
"Hosh~"
Glek!
Bulu kuduk berdiri, Kian menoleh. Dia jelas merasakan embusan napas pelan diarea tengkuknya; seperti ada seseorang disana tapi kenyataannya tidak. Beberapa waktu belakangan ini Kian sulit sekali menemui sahabatnya; Reva, terakhir wanita itu ingat tentang Reva adalah soal penuturan tak masuk akal dia yang bertunangan dengan Davian. Sejenis itu. Jujur saja Kian menginginkan mulut temannya itu untuk bicara serta menjelaskan padanya dengan bahasa yang lebih mudah.
Nihil.
Sayangnya setelah kejadian itu, waktu bertemu sahabatnya nyaris tidak ada. Reva seakan-akan menghilang dari peradaban. Kian hanya mampu menghela napas pasrah, selain keberadaan Reva yang sulit untuk ditemui Kian juga mengalami beberapa fenomena aneh.
Entahlah, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Sejenis hal-hal berbau mistis. Jika kalian percaya—
Deg!
Kian selalu merasa diperhatikan, setiap langkah miliknya seperti di ikuti oleh seseorang.
Tap!
Tap!
Tap!
Gema suaranya benar-benar nyata.
Tak jarang Kian juga merasakan embusan napas dingin yang berhasil membuat tubuh meremang gila.
"Hufss~"
Siapa disana?
Siapa?
Siapa?
"Tidak ada..."
Ini membuat merinding.
Apa jangan-jangan Kian ketempelan?
Barang kali ada setan atau hantu jenis tertentu yang tertarik dengan keberadaan Kian. Makanya Kian mengalami berbagai perisitiwa aneh, bisa saja 'kan?
Glek!
Tapi ternyata salah.
Kian menelan saliva kasar, dia melirik dari balik ekor matanya.
Ada sesuatu disana, tepat dipojok ruangan. Berdiri kaku dengan wujud mengerikan meski hanya bayangan.
Hitam dan besar.
Apa itu?
"Siapa disitu?"
Mungkin jika di ilustrasikan dengan pemahaman manusia sosok itu lebih masuk akal apabila disebut sebagai—iblis.
Ah! Dia bergerak kemari, Kian membeku; berkeringat dingin. Meringkuk dalam selimut. Ku mohon! Pergilah?! Jeritnya dalam hati. Volume ranjang turun Kian merasakan sosoknya naik lalu berbaring disamping dengan tangan yang siap memeluk tubuh hingga kaku.
Apa yang kau inginkan?!
Seakan-akan jika sosok itu melepaskan pandangan—Kian akan pergi, di pagi hari yang cerah tubuh Kian selalu tidak dapat digerakkan secara optimal. Sial. Akhirnya Kian jadi terbaring lemas diatas ranjang sepanjang hari. Bahkan mulai berhenti masuk kuliah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
(ÉŔ~ Ĺùcĺop nèh..)
^^^Ah~ aku menyukai mu,^^^
(Řqèèún!)
^^^Ratu ku!^^^
(Þìvßĺo bioñßw vu~)
^^^Aku ingin bersama mu~^^^
(Èvfsyè vù...)
^^^Sebentar lagi...^^^
(Ģrebànğ ĺèvgawź ďuĺò hàmæñ òpwñ~)
^^^Gerbang menuju dunia manusia telah dibuka~^^^
(§hàles baŕie Řqèèún, ľsebule.)
^^^Waktunya penjemputan sang pengantin.^^^
Bugh!
Kian terjatuh.
Manik matanya bergetar, antara takut dan kebingungan. Bahkan rasa sakit diarea belakang bekas terjatuh tidak ada apa-apanya. Apa ini? Apa ini? Apa ini? Jerit dewi batinnya bertanya.
Glek!
Hanya mampu menelan suara didalam tenggorokan. Setelah sekian lama tidak memutuskan untuk keluar dari kediaman, Kian tidak mengira akan disebut dengan meriah.
Oleh sesuatu yang—
Apa itu sebutannya?
Rombongan makhluk astral?
Haha! Ini tidak lucu.
Suara gaduh yang diciptakan Kian bekas terjatuh menarik minat, mereka menoleh. Bentuknya tidak beraturan; ada yang seperti siluman setengah hewan, bermata majemuk, lengan tak normal dan lain sebagianya.
Ini bahkan bukan halloween.
Dan yang lebih anehnya lagi, ada satu sosok—tampak seperti manusia dengan bayangan tubuh yang mengerikan. Hawa kehadirannya memberi sensasi ngeri. Persis layaknya sosok pengganggu yang selalu mengikuti langkah Kian, dia berpakaian rapi. Mirip stelan jas pernikahan, tersenyum girang seperti menyambut sang pengantin yang telah didambakan.
Sial.
Firasat ku tak enak.
Sosok itu tiba-tiba mendekat, mengulurkan tangan pada Kian yang terjatuh. Manik milik wanita itu turun, tangannya begitu pucat—jelas sekali dia bukan manusia.
Kian melihat bibir dari sosok tersebut terbuka, sangat pelan—
"Ratu ku..." panggilnya, serupa bisikan dengan nada yang teramat senang.
...***...
"Argh..."
Kian membuka kedua kelopak mata, kediaman mewah menyambut sosok tersebut seperti biasanya. Wanita yang menggunakan gaun tidur tipis itu lalu mengubah posisi menjadi setengah bersandar disandaran ranjang. Terlihat dia menguap kecil sembari melirik—sisi lain ranjang rupanya kosong.
Elliot tidak tidur disampingnya tadi malam.
Jelas sekali, pasti sosok dengan tital raja itu sedang kerepotan mengurus tugas kerajaannya. Terakhir Kian ingat, ada beberapa masalah yang berkaitan dengan pemberontakan. Entah apa itu—Kian tidak terlalu peduli, yang penting dirinya bebas dari rengekan makhluk menyebalkan bernama Elliot yang selalu minta dipeluk setiap malam.
Ya meski demikian, rasanya Kian sedikit kesepian. Bahkan dia sampai memimpikan sesuatu. Bukan mimpi yang indah tapi tidak cukup mengerikan juga bila disebut sebagai mimpi yang buruk, mungkin.
Kian menunduk, sebuah cincin cantik terlilit dijari manisnya. Benda yang tak akan mungkin bisa Kian lepas kecuali dia memilih untuk mengorbankan hidupnya. Kian tidak cukup gila, berhadapan dengan kematian didalam dunia aneh ini.
__ADS_1
Jika kau ingin mati, matilah ditempat yang kau inginkan. |
Tok! Tok!
Seperti biasa, suara ketukan pintu terdengar dari kejauhan. Salah satu dayang pribadi milik Kian selalu datang tepat waktu, Kian tersenyum simpul. Bisa-bisanya dia menikmati hidup dalam sangkar emas ini.
"Masuk..."
Tapi! Bukan berarti Kian akan menyerah dengan kehidupan miliknya.
Elliot adalah sosok yang merenggut kebebasan milik Kian, omong kosong jika ia tidak membenci sosok tersebut. Hanya saja, ini belum waktunya untuk Kian kembali.
Pergi dari sini.
Lari dari benang merah bernama takdir, lalu lepas dari jeratan emas yang sengaja Elliot ciptakan.
Mari permainkan sebelum kalian yang dipermainkan. |
"Bantu aku bersiap-siap dan untuk sarapan ku pagi ini—aku ingin sesuatu yang manis,"
"Yes my Queen~"
.
.
.
.
.
Tap!
Tap!
Tap!
Elliot melangkah cepat, dia baru saja membereskan sekelompok pemberontak di area Timur Laut. Masih dengan tubuh berlumuran darah, langkahnya begitu cepat. Langit diluar sana sudah menunjukan waktu malam, selama seminggu terakhir sosok Elliot tidak dapat berjumpa dengan ratunya. Kalian bisa bayangkan, seberapa rindu Elliot terhadap Kian.
Dia selalu harap-harap cemas, setiap kembali apa yang Elliot inginkan cuma 1 agar bisa melihat sosok Kian yang berada didalam kamarnya. Entah itu terlelap atau hanya sekadar menatap indahnya langit malam.
Tapi kali ini sepertinya berbeda, gurat marah muncul. Bahkan sorot matanya terlihat nyalang, gerangan apa yang terjadi?
Sebastian mencoba menyusul, dia berharap bisa menenangkan sosok tersebut namun tak bisa. Elliot seakan tuli, ketika pintu kamar dengan ukiran indah itu masuk kedalam indra penglihatan. Elliot mempercepat langkah lalu membukanya kasar, beberapa dayang terlihat ketakutan.
Dimana?
Di-ma-na-!
DEGH!
"DIMANA RATU KU?!"
Jerit sang Raja yang sekarang benar-benar murka.
...***...
...Tbc...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih telah membaca,...
...ketemu lagi lain waktu....
...Sampai jumpa,...
...bye...
...:3...
__ADS_1