
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...A h l i - W a r i s...
...____________________...
...___________...
..._____...
..._...
Gedion tidak mengerti, sebenarnya cinta seperti apa yang adik-adiknya miliki. Kenapa mereka terlihat kehilangan ke-warasan didepan cinta? Bahkan rela menjadi gila demi wanita pujaan.
Sungguh, dia benar-benar tak mengerti sama sekali. Apa yang membedakan cinta miliknya dengan cinta mereka?
Padahal ketika pertama kali Gedion menatap punggung seorang wanita, dia—sekilas tampak rapuh dan juga cantik dalam satu waktu. Gedion menyadarinya, dalam jeda waktu yang sebentar itu ia bahkan dapat menyimpulkan kalau sosok wanita didepan sana adalah pasangan takdirnya.
Kakek pernah berkata, jika kau menemukan takdir cinta mu dan kau tidak ragu akan dirinya—maka cobalah untuk mengapai hingga genggaman tangan mu dapat meraihnya.
Mungkin ini sedikit terdengar aneh untuk beberapa orang, tapi ketika itu Gedion dengan berani mendatangi sosok wanita buta yang duduk tepat didepan sana dengan setangkai bunga; lalu apa kalian tahu yang akan Gedion lakukan setelah itu?
"Menikah 'lah dengan ku!"
Dia langsung melamar wanita asing dengan manik seputih awan tersebut. Suara tongkat besi jatuh; tak sengaja menyenggolnya hinggal menimbulkan bunyi.
Bugh...
Manik Diana bergetar—meski dia menatap kesisi yang salah. Perasaan gugup memenuhi relung jiwa, hal mengejutkan apa yang baru saja kedua telinganya dengar? Tidak salah bukan?
Diana sedari tadi hanya duduk disudut cafe menunggu temannya untuk menjemput agar bisa pulang seperti biasa, tidak ada hal yang aneh dari keseharian miliknya sebelum lonceng pintu terdengar bersama derap langkah cepat. Lalu tiba-tiba pria asing muncul dengan guyonan anehnya soal pernikahan atau apalah itu yang sengaja dia lontarkan pada Diana.
Laki-laki gila? Atau dia hanya ingin mempermainkan seorang wanita tunanetra?
"Tidak! Aku sungguh-sungguh ingin menikahi mu!" Seperti bisa membaca isi pikiran Diana, lelaki itu menyangkalnya. Nada suara terdengar serius. Ada kesungguhan aneh dalam kalimat itu.
Tapi tunggu, kenapa dia seperti tahu bagian dalam dari isi pikiran wanita tersebut?
"Ya... karena aku pasangan takdir mu?"
Deg!
...***...
Tak pernah sekalipun Diana memimpikan kalau dirinya bisa menikah, bahkan dia tak berani berpikir kalau ada laki-laki yang mau menerima wanita cacat sepertinya. Tidak sama sekali.
Orang yang disebut sebagai keluarga saja ingin membuang benda rusak tersebut ke-tong sampah tapi ternyata ada lelaki gila yang mau memungutnya.
Haha.
Diana patut bersyukur, dibawah balutan gaun pernikahan. Dia berjalan bersama sang ayah yang tampak kelewatan senang, melepas sang anak demi setumpuk uang dalam perjanjian. Seperti menjual sesuatu saja, tapi itu cerita yang layak untuk Diana. Ada yang mau membelinya.
Kalau tidak salah, lelaki itu pernah menyebutkan namanya.
Gedion.
"Mempelai diperolehkan mencium pasangannya..."
__ADS_1
Tudung putih itu terangkat, begitu pelan hingga membuat Diana terdiam. Dia tahu, sekuat apapun matanya terbuka manik seputih awan tersebut—tak akan pernah mampu melihat sesuatu.
Cup~
Kecupan ringan diatas kening cukup mengejutkan Diana, wajahnya memerah. Baru kali ini rasanya—merasakan perasaan yang begitu; hangat.
"Semoga kita bisa hidup rukun." bisikan kecil menggelitik daun telinga. Tubuh Diana meremang, hatinya benar-benar gugup—tapi apa kalian tahu? Hal mengejutkan apa yang terjadi setelah itu?
Manik seputih awan membola sempurna, sebelum warna hazel merambat keluar dan mendominasi sekitar. Diana mematung; matanya berkaca-kaca—
Apa yang terjadi?
Tes!
Setetes kristal cair jatuh dari arah pelupuk mata.
"App-apa?"
Yang terjadi.
Itu yang ingin dia tanyakan.
.
.
.
.
.
Gedion memberikan 1 hal yang berharga untuk Diana. Sebuah penglihatan dan juga keberanian; untuk kembali bermimpi.
Bergabung menjadi bagian dari keluarga hazel, benar-benar sebuah anugrah yang Tuhan berikan pada Diana. Tak pernah sekalipun wanita tersebut lupa mengucapkan syukur, meski pada akhirnya Diana tahu alasan sebenarnya dari Gedion—yang mau menikahinya.
Keluarga unik dengan segudang misteri berbau fantasi.
Haha. |
Diana tak masalah terlibat cukup dalam dengan Gedion, setidaknya itu dulu—sebelum hati kecil miliknya berucap.
"Perlahan aku mencintai mu,"
Tapi ku tahu tidak ada sedikitpun ruang untuk cinta dihati mu.
Benarkan?
Gedion.
...***...
Gedion adalah lelaki yang bebas, dia memang sudah menikah dan memiliki seorang istri yang tinggal seorang diri di kediaman mewah bersama beberapa pelayan.
Dalam kesunyian menanti, setidaknya berharap mampu meredam degup jantung tak wajar ini namun tak bisa.
Semakin dirasa semakin dalam sebuah perasaan, namun mencintai seorang diri sungguhlah melelahkan. Dalam penantian panjang satu hal telah diputuskan.
Makan malam yang hanya diisi oleh dentingan sendok membentur permukaan piring. Diana mendongak, warna hazelnya begitu kental.
Sudah lama sekali rasanya tidak melihat sosok Gedion yang duduk diseberang meja. Pelan menyapu sudut bibir dengan sebuah sapu tangan, Diana membuka sebuah topik pembicaraan.
Setidaknya ini akan jadi malam tanpa kehampaan.
"Aku ingin bercerai."
__ADS_1
Tingk!
Benturan sendok terdengar, kali ini cukup keras. Gedion mendongak, matanya membola. Apa yang baru saja wanita itu ucapkan?
Setelah sekian lama tidak pernah bertemu, Gedion akhirnya ingat kalau dia memiliki rumah—lalu memilih untuk pulang. Bersama melakukan makan malam.
Tak pernah terbayang mulut sang istri mengucapkan kata—
MARI BERCERAI.
Langsung dihadapan muka.
"Hah?"
Kau bercandakan Diana?
Mungkin itu yang ingin Gedion utarakan. Tapi tak bisa. Senyum simpul terbit, Diana menunduk kecil sambil menggeleng.
Apa yang dia ucapkan benar adanya.
Terlihat keseriusan dari raut muka tersebut.
Bibir Gedion terbuka, urat-urat leher tampak hadir begitu jelas. Perasaan janggal memuncak, dengan ekspresi yang sulit diartikan—Gedion berkata.
"Aku anggap tidak pernah mendengar kalimat itu." Tekannya pada kata cerai lalu bangkit dari duduknya.
Dengan wajah datar, Gedion melangkah—meninggalkan Diana. Kembali seorang diri bersama sunyinya keadaan
"Hah~"
Hela napas berat terdengar. Diana bersandar lalu memejamkan mata. Bibirnya kembali terbuka.
"Ini memang bukan pertukaran yang setara, tapi saat bulan tanpa cahaya mampu memantulkan bayangan. Hal itu akan kembali ke-asalnya. Ku mohon, meski izin sang Kehendak sulit untuk didapatkan hanya ada 1 hal yang ku inginkan."
Yaitu perceraian.
Rona hazel perlahan menghilang. Manik itu kembali sewarna awan, Diana bernapas lega.
Ini adalah penumbalanan yang dia lakukan secara sepihak.
"Sepertinya berhasil." gumam wanita itu senang. Ya setidaknya sebelum gema nyaring dari sudut lain ruangan menyerukan namanya.
"DIANA!!! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Langkah kaki terdengar mendekat.
"Berani sekali kau memutuskan ikatan dengan ku. Diana." ucapnya dengan wajah nyalang.
"Mari kita dengar, alasan apa yang kau punya!"
Deg~
Ini benar-benar—menakutkan.
...***...
...Ahli Waris - Short Story...
...Selesai (End)...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...