Crazy Baby

Crazy Baby
Kesal


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________________________...


...K e s a l...


...___________________________________...


..._______________________...


..._______________...


..._______...


...___...


..._...


Reva membisu, saat kedua gendang telinganya menangkap suara kecil dari jentikan jari Davian. Sosok lelaki itu tiba-tiba menghilang dari pandangan; meninggalkan Reva seorang diri dalam senyapnya keadaan.


"Hah..." Reva membuang napas tak percaya. Davian pergi begitu saja menggunakan kekuatannya tanpa mau mendengar penjelasan gadis bermanik kelam itu. Luar biasa.


Sial.


...***...


Tap...


Tap...


Tap...


Tap...

__ADS_1


Tap...


Gema langkah kaki Davian terdengar, sunyinya lorong memberi kesan suram. Pandangan tajam dengan alis menukik membuat sosok Davian sukar untuk didekati.


"Davian?" panggil seseorang, menyambut kedatangan lelaki bermanik hazel itu. Davian melirik dari balik ekor matanya, di tatap remeh sosok Eni yang tiba-tiba muncul layaknya hantu.


Glek...


Eni menelan saliva susah payah, ada apa dengan mood Davian? Rasanya mengerikan.


"Dimana kakek?" tanya Davian menyentakan pikiran Eni. Ragu, wanita itu membuka mulutnya.


"Taman mimpi,"


Tanpa basa-basi Davian putar haluan, menuju arah taman yang disebutkan sepupunya itu. Melewati lorong-lorong sepi lagi, Davian merasakan aura negatif dimana-mana. Lelaki itu berdecih kesal, dengan satu kali jentikan jari semua benda-benda kotor itu lenyap. Pintu masuk taman mimpi terlihat didepan mata, Davian mempercepat langkahnya—punggung sang kakek terlihat dari kejauhan. Lelaki tua itu tengah menata kembali rangkaian bunga ditamannya. Bibir Davian terbuka, nada suara bergetar terdengar.


"Ka... kek..." panggil lelaki bermanik hazel itu; setangah merengek. Sang kakek yang mendengar suara cucu kesayangannya menoleh.


Hug~


Alangkah terkejutnya lelaki tua itu mendapat sebuah pelukan langsung dari Davian. Biasanya sang cucu enggan dipeluk apa lagi memeluk.


"Huwaaa! Hiks... hiks... KAKEK... Argh!"


Eni yang mengintip dari kejauhan ternganga, matanya membola sama seperti sang kakek hazel. Davian menangis layaknya anak-anak dalam sebuah pelukan. Ada apa ini? Ada apa ini? pikir kedua orang tersebut.


"Ada apa Davian?" tanya sang kakek seraya meletakan tangan keatas permukaan kepala Davian. Di elusnya sayang.


Bukannya menjawab, Davian malah meraung sejadi-jadi. Membuat sang kakek salah tingkah; pria tua itu kebingungan harus bertindak. Sebenarnya apa yang menimpa sang cucu? Sampai-sampai cucu jenius ini bertingkah kekanak-kanakan.


.


.


.


.


"Hish!" ditariknya lendir yang nyaris meluncur dari lubang hidung Davian. Sang kakek dan Eni memperhatikan wajah kacau lelaki itu, sambil menatap kepulan asap teh mawar di atas meja; disebuah gazebo tempat mereka duduk sekaligus tempat Davian menenangkan diri. Lelaki bermanik hazel kental itu membuka suaranya.

__ADS_1


"Reva akan menikah," Eni tersedak ludahnya sendiri. Apa yang telinganya dengar barusan? Reva? Menikah? Dengan siapa? Batinnya bersuara.


Sang kakek yang mencerna keadaan sepertinya menemukan titik samar kebenaran dari tingkah Davian. Masalahnya, kali ini Davian benar-benar sadar; tidak terpengaruh insting buas atau sejenisnya yang biasanya membuat seseorang di dalam keluarga mereka jadi bertingkah romantis maupun manja.


"Lalu?" beo sang kakek meminta isyarat agar Davian berkata lebih jelas.


"Kesal, Dia milik ku kakek..." sahut Davian berwajah cemberut, mengabaikan kesopanan kata pada sang kakek.


Sang kakek menyeruput secangkir teh.


"Aku ingin menikahinya..."


BYURRR!


Semburan air seperti pancuran taman terlihat; keluar dari sela bibir lelaki tua didepan Davian. Beruntung tidak menyasar wajah Davian sebagai tempat mendaratnya. Di lain sisi, seterkejutnya sang kakek tidak sebanding dengan kagetnya Eni. Wanita berstatus sepupu Davian itu sampai mengembang di udara karena lupa mempertahankan bentuk wujudnya.


"Kau serius Davian?" ulang sang kakek. Meminta sedikit kepastian. Sang cucu berwajah lugu itu mengangguk; luar biasa, batin sang kakek melihat kemantapan Davian mengakui perasaannya. Rupanya cucu kesayangan yang satu ini mewarisi sifat ayahnya, alias anak sang kakek—Kevin.


"Aku bahkan menandai lehernya," ujar Davian. Mata sang kakek membola. Dia menatap penuh selidik kearah manik Davian.


"Apa—" beonya lagi seperti orang bodoh. "Tanda?"


Dan dengan polosnya Davian mengangguk.


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...Terima kasih,...


...(semoga kalian suka)...


...Ketemu lagi nanti......


...Bye......


...:3...

__ADS_1


__ADS_2