
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._________________________________...
...A m u k a n...
...________________________________...
..._____________________...
...____________...
..._______...
...___...
..._...
"Davian?" tanpa sadar Reva menyerukan nama lelaki itu tatkala melihatnya berada di sela lubang hitam.
Tubuhnya bergerak sendiri menuju tempat Davian berada. Kakek Davian yang memperhatikan sedari tadi mencoba memanggil Reva.
"NAK! JANGAN MENDEKAT!"
Seakan tuli, kakek Davian berdecak kesal. Pendengaran Reva sudah diblokir oleh cucunya sendiri tanpa sadar; Reva tidak bisa mendengar apapun selain panggilan batin Davian.
__ADS_1
Kemampuan cucunya emang luar biasa, dia bahkan seperti mampu menghipnotis Reva. Gadis bermanik kelam itu melangkah kian mendekat, Davian mencoba keluar dari celah lubang hitam. Tampilannya benar-benar berantakan—lingkaran hitam dibawah matanya terlihat suram serta rambut acak-acakan.
Reva mencoba bertanya 'ada apa?' pada Davian namun begitu sampai didekat lelaki itu, Reva malah mendapatkan wajah beringas. Tangan Davian terangkat, dengan cepat merangkul tubuh Reva erat.
Rangkulan yang teramat posesif. |
Manik hazel Davian berubah perlahan menjadi warna keemasan. Kakek Davian tersentak, penjagaannya menurun—kelengahan itu menjadi keuntungan bagi Davian. Lelaki itu membawa Reva menuju lubang hitam.
"DAVIAN?!" kaget Reva sebelum kegelapan pekat menyelubungi mereka seperti tabung lalu menghilang dari ruang dimensi itu.
"Hah~"
Ada-ada saja.
Kakek Davian membuang napas panjang, ruang dimensi miliknya kembali menjadi tenang tanpa gejolak.
Kakek?
Panggilan Eni secara telepati terdengar, kakek Davian berbalik sambil menjawab panggilan cucunya itu.
Izinkan saya masuk keruang dimensi kakek~
Mendengar itu kakek Davian langsung menjentikkan jari, gerbang besar hadir dilangit-langit. Eni muncul dari sana begitu gerbangnya terbuka.
"Ergh... Jejak kekuatan Davian masih tertinggal disini ternyata..." gumam Eni sambil mendekati kakeknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Eni?" tanya sang kakek sambil melirik tajam sosok Eni. Wanita yang dipandang menelan saliva kasar, mencoba membuang pandangan kearah lain karena tidak ingin berhadapan langsung dengan aura intimidasi dominan milik kakeknya.
Meski sayang, gagal~
"Hahaha," tawa hambar Eni terdengar. Keringat dingin mengalir begitu saja dari tengkuknya.
__ADS_1
Kakek Davian hanya menatap datar, tak berminat membalas candaan Eni. Eni hanya mampu membuang napas pasrah, tangannya menggaruk tengkuk yang tiba-tiba terasa gatal.
"Davian hanya mencoba melakukan ritual pemisahan..." gumam Eni.
Sejenak kakek Davian mencerna, otaknya berpikir sambil mengingat semua catatan kuno tentang proses pemisahan atau singkatnya perceraian didalam keluarganya tiap generasi.
"Tumbal apa yang diberikan Davian untuk memulai ritual?" tanya kakek Davian begitu mengingat barisan untaian kata dalam buku kuno. Sebenarnya ada beberapa kali khasus ikatan istimewa seperti Reva dan Davian hanya saja orang-orang itu menghilang begitu saja tanpa jejak dan hanya meninggalkan beberapa kata soal penumbalan.
Jika ingin lepas dari pasangan takdir yang tidak kalian inginkan, maka carilah tumbal untuk menggantinya |
Itu saja.
"Darah, Davian menggunakan darahnya sebagai tumbal..." jawab Eni atas pertanyaan kakeknya.
Kakek Davian menampilkan ekspresi tidak percaya, dia memilih diam dengan atmosfer meminta Eni menceritakan lebih lanjut dengan jelas. Eni yang tahu maksud kakeknya itu tidak bisa mengelak.
"Begitu Davian memulai dengan darahnya, ritual berjalan baik sampai dia tiba-tiba mengalami batuk hebat. Tubuhnya berubah pucat, dia berteriak soal rasa sakit di jantungnya lalu pingsan sebentar," ucap Eni memberi jeda sejenak sebelum menyambung kata-katanya.
"—saat sadar, mimik wajahnya berantakan. Kekuatan dalam tubuh Davian meluap kemana-mana, antara kegelapan dan cahaya lalu dia mulai menggila dengan menyebutkan 'harus bertemu Reva' atau apapun itu hingga akhirnya jadi seperti ini... selesai." Singkat cerita dari Eni.
Kakek Davian benar-benar tidak habis pikir, dia tidak tahu harus berkomentar apa soal cucunya itu.
Semoga saja tidak ada hal yang lebih buruk lagi setelah ini menimpa mereka; Reva dan Davian.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote & comments......
...Terima kasih,...
__ADS_1
...Bye...
...:3...