
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...______________________________...
...J a t u h...
...______________________________...
...___________________...
...___________...
..._____...
...__...
..._...
"Kata-kata mu terlalu egois Davian," koreksi sang kakek seraya menyeruput kembali teh ditangannya. Garis senyum Davian luntur, lelaki itu menopang malas dagu miliknya diatas meja gazebo. Davian membuang pandangan; lelaki bermanik hazel itu menghela napas panjang.
HAH~
Hatinya tahu kalau kata-kata yang baru saja dia ucapkan itu lebih mirip sebuah obsesi dari pada cinta, tapi mau bagaimana lagi; lelaki ini kehabisan ide.
__ADS_1
Ah!
"Saya bertemu Gabriel waktu itu..." gumam Davian, mencari topik pembicaraan baru. Kali ini ia menggunakan bahasa formal pada satu-satunya kepala keluarga; pemimpin seluruh kerabat sekaligus orang yang sangat Davian kagumi sedari kecil. Sang kakek tergerak, lelaki tua itu menatap penasaran sang cucu.
"Saya yakin kakek pasti penasaran bagaimana saya bisa lepas dari segel belenggu? Semua itu karena ulah Gabriel..."
Krak!
Terdengar suara pecahan. Davian melirik dari balik ekor matanya, sosok sang kakek terlihat tengah menunduk—menatap dingin cangkir teh yang sudah terbelah dua. Rasanya merinding, Davian tahu seberapa benci keluarga mereka terhadap makhluk itu.
"Dia menyusup?" tanya kakek Davian. Pandangannya naik perlahan tepat menghunus manik hazel Davian.
Deg!
Seperti ada aura membunuh, tatapan itu seolah ingin melubangi kepala lawan bicara didepannya. Davian menelan saliva kasar, haha... rasanya canggung.
"Bisa dibilang begitu," sahut Davian, atmosfer sekitar seketika menjadi sangat berat. Eni yang ikut menyaksikan dari kejauhan merasa ciut, sudah lama sekali tidak melihat tekanan luar biasa dari sang kakek.
Glek!
Davian membenarkan posisi duduknya, lelaki itu menjentikkan jari. Portal dimensi mini muncul ditengah-tengah meja, Davian mengangkat tangan menuju area sana—belum lewat 5 detik lelaki itu kembali menarik tangannya. Sapu tangan tak bermotif dengan warna kebiruan terlihat, Davian menyodorkan benda itu pada sang kakek. Lelaki tua dihadapan Davian menyambut ramah pertolongan kecil sang cucu. Kakek Davian lalu menyapu pelan jemari tangannya yang terkena teh dengan ekspresi datar.
"Kami hanya berbincang, tapi saya jadi mengetahui sebuah fakta... dan itu—sedikit menarik," ujar Davian sambil tersenyum simpul, menatap sendu jari manis tangannya.
...***...
Bruk!
Reva menutup kasar daun pintu. Perasaan kesal masih memenuhi hatinya. Gadis itu menghela napas gusar sambil membenturkan punggung ke bagian belakang daun pintu. Dadanya menggebu. Tangan gadis itu terangkat; Reva menutup kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
"Sial!" maki Reva, sekilas ingatan tiba-tiba muncu—merangsek masuk secara paksa kedalam otak. Memori buruk, gadis itu menggigit kuat bibir bagian bawahnya.
Tringg!
Ringtone tak asing mengejutkan Reva. Gadis itu merogoh cepat ponsel miliknya dalam tas kecil yang ia bawa. Nama sang ibu tertera manis pada panggilan tersebut. Biar Reva tebak, pasti Josan mengadu pada wanita tua itu. Dasar lelaki pengecut!
"TCH!"
Decak Reva sebal, dia memilih mengabaikan panggilan sang ibu; menyimpan kembali benda tipis itu ke-tempatnya semula. Wajah Reva mendongak, langit-langit ruangan terpantul di kedua manik kelam miliknya. Beberapa saat kemudian keheningan melanda—
Tes~
Kristal bening tiba-tiba mengalir dari arah pelupuk mata.
"Eh?" bingung Reva. Badannya gemetar, kakinya lemas.
"Brugh..."—hingga akhirnya merosot jatuh diatas permukaan lantai.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye......
__ADS_1
...:3...