Crazy Baby

Crazy Baby
Melucu


__ADS_3

Seperti kembali pada kejadian sebelumnya, Reva memancarkan aura negatif yang mengundang ketidak selarasan emosi. Jika seandainya Josan bisa melihat, begitu banyak benda-benda hitam bertebaran—seolah melahap satu persatu objek yang menghalanginya sebelum menelan habis tubuh si-inang.


Reva masih menunjuk pintu keluar meski sayang dilihat dari gelagat Josan, lelaki itu seperti enggan beranjak. Dia malah menyilangkan tangan ke-dada; memandang penuh minat wajah marah gadis cantiknya.


Napas Reva naik turun, dia bisa-bisa kehabisan stok sabar jika terus begini. Kepala Reva mulai berdenyut, oh! Ayolah?! Jangan sekarang!!


Rasa lelah mendera fisik Reva, setelah melewati banyak hal yang tidak masuk akal di kediaman kakek suaminya. Reva mengharapkan jika dia bisa beristirahat sebentar, tapi kenapa Josan malah menguji mentalnya?


Mata gadis berwarna gelap itu mulai berkunang-kunang, tubuh Reva sedikit oleng. Langkahnya mundur dengan punggung membentur belakang pintu kamar. Apa ini? tanyanya dalam batin.


Semuanya seperti bergoyang? |


Tes...


Sesuatu mengalir dari hidung Reva, menetes jatuh kelantai. Warnanya merah. Darah? Josan tersentak kecil begitu melihat Reva tiba-tiba jatuh dengan mata terpejam.


"Bugh!"


Davian membuka matanya cepat, kilat hazel terlihat pekat. Eni bersama sang kakek yang tengah berbicara terkejut—Davian lepas dari belenggu simbol dengan sendirinya. Lelaki itu menyerap kekuatan Adam lalu meniadakannya.

__ADS_1


Davian berdiri membenarkan pakaian yang dikenakannya. Wajah lelaki bermanik hazel itu terlihat tenang.


Kakek Davian benar-benar dibuat bungkam, lelaki tua itu tak bisa berkata apa-apa. Begitu juga Eni, sampai pada titik Davian menoleh pada mereka.


BADUM!


Dua orang itu merasa merinding, mata yang masih berwarna hazel sekilas terlihat berubah emas dengan kilat tajam. Davian mengangkat tangannya, tak! Terdengar jentikan jari lalu sosok Davian menghilang dari sana dalam hitungan detik.


Menyisakan Eni bersama sang kakek—terdiam membeku.


Josan mengangkat Reva, lelaki itu ingin membawanya kekamar untuk dibaringkan tapi tiba-tiba Davian muncul entah dari mana—mengejutkan Josan.


Lelaki yang mengaku-ngaku sebagai tunangan Reva itu mundur beberapa langkah, wajah panik terlihat. Berbanding terbalik dengan Davian, ekspresinya cenderung tenang juga mencekam dalam satu waktu.


"Kembalikan istriku," ucap Davian.


Dipikirkan Josan sudah menancap kuat stempel gila pada lelaki bernama Davian ini. Josan mengeratkan pegangannya pada tubuh Reva, seolah menyimpan tubuh gadis itu rapat-rapat dan menunjukan bahwa Reva itu miliknya.


Davian tidak terpengaruh dengan prilaku terang-terangan Josan, dia hanya mengangkat kedua tangan—menunggu Josan menyerahkan tubuh Reva kepadanya. Meski tak kunjung Josan serahkan.

__ADS_1


Lelaki bermanik hazel itu menaikkan pandangan, matanya bersinggungan dengan manik Josan.


"Kembalikan istriku," ucapnya lagi.


"Memangnya siapa kau sebenarnya? Aku tak punya alasan khusus untuk menyerahkan Reva pada mu..." sahut Josan. Davian menyimpan kembali kedua tangannya disisi tubuh.


Terdengar hela napas panjang dari sela bibir Davian.


"Suaminya." ujar Davian setelah itu.


"Aku suaminya,"


Josan mendengus tak percaya, lelaki itu tertawa remeh dengan wajah mengejek.


"Jangan melucu kau!" tuturnya dengan rahang mengeras. Candaan Davian benar-benar membuat Josan kesal, Reva itu jelas miliknya. Bukan milik siapapun.


Davian menatap datar lelaki didepannya.


"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Davian dingin.

__ADS_1


__ADS_2