Crazy Baby

Crazy Baby
Jemput


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih....


...Selamat membaca....


...___________________________...


...J e m p u t...


...____________________________...


..._________________...


...______...


..._...


"Menjauh dari ku!" teriak Reva. Josan bergeming ditatapnya sejenak wajah Reva. Lelaki ini bahkan belum mendekati bibir ranjang tempat gadis itu berada, keputusan bijak menculik Reva sejauh yang ia mampu dengan lembaran uang dalam dompetnya dari pada di ganggu oleh Davian. Lelaki itu monster. Berurusan lebih jauh dengan Davian sama saja kematian, tanpa perlu di pikirkan Josan sudah tahu karena intuisinya berkata demikian.


Sebenarnya Josan lelah, rasa sakit di sekeliling lehernya karena mimpi buruk yang di berikan Davian masihlah membekas. Bahkan sekadar menelan ludah rasanya sulit, tapi bukan berarti Josan akan melepaskan Reva. Dia lebih dulu memiliki gadis bermanik kelam ini dari pada si hazel itu. Anggaplah Josan menjadi sedikit gila, lebih baik mengklaim Reva sesegera mungkin sebelum Davian mengambilnya. Bukan begitu?


"Kau tahu?" gumam Josan. Dia jadi terpikirkan sesuatu, masih berusaha menutupi tubuh telanjangnya. Reva memasang baik-baik telinga dengan tampang waspada, menunggu Josan meneruskan kalimat dari mulutnya.


"—kau sadar tidak kalau monster itu menyukai mu?" tanya Josan dengan maksud penasaran. Di luar dugaan Reva tersentak, entah wanita itu paham atau tidak dengan ucapannya tapi mengingat kepribadian Reva Josan rasa tidak. Gadis itu hanya cerdas berpikir tapi mati rasa soal perasaan; si kaku kesayangan dia.


"Apa yang coba kau katakan?!" Dengar itu, Reva benar-benar tuli dan buta dengan sikap Davian. Sungguh kasihan, kenapa mereka mesti jatuh cinta pada gadis itu. Ya karena cinta tidak memilih tempat untuk berlabuh; dia tumbuh dengan sendirinya dalam goresan tinta bernama takdir.


"Padahal dia menatap penuh cinta tapi kau tidak menyadarinya? Ck... ck... aku suka sikap mu itu sayang, aku jadinya hanya perlu membobol hati mu lagi seperti dulu,"


Sumpah demi apapun Reva tidak mengerti maksud ucapan yang di gumamkan Josan. Penilaian subjektif apa itu? Davian? Menatapnya dengan cinta? Josan mungkin salah tangkap prilaku romantis Davian, lelaki itu pasti dibawah pengaruh insting bermanja ria dengan pasangan takdirnya.


Lagi pula Reva tidak memiliki perasaan kearah sana dengan Davian. Gadis itu hanya tertarik juga nyaman saat bersamanya, lelaki itu meski bersikap temperamental dan gampang marah—ada magnet tertentu yang membuat Reva tidak bisa lepas. Pandangan kelamn jadi hanya tertuju pada si hazel. Bisa disebut 'kah itu dengan cinta?


Atau hanya sebatas ter-obsesi saja?


Semenjak merasakan sakit akibat pengkhianat Josan akan cinta sucinya, Reva semakin sulit menilai wujud cinta itu seperti apa. Dia kebingungan, hatinya membeku. Reva menjadi takut; takut jatuh pada rasa sakit dan neraka mengerikan itu lagi. Tiba-tiba ulu hati Reva terasa nyeri.

__ADS_1


"Sebenarnya kenapa kau melakukan ini?" Lagi-lagi Josan dibuat tertahan. Entah sejak kapan lelaki itu sudah berada di atas ranjang, mungkin ketika Reva melamunkan sesuatu; Josan jadi lebih leluasa.


"Apa yang kau maksud hm?" tanya Josan. Pertahanan Reva melonggarkan, Josan menarik turun selimut. Membawa kedua tangan Reva keatas kepala gadis itu lalu membaringkan tubuhnya lembut menuju permukaan ranjang.


"Kenapa kau memperkosa ku dulu, lalu sekarang... kau ingin mengulang kejadian yang sama lagi?" ucap Reva bernada tanya kearah Josan yang sudah mengkungkungi tubuhnya; agak sedikit sarkas. Josan tampak terdiam memikirkan sebuah jawaban untuk si manis yang bertanya dalam situasi aneh ini.


"Karena aku mencintai mu." Hanya itu yang Josan jadikan sebuah jawaban. Manik kelam Reva berkaca, dadanya sesak hatinya sakit—mendengar perkataan konyol Josan.


Tes!


Reva menjatuhkan setitik kristal bening dari arah pelupuk matanya.


"Padahal kau tahu, aku masih mencintai mu saat itu,"


Josan berdecak kesal. Wajahnya berubah bengis mendengar penuturan Reva.


"Omong kosong!" sanggah Josan muak. Dia mengingat kembali semua rumor dan bukti-bukti perselingkuhan Reva dari teman-temannya saat di bangku sekolah menengah atas.


"Kau yang duluan berselingkuh Reva! Aku kesal, tiap mendengar kata cinta dari mu dengan wajah munafik itu?!" teriak lantang Josan tiba-tiba dengan wajah yang seakan siap mencekik Reva kapan saja.


Hah? Berbanding terbalik dengan Josan Reva malah menampilkan tampang setengah bingung dan tak percaya, apa yang di dengar telinganya? Apa itu alasan Josan berubah menjadi pria bejad?


"Rumor dari mana itu!" balas Reva tak kalah lantang. Egonya sedikit tersentil; dirinya seperti tengah di fitnah.


Josan jadi menyadari sebuah kejanggalan dari perbuatannya. Mata lelaki itu membola—kesalahan apa yang ia lakukan?


"KAU SELALU MENGHANTUI KU DI DALAM MIMPI, MEMBUAT KU INGIN MEMBUNUH MU! MERUSAK SATU-SATUNYA MILIK KU?! Dan hanya itu alasan dibalik sikap mu?! Pria dungu! Bahkan aku rela membunuh bayi di perut karena membenci mu!"


Apa?


"Apa yang kau bunuh?" beo Josan.


"Jadi kau sempat hamil Reva?" tanya-nya lagi.


"Dan aku tak sudi mengakuinya." desis Reva tajam yang sayangnya ditanggapi bahagia oleh lelaki gila ini?


...***...


"Ayah menemukannya!" pekik Kevin. Rasanya ada kesenangan tersendiri ketika dia berhasil menemukan keberadaan Reva. Perlu beberapa jam memeriksa seluruh penglihatan di dunia dengan matanya dan itu sangat menguras tenaga.

__ADS_1


Davian yang mendengar cepat mendekati sosok sang ayah. Dia menunggu kejelasan lebih lanjut dari Kevin.


"Perjalanan luar negeri, tepatnya—"


.


.


.


.


.


Pantas saja Davian tidak bisa menemukan keberadaan Josan, sosok itu meninggalkan daerah otoriter Davian. Lelaki pemilik manik hazel itu berpindah tempat menuju kediaman cabang bagian perbatasan barat usai menerima bantuan dari sang ayah juga kakeknya.


"Jarang sekali kau berkunjung kesini Davi?" sapa seseorang. Davian menoleh, suara lelaki seumuran kakak tertuanya Gideon terdengar.


"Aku ingin meminjam ruang teleportasi milik mu" ucap Davian tanpa basa basi. Lelaki dengan senyum tumpul menatap secarik kertas yang di sodorkan Davian—berisi sebuah alamat.


Hm...


Si jenius klan mereka meminta bantuan, daerah yang ingin Davian datangi perlu izin dari pemilik tanah perbatasan keluarga cabang.


"Untuk apa kau ingin kesana Davi?" tanya Sai. Davian mendengus sambil membuang pandangan, malas menjawab lelaki itu.


"Jika kau tak ingin menjawabnya, aku tidak bisa memberi izin... kecuali kau mau menggunakan pesawat komersial kesana," tutur Sai setengah menggoda. Dia mengangkat bahu acuh tak acuh.


Tch!


"Menjemput istri ku dari tangan bajingan! Puas!"


...***...


...T b c ......


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...Terima kasih....

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2