan manik hazel tersebut bergerak manja—minta diperlakukan lebih baik lagi oleh wanitanya.
"Haha..." terdengar kekehan dari Eni. Wanita itu mengecup pelan kening Adam lalu bersendar diantara bahu dan tengkuk, memberi ciuman singkat diarea sana. Tubuh Adam tergelitik tangannya terangkat memeluk tubuh kecil milik Eni—membawa wanita itu dalam dekapan erat penuh rasa obsesif didalamnya.
"Eni?" panggil Adam dengan mata sendunya. Suara lelaki bermanik hazel ini berubah serak, tanpa sadar ia menjulurkan linda; menjilat lambat pipi kanan dari Eni membuat si empunya pipi tertawa geli. Eni mencoba menjauhkan wajah dari benda nakal tersebut namun tubuhnya masih terperangkap dalam penjara tangan lelaki itu.
"Menikah 'lah dengan ku..." pinta Adam, mengeratkan kedua tangannya pada tubuh Eni. Lelaki itu mendekati tengkuk wanita didepannya, menghirup sejenak sebelum memilih menyembunyikan wajah dibalik benda kecil tersebut.
Tangan Eni terangkat, mengelus lembut pucuk kepala dari lelaki manja ini. Dia berbisik tepat disamping daun telinga Adam—
"Tentu..."
Deg!
Perasaan Adam meledak, dia menilik memperhatikan wajah cantik milik wanita pujaannya. Penantian selama belasan tahun akhirnya selesai, Adam menjatuhkan tubuh Eni diatas ranjang. Lelaki ini sudah kegerahan, lihat baju yang Eni kenakan—sungguh sangat terbuka. Deru napas berat dari Adam terdengar semakin jelas. Adam mengurung tubuh Eni diantara penjara tangannya sebelum bergerak turun memberi sensasi sensual terhadap wanita itu.
"Ergh?"
Wanita itu melenguh, manik Adam berputar-putar wajah miliknya memanas. Tanpa pikir panjang lelaki itu langsung melahap tubuh Eni, memberikan ribuan cinta penuh obsesi kepada wanita tersebut sebelum alarm pagi menghancurkan mimpi indahnya.
"Sial." Gerutu Adam, manik hazel itu menatap datar langit-langit ruangan. Dia melirik dari balik ekor matanya sejenak. Alarm yang sengaja dia pasang berbunyi nyaring menggetarkan seisi ruang meja nakas. Dengan kasar Adam menggapai lalu mematikan benda tersebut secara brutal, dia bangkit dari tidurnya. Sambil memijit kening—lelaki itu merasakan pening. Sial. Tangan lainnya menyibak selimut lelaki itu lalu melontarkan pandangan datar kearah bawah tepatnya area pangkal paha dekat garis V.
"Huh!"
Dia merasa jadi sosok yang benar-benar mesum. Bisa-bisanya lelaki itu mengalami mimpi basah diusianya sekarang ini, jauh lebih indah jika itu nyata bukan bunga mimpi. Sekali lagi SIALAN, HIKS HIKS.
Adam menurunkan kaki jenjangnya kesisi lain ranjang, dengan wajah gusar dia perlu kekamar mandi sekarang juga. Mari tenangkan dede kecil ini sebelum Adam menggila, ha-ha; hambar sekali.
"ADAM!"
GDEBUK!
Adam terjeramba, wajah tampan miliknya menghantam dinding lebih dulu ketimbang badannya. Sial, dengan raut kesal lelaki itu menoleh siap memberi sumpah serapah pada pelaku yang berhasil membuatnya terkejut lalu jatuh. Namun sayang kata-kata dengan bobot cacian itu tertahan, menyangkut di tenggorokan saat matanya tanpa sadar melihat sosok Eni berdiri manis diarea balkon apartemen.
Apa yang dilakukan wanita itu disitu? Batin Adam penasaran tapi sebelum mengurusi hal tersebut Adam rasa ada hal penting yang harus dia urusi lebih dulu ketimbang wanita bernama Eni itu—yaitu dede gemas di paha miliknya ini. Sial. Sial. Sial. Adam ingin menangis darah, jangan sampai Eni tahu atau dia akan di olok-olok oleh wanita ini.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Eni tiba-tiba, melihat Adam yang tak kunjung bangkit dari lantai membuat wanita itu berinisiatif mendekat. Adam tersenyum simpul, dia menggeleng mencoba merapatkan pahanya.
"Harusnya itu pertanyaan ku Eni, apa yang kau lakukan disini?" Ucap Adam melontarkan kalimat tanya serupa milik Eni. Begitu jarak diantara mereka cukup dekat Eni berjongkok disamping Adam, wanita itu terlihat tengah berpikir diatas penderitaan Adam.
Cepatlah! Teriaknya dalam hati.
Celah bibir Eni terbuka, wanita itu kemudian berucap—
"Davian mungkin akan kembali!" Serunya senang berhasil membuat sesuatu milik Adam layu. Wanita ini pagi-pagi sekali sudah mendapatkan kabar soal Layla yang berhasil menemukan Davian, setelah 3 tahun menghilang si bungsu akhirnya akan kembali. Meski hanya hipotesis namun hal tersebut berhasil membuat Eni menunjukan perasaan rindu terhadap sosok dingin juga ketus milik Davian.
Ah~
Eni tak sabar ingin bertemu dengan lelaki itu.
Berbanding terbalik dengan suasana hati wanita didepannya ini Adam justru menampilkan raut dingin. Dia hanya diam memperhatikan kegirangan Eni dalam hening, menunggu wanita itu puas berceloteh ria soal—Davian, Davian, Davian; si adik bungsu mereka.
Tch! Memang apa yang bagus dari bocah nakal tersebut hingga berhasil membuat Eni jadi sesenang ini? Kecuali jika—
"Apa kau menyukai Davian?" Tanya Adam tiba-tiba, nadanya datar. Lelaki itu harap apa yang ia pikirkan sebagai jawaban salah tapi dilihat dari reaksi wanita tersebut, seketika berhasil mematahkan hati Adam.
Ini kesekian kalinya Adam merasa terluka, oleh wanita yang ia cinta yang tak akan pernah mau melihat usahanya.
...***...
Marah, cemburu, putus asa, dan merasa semua ini sia-sia.
Jika dirinya adalah manusia biasa, mungkin saja Adam sudah dirasuki oleh para aura negatif itu. Agar bisa mengamuk sepuasnya tanpa alasan yang jelas namun sayang tidak, ia tidak bisa. Karena Adam adalah pemurni itu sendiri.
"Huh!" Dengusan terdengar, Adam menutup separuh wajahnya dengan tangan. Manik lelaki itu berkilat—keadaan apartemen sedang remang saat ini. Ia malas menghidupkan pencahayaan padahal senja sudah datang, siang ditelan malam. Waktunya sang kegelapan memuntahkan ribuan bintang.
Pikiran Adam kalut, selepas percakapan terakhir dirinya dengan Eni membuat mood lelaki itu hancur. Tanpa sadar dia menolak kehadiran wanita tersebut dengan cara mengusirnya pergi.
Selama berjam-jam apa yang Adam lakukan setelah berhasil membuat wanita itu angkat kaki dari apartemennya? Haha, hanya berdiam diri diatas ranjang—mengabaikan semua tugas yang harus ia kerjakan.
Kritt...
Permukaan ranjang turun, lelaki itu membaringkan pelan tubuhnya diatas selimut. Menatap hampa ruangan yang perlahan menjadi gelap.
Apa yang sekarang harus ku lakukan? Batin lelaki itu penasaran.
__ADS_1
Untuk apa kau memikirkan itu? Bukannya kau selalu bertindak tanpa banyak bicara. Lakukan seperti biasa, wanita itu memang bebal jadi—cukup tunjukan padanya. Cara bagaimana kau mencintai dirinya.
"Benar, ya benar sekali..."
Sepertinya pertimbangan soal penambahan dosis harus Adam lupakan, lebih baik menjejalkan mulut wanita nakal tersebut hingga mampus dengan obat ketimbang mendengar ia melontarkan kalimat cinta yang bukan ditujukan untuk Adam seorang.
Heh!
Biar Eni sadar, seberapa dalam cinta milik Adam. Cinta yang hanya ia tunjukan padanya bukan yang lain.
Mari buka kembali gerbang neraka yang sudah lama terkunci—
"Eni... you are mine."
...___________________...
...A d a m...
...___________________...
...____________...
..._____...
..._...
...Tbc...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1