
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________________...
...D e s a - T a n p a - N a m a...
...____________________________...
..._________________...
..._______...
..._...
Eva menghabiskan 4 jam di dunia para Demon atau lebih tepatnya dia terperangkap? Argh~ apapun itu yang pasti jika dikira-kirakan wanita ini sudah menghilang selama 4 hari didunia manusia. Memang dia sedikit khawatir soal Davian tapi apa boleh dikata, wanita ini sudah terlanjur. Dia hanya berharap ketika kembali kedunia manusia Davian tidak akan mengamukinya meski terdengar sedikit mustahil, haha... apa yang Eva angan-angankan, lelaki itu pasti marah besar saat ini.
Okay mari kesampingkan pikiran soal itu, Eva cukup lama berjalan dibawah langit merah ini. Sejauh yang dapat dia lihat, hampir rata-rata lahan disini tandus dengan monster tingkat dasar yang berkeliaran bebas. Tapi apa yang menyambut Eva kali ini cukup mengejutkan, wanita itu bersembunyi disemak-semak tebing.
Itu sebuah desa.
Ada peradaban didalam dunia para iblis, menarik.
Apa yang bisa Eva lihat adalah segerombolan makhluk yang bukan manusia atau bukan Demon sejati berjalan kesana-kemari, tubuh mereka tegap tapi warna kulit masing-masing makhluk itu memiliki variasi yang lebih banyak dari pada manusia.
Ada beberapa yang memiliki tanduk, bermata banyak hingga lengan yang lebih dari 8—agak menjijikan sih sebenarnya tapi tak apa. Anggap saja mereka adalah pemeran film yang selalu Eva dan Davian tonton saat akhir pekan.
Untuk berbaur disana, wanita ini perlu menyamar. Apa mereka juga memiliki kebiasaan membaui kawan? Jika iya itu akan sedikit merepotkan, manusia memiliki ciri aroma tubuh yang berbeda dan mungkin akan memikat mereka. Eva membentangkan tangan, sebelah matanya tertutup—wanita ini memperkirakan seberapa luas ukuran desa tersebut serta mencari-cari rute pelarian terbaik jika penyamaran dia terungkap. Bagus, tidak terlalu luas. Mungkin setara 1 distrik di dunia manusia, tanpa ba bi bu Eva berguling diatas tanah tandus.
Aroma tanah yang menempel pada tubuhnya akan menyamarkan bau, wanita itu lalu mengeluarkan benda-benda berbulu dari dalam tas. Kulit serigala hasil buruan, meski masih meninggalkan bau amis tapi ini cocok untuk dijadikan topeng. Eva memasang tengkorak kepala yang sudah tidak memiliki organ diatas kepalanya lalu melingkarkan tangan dari serigala di leher layaknya syal.
__ADS_1
Waktunya bergerak. Eva bangkit, dia menuruni tebing dengan cara unik. Menjadikan cekungan tanah sebagai prosotan, cara ini menghemat waktu tempuh Eva. Gerbang dari desa terlihat, wanita itu menahan laju kakinya. Sambil melirik kepenjuru arah, Eva berjalan santai. Suara-suara dari makhluk itu yang merupakan penjaga gerbang terdengar, sepertinya mereka tengah melakukan percakapan.
"Àēŕďq Jįģŕwœ..."
"Ľįþìpæ fòñaķà! Jůłòpęà¿!"
Atau mungkin tengah berdebat? Entahlah, Eva tidak bisa memahami satu barispun kata yang mereka ucapkan.
Agaknya sebelum masuk Eva perlu penyesuaian.
Bukan karena tidak berarti tapi memang tidak mengerti. Dunia punya ragam misteri untuk dipelajari, dengan izin dari sang penentu takdir; biarkan ku untuk mencari sebab serta akibat dari mimpi.
"Berhenti!" Eva menghentikan langkah kakinya saat salah satu makhluk jadi-jadian itu mencegat tubuhnya.
Eva mendongak, dia melihat dari sela topeng tengkorak miliknya. Wujud dari penghuni dunia bawah cukup besar, wanita itu tersenyum sambil berkata—
"Ada apa tuan?" Dengan menyesuaikan bahasa mereka.
Makhluk yang memiliki tanduk rusa dan bola mata katak itu menunduk, diikuti dengan temannya yang memiliki tubuh kuda.
"Tubuh nona cukup kecil untuk bangsa Sribër... benarkan Lohan?" Komentarnya, teman dari makhluk itu mengangguk.
Eva tertawa renyah, sial apa yang harus dia lakukan.
"Ha-ha... benarkah, tubuh saya memang kerdil dari kecil tuan..." ucap Eva mengarang. Dua makhluk yang Eva perkirakan adalah jantan itu terlihat mengangguk.
"Pasti berat sekali untuk mu nona harus bertahan hidup didalam kawanan..." sahut mereka iba.
Lohan lalu bertanya pada Eva.
"Ada apa gerangan nona sampai kau ke desa, biasanya bangsa Sribër engga berbaur dengan bangsa lainnya..."
Bangsa lain? Benarkah? Berarti tidak hanya satu desa yang ada disini.
"Saya sedang mencari sesuatu tuan..." ucap Eva jujur.
__ADS_1
Tiœ beroh ria. Karena rasanya Eva memiliki kesempatan untuk bertanya, apa wanita ini tanyakan saja perihal batu jiwa kepada kedua makhluk atau orang tersebut?
"Omong-omong tuan-tuan... apa saya boleh bertanya sesuatu?—" ucap Eva gantung.
"Apa kalian tahu soal batu jiwa?"
...***...
Eva melihat-lihat pedang didepannya, sungguh beruntung wanita itu karena mendapat beberapa uang dari kedua penjaga gerbang tadi saat dia mengaku dirampok dan tidak memiliki sepeserpun alat transaksi. Selain mendapat informasi tentunya, haha.
Berkat diksi pengetahuan yang Eva gumamkan sebelum menjejakkan kaki ke desa, wanita itu jadi tidak terlalu kesulitan dalam beradaptasi.
Setelah memilih pedang biasa dengan harga murah Eva keluar dari toko kecil milik makhluk setengah ayam yang terlihat senang menempa lempengan besi.
Baik mari wanita ini rangkum apa yang dia dapat setelah berkeliling desa. Penghuni makhluk dunia bawah memang semuanya adalah monster mengerikan tapi yang menjadi perbedaan ada pada akal mereka. Beberapa sudah ada yang sepintar manusia dan Eva menganggap mereka dengan sebutan makhluk kelas menengah. Lalu yang pernah Eva buru adalah makhluk kelas bawah, jika disama artikan mungkin saja mereka termasuk sebagai hewan di dunia manusia. Untuk kelas atas, Eva hanya bisa menduga; mungkin saja makhluk yang sudah mengerti dan mendapatkan pendidikan—seperti raja para Demon atau pengelola desa ini.
Terkait rencana selanjutnya dalam pencarian batu jiwa, informasi yang Eva terima dari Lohan dan Tiœ; nama batu jiwa itu sendiri asing ditelinga mereka tapi kedua makhluk itu ber- spekulasi kalau yang dimaksud Eva mungkin saja kristal bertuah.
Benda serupa darah membeku itu berada banyak di daerah kawasan tambang istana para raja. Tepatnya di pegunungan merah, untuk rute kedua makhluk itu tidak terlalu pandai menjelaskan. Mungkin karena minimnya informasi jadi mereka hanya mampu menyarankan pada Eva untuk melakukan perjalan ke ibu Kota bagian barat. Beberapa petualang pemula biasanya akan kesana untuk membeli peta dunia.
"Nona hanya perlu mengikuti bintang ke 2 dari langit merah, nanti nona akan melewati 5 desa tanpa nama seperti ini dan hanya perlu 3 hari perjalanan lagi nona akan sampai ke ibu Kota bagian barat..." seperti itulah penuturan Lohan padanya. Lima desa tanpa nama saja memakan waktu 7 hari perjalan, di tambah 3 hari untuk sampai ke ibu Kota; artinya Eva akan terperangkap selama 10 hari di padang tandus ini.
"Ergh~" lenguh Eva. Tak apa, setidaknya dia sudah mempersiapkan beberapa perlengkapan sebelum melakukan perjalanan panjang.
Eva harap ini cepat berakhir. Semoga.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...bye...
...:3...