Crazy Baby

Crazy Baby
Pemakaman


__ADS_3

Davian membeku dengan pandangan kosong, semua kekuatannya lenyap. Tubuh yang sudah kehilangan nyawanya itu jatuh tepat dihadapan Davian.


Adam yang baru saja sampai terkejut, situasi yang lebih mengerikan yang di ucapkan oleh kakek mereka sudah terjadi. Selain menangis dan melihat kehancuran dari adik bungsunya, klon Adam tak bisa berbuat banyak. Reva bukanlah bagian dari mereka; untuk menangkap jiwanya—sama seperti Adam yang membuat Eni hidup tanpa tubuh, itu sangat mustahil. Klon Adam berjalan, melalui Davian yang benar-benar membatu ditempat; lelaki berstatus kakak ke dua bagi Davian itu mengubah wujud menjadi slime lalu membawa Reva kedalam cairan tubuh mahkluk itu untuk disimpan.


Selang beberapa detik keberadaan kepala keluarga utama hadir, Adam tidak bisa menebak bagaimana perasaan kakek mereka atas semua kekacauan yang dilakukan si bungsu keluarga. Ini lebih parah dari kelakuan Adam dulu tapi mungkin adiknya akan di beri keringanan karena kontribusinya yang lumayan banyak ketimbang milik Adam.


Pertama yang Adam lihat adalah sang kakek mendekati Davian, tidak untuk menenangkan tapi lelaki tua itu merapalkan satu mantra yang bertujuan menyegel semua dari Davian termasuk jiwanya. Davian pingsan usai sang kakek memasangkan segel pada tubuhnya lalu lelaki tua itu mendatangi tubuh Josan yang tak sadarkan diri di atas lantai dengan wujud mengenaskan.


"Ku tarik semua ingatan dan apa yang kau lihat selama ini, termasuk keberadaan Reva dalam kehidupan mu." ucap kakek Davian sambil menarik sesuatu dari tubuh Josan. Kotak memori. Lelaki muda itu akan dimanipulasi ingatannya, sebuah hukuman yang pantas tapi tak seberapa mengingat dia lah akar mula semua permasalahan. Setidaknya kakek mereka ingin menjauhkan manusia biasa dari kehidupan gila keluarga hazel ini.


"Kevin?" seru kakek Davian. Lelaki yang merupakan ayah dari Davian tiba-tiba muncul.


"Bawa tubuh manusia ini kembali ke-keluarganya." Kevin yang mendengar itu mengangguk paham, tanpa berkata apa-apa lagi dia memindahkan tubuh Josan—menjauh dari sana.


Adam lalu memperhatikan lelaki berstatus kepala keluarga utama itu menoleh; tepat kearahnya. Awal mula sang kakek hanya diam, melangkahkan kaki mendekati slime milik Adam yang memiliki kesadaran.


"Adam..." panggil sang kakek padanya.


"Siapkan pemakaman, tiga hari lagi..." titahnya mutlak pada Adam.


Dan semua itu berakhir begitu saja.


..._________________________...


...P e m a k a m a n...


..._________________________...


..._____________...


...____...


..._...


Gemuruh guntur dan kilat bersama ribuan air menghunjami tanah. Semua orang mengenakan pakaian hitam dengan bunga di tangannya, tepat ditengah mereka—dalam satu ruangan besar seperti aula terdapat sebuah peti terbuka. Beberapa orang sudah meletakkan bunga didalam peti tersebut, bergantian dengan mereka yang belum.

__ADS_1


Davian memandang dari kejauhan dengan mata hitam miliknya, sosok didalam peti tersebut adalah seonggok mayat tanpa nyawa yang sangat dia kenal. Reva. Saat giliran Davian maju, kaki lelaki itu seperti tertancap diatas permukaan lantai. Beberapa detik tindakan Davian mengundang pandangan dari anggota keluarga cabang yang berhadiri pemakaman, lama berdiam—akhirnya Davian mampu menggerakkan kaki; menuju arah peti yang menampung tubuh pucat milik Reva.


Bunga yang berada dalam genggaman Davian adalah krisan putih, ragu lelaki itu meletakan bunga krisan diatas dada gadis yang merupakan pasangan takdirnya.


Davian menarik kembali tangannya usai memberikan setangkai bunga, pandangan lelaki itu menjelajah. Banyak bunga yang menutupi tubuh Reva; gadis yang mengenakan gaun putih dengan kulit pucat itu terlihat cantik. Tanpa sadar setitik air mata luruh dari arah pelupuk mata Davian. Wajahnya memang datar tapi sorot mata gelap itu benar-benar memancarkan kesedihan luar biasa.


Kedua tangan Davian mengepal, lelaki itu menunduk—air matanya jatuh keatas lantai.


"Maaf," gumamnya pelan serupa bisikan.


Aku mencintai mu Reva~


.


.


.


.


.


Pembahasan perihal hukuman yang pantas untuk Davian sedang dirundingkan. Lelaki yang menjadi tokoh utama disana benar-benar acuh, bahkan jika dirinya dikirim ke Hell sekalipun Davian tak akan menolak.


"Tingkat kekacauan yang di lakukan Davian berada di tingkat S, bahkan jika seandainya Reva tidak kehilangan nyawa-nya mungkin akan lebih parah lagi." ucap salah seorang kepada kakek Davian. Kevin yang mendengar mengentakkan meja, lelaki yang merupakan ayah dari Davian itu berucap—


"Jangan membuat seolah-olah Reva seperti alat Jonatan!" desisnya mencoba menghargai kematian Reva. Jonatan mengangkat bahu acuh, dia tidak tertarik pada pendapat orang lain yang statusnya lebih rendah.


"Haruskah mengirim Davian ke Hell?" ucap orang lainnya. Kali ini Sarah yang merupakan ibu kandung Davian menoleh kearah orang tersebut, wajahnya memang datar tapi aura yang dibawakan olehnya lumayan kuat. Tidak seperti Kevin yang gampang tersulut emosi wanita ini lebih sulit ditebak jalan pikirannya.


"Dia akan terbunuh begitu saja." ucap Sarah lugas. Beberapa orang yang mendengar ingin menyanggah wanita itu, mana mungkin si jenius Davian akan langsung terbunuh. Anak itu lebih kuat dan berbakat; terdengar mustahil tapi perkataan selanjutnya dari Sarah membuat mereka menelan kembali kalimat yang mereka ingin ucapkan.


"Jika kalian melihat, Davian tidak lagi memiliki manik hazel. Mata miliknya adalah sebuah kehancuran,"


Mereka semua memperhatikan Davian kompak. Benar yang di ucapkan Sarah, saat ini bocah nakal itu bahkan mungkin bisa jadi yang paling lemah diantara mereka. Jika mereka mengirim Davian ke Hell itu sama saja memintanya untuk bunuh diri.

__ADS_1


"Ditambah sepertinya Davian menjadi trauma terhadap kekuatannya sendiri. Dia menyaksikan langsung kalau kekuatan itu bergerak di luar kendali dan membunuh pasangannya. Sangat kecil kemungkinan 'jika Davian bisa menggunakan kekuatan itu' seperti biasa." ucap Sarah, benar-benar membungkam habis mulut orang-orang disana. Beberapa menit keheningan terjadi sampai Jonatan buka suara—


"Lalu hukuman apa yang pantas untuk diberikan pada Davian?"


Kevin menoleh kearah ayahnya, lelaki yang sedari tadi berdiam mendengarkan perdebatan didepan sana. Menunggu sebuah putusan dari lelaki tua berstatus tinggi tersebut.


"Davian..." panggilnya. Semua orang mengalihkan pandangan, kakek Davian baru saja buka suara. Lelaki yang di panggil berdiri dari duduknya mendatangi meja bundar didepan sana.


"Kau—di keluarkan dari kediaman utama."


DEG!


Pengusiran. Mereka semua membisu mendengar ucapan tersebut, bisa dibilang saat ini Davian akan diasingkan. Dia tidak dibolehkan menjajakan kaki ke-kediaman utama atau mendapat bantuan dari keluarga cabang. Davian harus melupakan ikatan keluarga mereka dan menjadi orang asing sepenuhnya, jauh dari keluarga Hazel.


"Jalani hidup sebagai manusia biasa diluar sana, tanpa kekuatan atau sejenisnya. Dan jangan pernah—kembali kesini."


"Baik... kakek."


Dan itulah keputusan terakhir dari nasib Davian untuk kedepannya.


...***...


...Tbc......


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti....


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2