Crazy Baby

Crazy Baby
Bukan Pilihan


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...B u k a n - P i l i h a n...


..._______________________...


...____________...


..._____...


..._...


Simbol pengekang? Apa itu? Terdengar menyeramkan, batin Eva penasaran. Sepertinya memang lebih baik tinggal di apartemen sendirian dari pada ikut dengan Davian. Baiklah Eva putuskan kalau dia lebih memilih untuk menolak ajakan bersyarat yang Davian ajukan.


Belum membuka suara niat Eva malah tertahan karena lelaki berkacamata itu mengucapkan rentetan kata tak masuk akal. Apa yang Davian bicarakan?


"Ya kalau kau memilih untuk tinggal juga tidak apa-apa, tapi aku perlu memperkuat simbol didalam ruangan ini..."


"Kau ingin memenjarakan ku Davian?" tanya Eva tanpa sadar menyuarakan isi pikirannya. Ini jelas-jelas sebuah sangkar emas tanpa pintu, apa maksud dari niat Davian itu?


"Aku tidak ingin kejadian tempo lalu terulang," Eva cukup cepat mendapat jawaban dari lelaki itu. Kejadian tempo lalu, apa mungkin yang Davian maksud adalah kaburnya Eva dari apartemen? Wanita itu juga ada alasan hingga dia bertindak demikian bahkan Eva cukup bersyukur karena Davian tidak mengorek informasi lagi perihal dirinya tapi?


"Bahkan aku tidak punya cukup kekuatan jika aku memilih kabur dari sini lagi Davian..." ucap Eva, menjelaskan situasi bahwasanya simbol yang Davian tebar sekarang ini termasuk cukup kuat dan sulit untuk dibatalkan. Davian melirik sebentar; sebuah mata acuh hadir dari lelaki itu. Rasanya agak dingin ketika Eva menatap manik hitam milik Davian. Wanita itu menelan saliva kasar, ini jelas tidak ada bedanya bahkan jika Eva memilih untuk ikut.


Seandainya ikut Eva perlu memasang simbol pengekang yang dari namanya saja sudah terdengar seperti rantai penjerat. Sedangkan jika dia memilih tinggal dia harus terkurung dalam penjara emas? Seingat Eva, wanita itu bukan hewan. Motif apa yang mendasari Davian untuk melakukan tindakan ini?


Lelaki itu jelas-jelas seperti ingin mengikat Eva ditempat. Apa ini hukuman karena menipu Davian selama ini?


"Jadi bagaimana?" tanya Davian berhasil menarik kembali fokus Eva kepada lelaki itu.

__ADS_1


Tanpa sadar Eva mengepalkan tangan, dingin—tangan wanita itu berkeringat dingin. Sekali lagi dia menelan salivanya kasar.


"Itu bukan pilihan Davian..."


Lelaki itu mengangkat bahu tak peduli, dia cuma perlu jawaban pasti dari Eva. Meski ini semua hanya ide gila yang baru saja lewat dalam benaknya tapi Davian cukup serius menanggapi idenya itu, seakan lelaki ini benar-benar ingin mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan. Simbol pengekang, Davian rasa akan manis jika melihat benda itu muncul di bagian tubuh tertentu dari Eva. Menunjukan kepemilikan atas wanita itu, tidak buruk juga bukan? Anggap saja ini sebuah kontrak tertulis yang sengaja dilakukan oleh dua belah pihak yang berbeda.


"Tapi aku memberi mu pilihan Eva," ucap Davian sambil menopang dagu. Lelaki ini mulai bosan karena belum mendapatkan kesepakatan yang pas dengan Eva. Terdengar Eva membuang napas lelah, perdebatan panjang dengan topik aneh ini juga lama-lama jadi menyebalkan.


"Baiklah aku ikut..." sahut Eva menyerah, lagi pula Davian hanya minta ditemani kesana tidak lebih. Wanita itu rasa kalau simbol pengekang tidak seburuk kedengarannya.


Davian menyeringai, akhir-akhir ini Eva seperti melihat raut muka yang jarang sekali tampil dari wajah Davian. Aneh. Itu bukan sebuah pertanda buruk kan? Eva harap.


Terlihat Davian beranjak dari tempatnya duduk, lelaki itu melangkahkan kaki menuju arah Eva. Eva diam memperhatikan, apa lagi yang ingin lelaki berkacamata itu lakukan. Tiba-tiba Davian berhenti, ujung kakinya membentur ujung kaki milik Eva. Wanita itu mendongak, wajah Davian terlihat dari atas; agak janggal. Senyum simpul? Davian menekukkan kaki lalu duduk diatas lantai—tepat berhadapan dengan betis Eva.


Merasa tidak nyaman, Eva berusaha menyembunyikan pahanya. Saat ini wanita itu tidak mengenakan celana panjang. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu tapi Davian saat ini dengan kurang ajarnya malah meletakan dagu tepat diatas paha terbuka Eva. Tubuh Eva meremang, dia bergerak gelisah diatas sofa. Kenapa Davian melakukan hal intim seperti ini?


"Baguslah kalau begitu," ucap lelaki itu gantung sambil mendongakkan kepala menatap Eva.


"Akan ku pasang simbolnya sekarang."


Eva lihat Davian membuat pola aneh dijarinya, lelaki itu membisikan sesuatu; bahasa aneh yang agak rumit untuk Eva pahami—


Dan tiba-tiba Eva merasakan perasaan disetrum kuat.


"Apa yang terjadi?!" adu Eva. Matanya berair, rasa sakit di sekujur tubuh membuat Eva menggeliat gila. Punggungnya lemas, membentur sandaran sofa dibelakang sana. Badan Eva mengalami kejang hebat, wanita itu bahkan sudah menangis kuat tapi anehnya—Davian terlihat sangat menikmati sosok menyedihkan Eva.


"DAVIAN SAKIT!"


Davian membalas genggaman tangan Eva, lelaki itu mengelus pelan punggung tangannya dengan lembut. Davian tersenyum simpul sambil berucap.


"Tidak apa-apa Eva, ini hanya sebentar..."


Sebuah kalimat yang tidak bisa mengembalikan ketenangan Eva. Wanita itu menangis histeris, jeritannnya semakin nyaring.


"Tidak Davian! Ini sakit?! Hentikan! Hiks... hiks..."


Tapi apa yang Eva dapat hanya sebuah keterdiaman panjang sampai wanita itu kehilangan kesadaran lalu jatuh dalam pelukan.

__ADS_1


"Ets!" Davian membawa Eva dalam rangkulan. Mereka berdua terduduk diatas lantai, beberapa detik setelah Eva menjadi tenang barulah Davian tertawa.


"Hahaha... aku tidak mengira itu berhasil." gumam Davian senang, dia melirik kecil kearah area perut Eva. Lelaki itu menyandarkan Eva kembali ke sofa. Tangannya lalu terangkat menyingkap sedikit kaos baju yang dikenakan oleh Eva, harusnya ada disitu; batin Davian penasaran.


Perut kecil yang selalu melahap berbagai macam makanan dengan rakusnya terlihat. Davian lalu menarik kecil celana pendek yang Eva kenakan hingga garis V dari pinggul wanita itu terlihat. Manik mata Davian berbinar, wajahnya senang bukan main. Ada sebuah tato disana, bentuk hati juga sayap besar yang melintang.


Eva resmi jadi milik ku.


Meski hanya raganya saja tapi tak masalah.


Sekarang Davian tak perlu pusing jika seandainya Eva menghilang lelaki itu pasti bisa menemukannya kembali bahkan jika wanita itu memilih bersembunyi didalam lubang kelinci sekali pun.


Agak kejam sih tapi Davian benar-benar girang.


"Ah~" rona merah timbul dipipinya.


Aku tidak akan kehilangan apapun lagi.


Apapun yang menjadi milik ku.


"Tak akan ada yang bisa, merebut mu lagi..."


REVA.


Deg!


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2