
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________________...
...M a n i p u l a t i f...
...___________________________...
...________________...
...________...
...___...
..._...
Davian tahu Josan hanya memprovokasi, tapi ucapan lelaki kurang ajar itu ada benarnya sebagian. Reva yang ia tahu; tidak menyukai Davian dan mungkin karena adanya insiden ini bisa saja Reva membencinya?
Membenci Davian.
MONSTER!
"TIDAK!"
Pikiran Davian kacau, wujud tubuhnya berubah bentuk tak karuan. Josan berhasil, Davian memilki kontrol emosi yang tidak stabil jika berkaitan dengan sosok Reva. Tebakan sementara Josan adalah cinta sepihak meski lelaki itu tak tahu hubungan seperti apa yang mereka jalani; antara Reva dan Davian.
Kemunculan Davian sangat mengganggu sedari awal. Josan tak menampik karena rencana miliknya kacau balau akibat Davian, tidak masalah bukan jika dia membalas dendam meski sebenarnya tindakan lelaki itu salah besar—karena membuat Davian tertekan.
__ADS_1
JLEP!
"Eh?"
Sesuatu terdengar seperti menggelinding dipermukaan lantai. Pandangan Josan tiba-tiba berputar 360 derajat.
Brugh!
"Apa?"
Apa yang terjadi? tanya dewi batinnya sebelum kedua mata Josan menjumpai tubuh tanpa kepala yang tersungkur didekat area dinding.
Itu tubuhnya?
Sorot mata Josan membola, dia melirik pelan dengan tampang tak percaya kearah Davian. Sosok yang ia yakini mengalami tekanan secara mental 5 detik lalu terlihat membalas tatapannya dengan wajah merendah.
Tiba-tiba senyum terbit di muka Davian.
"Selamat datang di ruang ilusi bunga hitam, kau akan merasakan kematian secara berulang bajingan!" pekik Davian girang. Dia berjongkok, mengangkat kepala Josan yang anehnya meski terpisah dengan tubuh masih bisa mempertahankan kesadaran.
"Itu hukuman karena membuat istri ku menangis!"
BUGH!
"ARGHHHHH!!"
Josan terkejut, Davian menghantam-kan wajahnya ke lantai. Rasa nyeri yang begitu nyata; Josan merasakan aliran darah mengalir segar dari arah keningnya.
Davian mengangkat kembali kepala Josan lalu—
Bugh! Bugh! Bugh!
Berulang kali, dengan ringannya Davian membawa wajah Josan mencium kasar permukaan lantai sambil terkikik geli.
__ADS_1
Josan merasakan karat dalam mulutnya, sedikit banyak dari gigi lelaki itu lepas. Berserakkan dimana-mana bersama bercak darah. Beberapa kali Josan meringis sakit.
"–ma–maafkan! AMPUNI AKU?!" rintih Josan susah payah. Dia merasa putus asa, dengan sakit luar biasa antara hidup dan mati? Atau mati yang tak mati?
BRUK!
Davian melempar sembarang kepala Josan untuk terakhir kalinya saat mendengar kalimat penuh nada pilu dari bajingan itu. Terlihat Davian mengibaskan tangannya; bekas menjambak rambut Josan. Lelaki itu merasa jijik meski dia berhasil membalaskan dendam Reva-nya.
Haha |
Setimpal.
"Dengar aku akan memberikan mu peringatan, pertama dan terakhir kalinya... jangan bertemu atau menunjukan wajah mu pada Reva, ku tegaskan lagi—dia istri ku. Jika tidak, aku tak akan menjamin nyawa mu di pertemuan kita selanjutnya..." tutur Davian ramah. Matanya benar-benar menatap jenaka sosok mengenaskan Josan.
"Oh ya... soal kalimat mu tadi tentang Reva yang akan membenci ku—" gumam Davian menggantung, dia terpikirkan sesuatu; sambil bergerak menuju tubuh Josan. Ketika sampai pada seongok daging tak berkepala, Davian mengangkat kaki kirinya lalu menginjak kuat tubuh lelaki itu.
"Ergh!" Josan memuntahkan darah dari sela mulutnya.
"Aku tak peduli, benci tidaknya dia pada ku... dia akan tetap jadi MILIK KU!"
...***...
...T b c......
...Jangan lupa like, vote, dan comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1