
...Selamat membaca....
...___________________...
...M y - L o v e...
...___________________...
...____________...
...______...
..._...
Taps!
Jejak darah mengiringi langkah, perasaan sesak mendominasi keadaan.
"Hosh! Hosh?!"
Rasanya ingin meledak, degup jantung itu terdengar mengerikan.
DEG!
DEG!
DEG!
DEG!
DEG!
Apa yang terjadi?
Bagaimana ini bisa bermula?
Dari mana?
Dari mana?!
Dari mana titik kesalahan ini dimulai?
BUGH?!
"Argh!?"
Kian terjeramba, pilinan benang merah melilit kakinya.
Takdir? Sialan! Itu hanya omong kosong! Ini tidak nyata?! Tidak sama sekali. Demi Tuhan, kenapa kau jatuhkan tubuh ini apa pada neraka menyedihkan tersebut.
Bebaskan! Kembalikan?!
"KEMBALIKAN KEBEBASAN KU."
Deg!
.
.
.
.
.
Kian tersentak. Kelopak matanya terbuka berat dengan gerakan lambat. Lagi-lagi sebuah mimpi tentang kenangan masa lalu muncul dalam ingatan, begitu segar—serasa baru kemarin rasanya.
Ergh!
Denyut sakit diarea kepala menyetrum sebentar. Sial. Kian memaksakan diri untuk mengubah posisi. Dia termenung—
__ADS_1
Jika tidak salah, itu pertama kalinya Kian mencoba untuk kabur dari penjara emas milik sang raja; Elliot. Meski akhirnya dia terjeramba jatuh dan kembali tertangkap.
Haha, kalau dipikir-pikir lucu juga. Kian sudah bisa beradaptasi dengan baik bahkan sampai sempat merindukan sosok beringas tersebut, pada moment-moment tertentu.
Contohnya seperti sekarang ini;
Jeruji besi mengelilingi sekitar, lempengan dingin memberi sensasi perih diarea pergelangan kaki. Kian yang baru saja bangkit dari tidurnya langsung mengajak diri 'tuk menjelajah setempat.
Dimana ini?
Tempat asing layaknya penjara.
Apa yang terjadi?
Terperangkap dalam jeruji seperti seorang tahanan.
Bagaimana ini bisa menimpa dirinya?
Entahlah~
Terakhir yang Kian ingat cuma satu—
Dan mungkin itu bisa jadi sebuah jawaban.
Dayang. |
"Berani sekali kau menjebak ratu mu, bahkan menculiknya. Tidak 'kah kau takut akan kematian?" Ucap Kian pada seseorang disudut ruangan.
...***...
"Kau bercanda dengan ku Sebas?"
Beberapa pelayan yang duduk ditingkatan lebih rendah hanya mampu bersembunyi dibalik punggung kepala pelayan utama mereka; Sebastian.
Sebastian menggeleng, apa yang dia ucapkan barusan benar adanya. Sesuai dengan analisis yang sudah ia lakukan secara singkat, ratu menghilang tanpa jejak.
Seakan-akan dirinya benar-benar lenyap dari dunia.
Tap!
Tap!
Tap!
Derap langkah besar muncul, kesatria keamanan bergerak panik menuju Sebastian. Sepertinya setelah melakukan pemeriksaan di kamar sang ratu selama beberapa jam akhirnya mereka menemukan sesuatu. Sebastian mendengarkannya dengan baik sampai pada sebuah kalimat yang berhasil menggelitik daun telinga miliknya.
Sial.
Jika Elliot mendengar ini, sosok yang digadang-gadang sebagai makhluk paling mengerikan dan dipuja oleh seluruh makhluk dunia bawah akan kembali murka.
Melihat raut muka Sebastian yang berubah pucat, Elliot yakin ada sesuatu yang terjadi. Dia tengah mencoba untuk bersabar tapi tak bisa, baru selesai menumpas para pemberontak di daerah Timur Laut siapa yang tidak kesal saat mendengar kabar soal ratunya yang menghilang entah kemana.
Bahkan para pelayan dan dayang ratu tidak ada yang mengetahui keberadaan Kian; seorangpun.
Tidak seperti biasanya.
Situasi janggal ini mencekik leher Elliot.
Tiba-tiba saja raja dari seluruh daratan di dunia bawah itu kembali kebentuk aslinya. Seorang monster berbadan besar juga bertanduk mengerikan.
Hal ini mengundang semakin banyak ketakutan, bahkan Sebastian dibuat terkejut saat kesatria yang memberikan ia informasi terkait Kian ditarik paksa oleh sang raja dengan tangan besarnya.
"Jelaskan langsung pada ku. Disini aku rajamu." desisnya marah.
Kesatria yang terjebak diantara jemari mengerikan itu merasakan perasaan tertekan. Tubuhnya dicengkeram kuat, jika sang raja menambah sedikit kekuatan mungkin saja tubuh dari kesatrian itu akan remuk seketika. Dengan gugup, kesatrian itu mulai membuka celah bibirnya.
Terdengar suara dari arah mulut tersebut—
"Mohon ampuni hamba baginda, saat kami melakukan pemeriksaan memang tidak terlihat hal aneh tapi—"
Genggaman semakin kuat, kesatria itu tertahan. Dia ketakutan melanjutkan kalimat miliknya.
__ADS_1
"Kami baru saja menemukan indikasi penculikan."
DEG?
Langit diluar sana benar-benar gelap, seperti gambaran hati sang raja saat ini. Kian memang menghilang, tapi dia tidak kabur seperti biasanya.
"Makhluk dungu mana yang berani menculik ratu ku?"
Elliot terkekeh marah. Dia melepaskan tubuh kesatria itu dengan kasar, kilat matanya terlihat. Sebastian menunduk takut. Sudah lama sekali tidak melihat wajah penuh amarah menggebu-gebu dari sang raja. Kali ini bukan seperti biasanya saat tahu ratu kabur, tapi lebih kearah—siapkan pemakaman bagi orang bodoh yang berani menculik sang ratu jika ratu mengalami sedikit saja luka di fisiknya. Camkan itu.
"Cari ratu kalian, temukan dia atau kalian semua akan mati."
Deg!
"Yes my Lord!"
...***...
"Hm~ hmmm~ hmmm~"
Kian menatap miris pergelangan kaki yang mulai membengkak sambil menyenandungkan irama lagu secara acak melalui mulutnya.
Dayang yang merupakan pelaku penculikan menatap dalam dari kejauhan. Setelah sang ratu mengucapkan kalimat berisi tuduhan soal dirinya yang melakukan penculikan ratu bertindak begitu tenang.
Tidak meronta ataupun minta untuk dilepaskan.
Seakan-akan dia tahu harus bertindak seperti apa.
Ya memang ratu adalah manusia biasa, dia memiliki gelar tapi itu tidak mengubah fakta kalau sosok ratu tidak lebih dari seekor serangga di mata mereka. Hanya saja perilakunya tidak normal.
"Kenapa? Kenapa kau bisa begitu tenang disituasi seperti ini?"
Akhirnya, Kian melirik. Dia terkekeh sebentar sebelum menganggapi dayang tersebut.
"Coba kau pikirkan? Bagaimana ku bisa jadi sangat tenang bahkan saat tahu nyawa ku terancam?"
Jawabannya sederhana. Karena Kian sudah terbiasa.
Penculikan, diseret paksa lalu diambil perlahan-lahan kewarasannya hingga mampu untuk beradaptasi dengan sekitar. Hal busuk yang selalu Elliot jejalkan pada dirinya setiap hari, di masa lalu hingga Kian berpikir sekarang ini itu semua menjadi hal yang wajar.
Bukan mimpi buruk yang buruk, okay? |
Kalian mengerti maksudnya bukan.
"Orang akan terbiasa melihat darah jika dia sudah terbiasa membunuh, benar begitu duke?"
Degh?!
"Tidak, tidak, jangan takut. Tidak ada duke disini tapi aku tahu—dia dalang dari ini semua, benarkan Fioleta?"
"Bagaimana? Bagaimana kau bisa mengetahui siapa aku?!"
Kian terkekeh, dia menatap tajam dengan wajah yang sulit diartikan.
"Duke Scuàt, bangsawan asal utara yang tinggal di pegunungan es—salah satu bangsawan yang tidak senang seorang manusia menjadi ratu mereka dan mungkin saja, jadi bagian dari pemberontak."
...***...
...TBC...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...terima kasih...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1