
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...N y a t a...
...___________________...
..._________...
...____...
..._...
"Apa? Apa maksud dari ucapan mu?" Tanya Davian, sorot matanya begitu dingin. Sungguh kurang ajar, desis Elliot tak percaya didalam batinnya. Dia memilih diam karena tidak ingin memperkeruh suasana, baru saja berdamai dengan istrinya tak mungkinkan kalau mereka kembali bertengkar; hanya karena perkara kesopanan laki-laki didepan sana.
"Hah~" sifat itu. Benar-benar milik Davian. Kian menyeka surai rambut miliknya dengan sela jemari tangan, untung hari ini dia memilih menggunakan tiara ringan bukan mahkota berat yang selalu ia kenakan.
"Jangan menatap ku begitu, dengarkan baik-baik ucapan ku Davian." Sahut Kian tegas. Membuat Elliot terkesima, jarang-jarang melihat sosok tegas wanita itu sekarang.
Menyadari kesalahan, Davian bergumam maaf. Sial betapa sembrononya dirinya. Sejenak dia terbawa perasaan saking takutnya. Melihat wajah Davian yang sudah mulai melunak Kian menarik napas panjang sebelum membuka percakapan.
"Kau tahu, banyak tanda tanya disini. Tapi aku akan langsung ke-intinya saja, wanita yang kau cari—pagi ini saat langit dipenuhi bintang seumpama matahari, dia sudah lama pergi. Menghilang entah kemana. Bahkan tak ada seorangpun yang tahu jika wanita itu telah sadar. Dan memilih pergi tanpa meninggalkan jejak."
Benarkah? |
Lidah Davian terasa kelu, apa yang ia mimpikan seperti sebuah perpisahan nyata—yang Eva lakukan untuk Davian. Lelaki itu mengepalkan kuat tangannya tak percaya. Pedih, ada bagian didalam hati lelaki itu yang rasanya mendidih hingga menyisakan sakit.
Elliot yang mengetahui sedikit hal benar-benar bungkam. Kian tahu. Ini demi kebaikan yang terdengar omong kosong ditelinganya.
"Lalu?" Beo Davian menahan rasa janggal luar biasa pada hatinya. Dari suara tertahan yang Kian dengar, Davian tampak hancur.
Suasana benar-benar canggung. Kian memilih melanjutkan percakapan miliknya, ku harap kau bisa mendengar ini dengan tenang. Batin Kian.
__ADS_1
"Ada beberapa laporan masuk pagi ini," sela Elliot tiba-tiba. Maaf jika memilih ikut campur karena ia merasa tak tahan dengan situasi ini. Manik Davian bergerak, sangat lambat menuju wajah Elliot.
"Manusia lain muncul di pegunungan merah dalam keadaan tak sadarkan diri."
Kian membuka celah bibinya setelah Elliot.
"Dan itu adalah Reva."
Deg!
Sebuah kejutan luar biasa yang bagus. Bola mata Davian bergetar, dia menggigit pipi bagian dalam mulutnya. Merasa tak percaya, tapi—inilah kenyataan baginya.
Pembangkitan berhasil dilakukan, Reva kembali hadir di dunia ini dengan menumbalkan seseorang yang lucunya adalah bagian dirinya sendiri. Mimpi itu hanyalah sebuah perpisahan singkat yang Eva siapkan untuk Davian, jauh sebelum lelaki itu membukakan matanya; bangun.
Apa jika dirinya tersadar lebih cepat, Eva tak akan menghilang? Omong kosong, dari apa yang Davian lihat.
Sosok itu benar-benar hanyalah boneka. Melakukan hal yang diperintahkan.
Padahal dia menginginkan kehidupan, haha lucu sekali |
Tes...
Kian bersama Elliot tersentak, saat air mata jatuh dari arah pelupuk mata milik lelaki angkuh didepan mereka. Tak ada yang bisa menebak, sebenarnya apa isi pikiran Davian. Akankah dia senang mendengar kabar kehadiran Reva ataukah dia merasa sedih soal menghilangnya sosok Eva. Hanya Davian yang tahu.
Ah~
Davian lelah.
"Boleh?" Ucap Davian tertahan. Dia menunduk sebelum melanjutkan kalimat miliknya.
Dua orang yang senantiasa menunggu itu memberi ruang untuk Davian berpikir. Telinga mereka lalu mendengar lelaki itu menyambung ucapan miliknya.
"Bolehkah aku menetap disini sebentar, aku ingin memulihkan energi sebelum kembali pulang." Sebuah keputusan tak terduga dibuat. Ucapan dari seorang yang merupakan keturunan langsung mata Tâbi itu terdengar lunak. Elliot rasa dia tak memiliki banyak pilihan, lagi pula sosok Davian sendiri cukup dikenal oleh Ratunya; Kian. Meski mereka bukan teman dekat.
"Baiklah, ku izinkan."
Kian melirik, jarang sekali ia melihat sosok Elliot tampak seperti raja bijaksana. Keputusan yang makhluk itu ambil cukup tepat.
Senang mendengarnya, Davian tersenyum tipis lalu meminta maaf soal beberapa kejadian yang telah ia buat. Entah kenapa mereka tampak seperti bisa menjadi teman, terlepas dari latar belakang masa lalu mereka.
__ADS_1
Di akhir kisah ditutup oleh terpejamnya sosok Davian karena kelelahan. Lelaki itu hanyut, dalam bunga mimpi yang sengaja ia ciptakan.
...***...
Beberapa hari telah terlewati, bangunan istana terlihat kembali utuh. Sosok Davian yang memilih tertidur panjang akhirnya membukakan kelopak mata, disambut hangat oleh sosok Zim yang tampak baik-baik saja meski dengan tangan buatannya. Selain itu ada beberapa hal yang mengejutkan memenuhi istana, contohnya seperti sosok Reva yang lebih dulu bangun lalu membaur dengan mudah. Hanya karena dia adalah sahabat dari Kian, Ratu negeri ini.
Davian tidak merasa senang tapi juga tidak merasa buruk. Lebih kearah dia 'biasa saja'—mungkin karena secara mental lelaki itu sudah cukup mengalami kerusakan, entah itu rasa manis ataupun pahit. Semua sama saja.
"Begitu ya? Ku rasa itu pilihan yang ia putuskan dari awal." Ucap Zim, Davian setuju. Dua orang yang sedang menghisap cerutu itu menatap langit yang sama, sebentar lagi makan malam. Mereka benar-benar di manja saat berada di istana raja.
"Lalu? Apa kau tidak ingin bertemu dengan wanita itu?" Davian tahu apa yang Zim maksud, pasti itu tentang Reva. Dia memberi jeda sebelum memilih menyahuti kucing besar disampingnya.
"Aku, sejujurnya terlalu takut. Aku tak ingin menjadi goyah kembali hanya karena hal sepele seperti cinta," ucap Davian kejam. Zim bisa memaklumi sikap yang Davian tunjukan padanya meski dia tidak terlalu paham soal detail kisah hidup lelaki itu.
"Ucapan mu lumayan sadis, padahal dia cinta pertama mu..." tiba-tiba sosok Elliot muncul entah dari mana, bergabung dengan kedua orang yang bersantai ria di balkon pribadi milik istananya. Entahlah, sejak kapan mereka terlihat akrab semua mengalir begitu saja.
Davian memilih tidak menanggapi ucapan Elliot soal Reva, dia mengangkat bahunya acuh sambil menghisap nikmat cerutu disela tangannya.
Elliot tampak kesal karena diacuhkan tapi begitulah sifat Davian setelah beberapa waktu tinggal bersama manusia itu.
"Ku harap kau bisa datang makan malam di ruang makan utama, wanita itu mengharapkan kehadiran mu." Tutur Elliot, lagi-lagi diacuhkan oleh Davian.
"Aku tak tahu apa masalah mu tapi akan lebih baik jika kau memilih untuk menyelesaikan masalah itu. Kehidupan akan terus berlanjut, seberapa keras kau merutuki takdir serta membenci kehidupan—roda itu akan tetap berputar."
Sebuah perkataan bijak dari mulut makhluk yang paling egosi dan buruk sikapnya didunia bawah. Davian tak percaya makhluk bergelar raja dan merupakan musuh masa lalu itu bisa berkata demikian, padahal dia memenjarakan erat sosok Kian dengan dalih takdir yang hanyalah omong kosong belaka demi mengikat seseorang dalam cinta penuh obsesi mengerikan semata miliknya.
Tapi jika dipikirkan Elliot ada benarnya, hah~
"Baiklah..." putus Davian.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...