
...Cerita bersifat fiksi atau karangan, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...T a n p a - A k h i r...
..._________________________...
...______________...
...______...
..._...
"Apa yang coba kau ributkan Kevin?"
DEG!!!!
Kevin menunduk, diam seriu bahasa seraya menelan bulat-bulat fakta tersebut kedalam otaknya.
"Tidak ada Ayah..." gumamnya dengan nada yang merosot jatuh.
Tekanan luar biasa yang diberikan kakek Davian benar-benar membuat nyali Kevin menciut. Dia juga tak menyangka akan kehilangan kendali atas dirinya di hadapan sang ayah dan berujar sesuatu yang bersifat meragukan keputusan kepala keluarga; ini adalah bentuk dari penghinaan luar biasa pada sosok yang paling dihormati dalam keluarga mereka—kepala keluarga utama. Bahkan Kevin masih bisa merasakan dengan jelas sorot mata penuh amarah dari sang ayah. Manik lelaki tua itu berkilat persis seperti milik Davian, rona hazelnya berubah perlahan menjadi keemasan.
Glek!
Kevin menelan kasar air ludah dalam kerongkongannya, manik yang hanya diturunkan ketika seseorang diberkati bakat istimewa. Sebuah tanda kelayakan dan kepastian kalau yang memiliki manik tersebut mempunyai tanggung jawab besar dan akan jadi seorang kelapa kelurga utama selanjutnya.
Serta manik yang tak mungkin Kevin miliki meski menangis darah sekalipun.
Kevin dulu berusaha tapi sosoknya tak cukup layak untuk jadi penerus tak heran ayahnya berlaku kejam karena ingin dia membangkitkan mata tersebut meski hasilnya nihil. Ha-ha |
Ironis, menjadi aib keluarga.
"Buang saja ocehan tak berguna mu itu nak dan buka kan aku koordinat Davian, sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi." ucap kakek Davian lugas. Hal itu menjadi tamparan keras, Kevin merasa kalau ada sesuatu tengah mencambuk kuat bagian belakang punggungnya.
Sial, dia malu pada dirinya sendiri.
Lelaki itu mengapalkan tangan; Kevin tak tahu harus berucap apa lagi. Dengan berat hati Kevin berkata.
"Baik Aya—!"
"KAKEK!"
Lengkingan Adam mengejutkan kedua orang yang berada dalam satu ruangan tersebut. Mereka spontan menunduk bersamaan dengan mata yang mendapati benda cair seperti slime dengan wujud lucu, besarnya tak lebih sekepal genggaman tangan orang dewasa; terdapat mata kecil serta mulut pada cairan itu.
Alat komunikasi unik yang di ciptakan putra kedua dari Kevin; alih-alih menggunakan telepati anaknya itu lebih terobsesi membuat sesuatu yang aneh dengan kekuatan miliknya. Mungkin karena Adam tengah mencoba sesuatu seperti menciptakan sebuah kehidupan? Atau wadah yang mampu menampung kehidupan? Sejenis itu.
"Apa yang terjadi pada Davian Kek?! Seluruh segel yang dia buat terbuka menimbulkan efek boom mengerikan pada beberapa titik lalu membuat dampak domino berkelanjutan! Ini melelahkan?!" keluh Adam kewalahan melalui mulut slime, tubuh aslinya sedang berada sangat jauh bersama keluarga cabang untuk menghentikan fenomena ini dengan membuat segel pembaharuan yang baru.
"Gejolak kekuatan Davian yang terlalu kuat menjadi pemikat, intensitas dari aura negatif dan makhluk bawah jadi meningkat, mereka mulai mencemari keadaan serta mengambil wujud manusia untuk menciptakan ketidak selarsan?!"
__ADS_1
Dari suara Adam, putra kedua Kevin itu benar-benar terdengar kepanikan karena tempat dia berada cukup gawat. Aura-aura negatif menjadi tidak terkendali bahkan mulai memonopoli pikiran manusia. Banyak laporan dari keluarga cabang dengan situasi yang sama, mereka mulai kelelahan memurnikan dan meniadakan mahkluk-mahkluk itu di beberapa wilayah termasuk kakak sulung mereka; Gedion.
"Adam?"
"Ya kakek?!"
"Apa kah kau bisa menghadirkan klon untuk menangani adik bungsu mu?" tanya kakek Davian.
Klon? Untuk menghadapi Davian? Bahkan kejadian tempo lalu saja perlu 2 orang untuk melawannya sebelum disegel.
"Entahlah Kek, Saya tak yakin tapi akan saya coba..."
"Bagus kau hanya perlu menahannya selama 5 detik sebelum aku sampai disana, saat ini Davian sedang dalam emosi tak stabil—semakin tamak dan termakan nafsu semakin besar kehancuran yang akan terjadi oleh kekuatan yang dia miliki."
Karena Davian spesial.
"Baiklah Kakek!"
"Bagus. Kevin tunggu apa lagi? Buka koordinatnya sekarang..."
"Tentu Ayah..."
...***...
Terputusnya telepati yang di lakukan Davian dengan sang ayah membuat Davian kembali melanjutkan rencana miliknya yang tertunda meski hanya sejenak.
Tapi siapa sangka kelengahan yang di lakukan Davian malah membuatnya kehilangan sosok Josan. Kemana perginya manusia yang sekarat itu, bagaimana bisa dia lolos dari pusaran kekuatan Davian?!
"TCH!"
Seharusnya Josan masih terkapar lemas sambil berusaha mengambil napas demi mempertahankan kehidupannya tapi—
Tak mungkin seorang manusia biasa bisa lepas dari belenggu ketidak warasan ini.
"Mencariku?"
Deg!
Davian menoleh cepat tapi bayangan siluet hitam yang tengah melompat memenuhi pandangan matanya.
Bugh!
Bogem mentah mendarat di pipi Davian dengan tubuh yang terhuyung kebelakang, ada sesuatu yang tak beres.
Seperti seseorang tengah mencampuri pertarungan keduanya. Jika tidak, tak mungkin semua ini bisa terjadi begitu saja.
"Cuh!" Davian meludah, salivanya bercampur darah akibat Josan.
Mereka kembali beradu pandang. Davian mencoba menganalisa kejanggalan meski ia tidak menemukan titik terang dari ini semua selain opsi kalau Josan memiliki keberuntungan atau memang diberkati.
Bisa juga campur tangan dari sang Gabriel, meski kecil kemungkinan itu semua.
"Shhh!"
Ringis Davian, sepertinya ada luka sobek dibagian dalam mulutnya karena bogeman yang dilakukan Josan. Davian lalu mendesis di detik selanjutnya ketika Josan melayangkan pukulan baru dengan tangannya walaupun demikian Davian dengan mudah menepisnya.
Seharusnya mudah membunuh satu manusia saja.
__ADS_1
Davian menyebarkan kekuatannya lagi keseluruh area, membuat benda itu menjadi kabut tanpa efek serang. Josan mundur seribu langkah, matanya menatap liar sekitar—penglihatannya ditutup, Davian berkamuflase.
Cih! Curang! rutuk lelaki itu.
Tiba-tiba tekanan berubah berat, rasanya kepala Josan berputar lalu—
DEG!
"APA YANG TERJADI?!" panik Josan ketika posisinya terbalik, atau posisi Davian yang terbalik.
Ilusi kah?!
Atau?
Tak!
Jantikkan jari terdengar. Pandangan sudah kembali jernih, tentakel-tentakel itu bermunculan dan mulai menyerang tubuh Josan, karena posisi terbaik entah kenapa rasanya Josan seperti mengalami sensasi efek jatuh dalam tubuhnya; tepatnya seluruh organ dalam Josan yang seperti berjatuhan?
"HUOEK!"
Josan muntah, memuntahkan organ dalam tubuhnya kelantai. Siksaan apa lagi ini?! Meski hanya ilusi tetap saja—belum sempat berpikir tubuhnya diempaskan ketembok. Suara keras terdengar, ini benar-benar mengerikan.
BUGHH!!
Davian seperti ingin meremukan tiap-tiap tulang dalam tubuh Josan, menggilasnya hingga tak berbentuk lalu meneteng kakinya tinggi-tinggi.
Lelaki itu melirik kecil kearah sosok Josan yang akhirnya kehilangan kesadaran—memberi arahan singkat berupa rapalan mantra yang tak terdengar jelas, benda-benda hitam disekitar mulai bergerak sesuai arahan membentuk sesuatu.
Kali ini menyerupai sebuah benda tajam dengan ukuran besar seperti tombak, arah mata tombaknya tepat menuju tubuh tak sadarkan diri Josan.
Davian menyeringai.
"Akhirnya," gumam lelaki itu tanpa sadar sambil mengarahkan mata tombak kearea tengah tubuh bajingan didepan mata. Dalam hitungan detik, Josan mungkin saja mati.
Ah~
Momen yang sangat mendebarkan, Davian bergerak—siap melesatkan mata tombak.
"MATI KAU MANUSIA REND—!"
"Davian?"
Namun sayang tubuhnya berubah kaku seketika. Davian menoleh dengan wajah horor, bibirnya bergetar—
"R... Rev...?"
Menyerukan satu nama yaitu REVA.
...***...
...Tbc......
...Terima kasih sudah mampir,...
...jangan lupa like, vote, & comments......
...Ketemu lagi nanti......
__ADS_1
...Bye...
...:3...